5 Kebiasaan Lucu Anak 90-an saat Tarawih, Nostalgia Banget!

Artikel ini mengajak pembaca bernostalgia dengan kebiasaan lucu anak 90-an saat Tarawih di bulan Ramadan, menggambarkan suasana masa kecil yang penuh keceriaan dan kebersamaan.
Diceritakan berbagai tingkah khas seperti mencari tempat salat ternyaman, berbaring di sajadah, hingga adu lantang mengucap “aamiin” bersama teman-teman sebaya.
Kisah juga menyoroti tradisi berebut tanda tangan imam di buku kegiatan Ramadan sebagai simbol kenangan manis masa kecil yang sulit dilupakan.
Membicarakan kenangan masa kecil memang selalu menjadi topik seru yang tidak ada habisnya, terutama jika membagikannya bersama teman sebaya. Bagi generasi masa lalu, bulan Ramadan berhasil menciptakan banyak memori indah yang sulit terlupakan. Pada bulan suci ini, kita merasakan kebersamaan, kebebasan, hingga berbagai kemudahan istimewa.
Momen berkumpul bersama keluarga saat sahur dan berbuka puasa menjadi kebahagiaan tersendiri. Apalagi, orang tua kerap menyajikan hidangan lezat sebagai hadiah karena kita berhasil menahan lapar seharian penuh.
Selain itu, izin bermain pada malam hari menjadi lebih mudah kita dapatkan dibandingkan hari-hari biasa. Belum lagi momen menantikan angpau dan tradisi mudik saat Lebaran, semua hal tersebut membuat kehadiran Ramadan selalu kita tunggu.
Bagi anak-anak era 90-an, ibadah salat Tarawih seolah menjadi kegiatan wajib setiap malam. Namun, misi utamanya tentu saja untuk bermain dan bersenang-senang bersama teman, bukan? Untuk membangkitkan kembali kenangan masa lalu, berikut adalah lima kelakuan lucu anak 90-an saat mengikuti Tarawih. Mari bernostalgia!
1. Berburu tempat salat ternyaman

Mencari tempat ternyaman atau istilahnya ter-PW, menjadi momen yang dilakukan anak 90-an setiap sorenya. Untuk mendapatkannya, tak jarang sehabis waktu berbuka, kamu bergegas kembali ke masjid untuk mencari spot terbaik tersebut. Gak jarang pula kamu dan teman sepermainanmu menjadi orang pertama yang datang.
Bagian belakang tentunya menjadi spot istimewa, bukan? Namun, seringkali hal ini membuat jengkel para jamaah lain karena kamu dan teman-teman yang kekeh mengisi barisan belakang tanpa memedulikan bagian depan yang masih kosong. Hayo ngaku, siapa yang demikian?
2. Berbaring di atas sajadah saat orang-orang salat

Berbaring saat teman atau jemaah lain menjalankan Tarawih tak jarang menjadi salah satu kebiasaan yang dulu sering kamu lakukan. Tak hanya ketika di sampingmu berisi teman-temanmu melainkan juga saat di sampingmu adalah orangtuamu nyatanya kebiasaan ini tetap kamu lakukan, bukan?
Dengan dalih lelah dan ingin istirahat sejenak, kamu seringkali berbaring diatas sajadah sembari melihat jamaah lain. Tentunya apabila di sampingmu adalah temanmu, pasti akan menjadi momen tahan tawa. Hayo, betul bukan?
3. Mengucap "Aamiin" paling lantang

Momen lain yang seringkali kamu lakukan saat salat Tarawih adalah mengucap "aamiin" dengan suara paling lantang baik dalam salat ataupun saat berdoa. Momen ini seolah menjadi momen adu lantang antara kamu dengan teman-temanmu dan setelahnya membuatmu dan teman-temanmu tertawa dengan tertahan.
Meski telah berungkali diingatkan, nyatanya kamu serta teman-temanmu hanya berhenti sebentar. Setelahnya? Mengulangi kembali di rakaat berikutnya, bukan?
4. Salat diawal dan diakhir rakaat terawih

Salah satu kebiasaan yang dulu sering kamu lakukan adalah salat diawal dan diakhir rakaat saja. Dengan alasan lelah, hanya rakaat-rakaat tertentu yang kamu kerjakan. Seperti salat isya, salat Tarawih waktu awal dan akhir serta witir. Selebihnya? Tentunya menjadi momen bermain, bercanda ataupun bercerita dengan teman sebelahmu.
Meski demikian, tak jarang kebiasaan ini membuat kamu ditegur oleh orang sekitarmu atau sanak saudaramu. Dengan sedikit rasa segan dan takut diadukan pada orangtua, tentunya kita akan berdiri untuk salat. Namun, pada rakaat berikutnya nasihat tersebut seolah lenyap, bukan?
5. Berebut tanda-tangan imam

Saat kecil, buku kegiatan Ramadan seolah buku ajaib yang membuat kegiatan Ramadanmu lebih baik dan lebih tertata. Tapi, gak jarang pula membuatmu jengkel karena harus menunggu tanda tangan imam selepas Tarawih serta mencatat apabila ada ceramah.
Meski demikian, buku kegiatan Ramadan ini menjadi kunci nostalgia Ramadan saat kecil, bukan? Waktu dimana berebut tanda tangan imam serta waktu mencatat ceramah menjadi momen yang selalu dikenang dan ingin diulang saat ini. Di akhir Ramadan tentunya menjadi momen saling memamerkan hasil selama satu bulan. Lantas, bagaimana dengan hasilmu dulu?
Beragam kenangan manis seputar Ramadan memang selalu menempel kuat di memori anak 90-an. Tidak jarang, momen-momen lucu ini menjadi bahan cerita dan candaan saat reuni dengan kawan lama pada perayaan Idulfitri. Kalau kamu sendiri, memori Ramadan apa yang paling sulit terlupakan?


















