Punya 30 Lapangan, Semarang Bidik Status Pusat Padel Indonesia

- Pemkot Semarang membidik kota ini sebagai pusat pengembangan padel Indonesia, didukung 30 lapangan yang menjadi modal awal membangun ekosistem olahraga tersebut.
- Wali Kota Agustina Wilujeng menekankan pertumbuhan fasilitas harus diiringi lapangan yang aktif, kompetisi rutin, penguatan komunitas, serta lahirnya lebih banyak atlet.
- Turnamen Piala Wali Kota Semarang 2026 memasukkan kategori KU-14 putra-putri untuk mendorong regenerasi; kompetisi usia muda akan diperbanyak demi jam terbang dan pembinaan jelas.
Semarang, IDN Times - Pemerintah Kota Semarang mulai membidik ambisi lebih besar dengan menjadikan Ibu Kota Jawa Tengah sebagai salah satu pusat pengembangan padel di Indonesia. Upaya itu karena hingga saat ini sebanyak 30 lapangan padel telah berdiri di Kota Semarang.
1. Lapangan padel jadi modal awal bangun ekosistem

Aktris penghobi padel, Sintya Marisca dan pemain padel profesional, Zar Lasahido bersama masyarakat bertanding padel di Durian Padel di Jalan Durian Utara III, Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, pertumbuhan fasilitas harus berjalan beriringan dengan kompetisi, pembinaan atlet, dan penguatan komunitas.
“Saya berharap padel di Kota Semarang ini terus tumbuh. Tidak hanya atletnya menjadi banyak, tetapi menjadi olahraga yang diminati sehingga lapangan padelnya laku keras. Karena lapangan padel di Kota Semarang sudah sampai 30,” ujarnya saat menghadiri Closing Ceremony Turnamen Padel Piala Wali Kota Semarang 2026, Minggu (30/8/2026).
Bagi Agustina, keberadaan puluhan lapangan tersebut merupakan modal awal untuk membangun ekosistem. Tantangannya kini bukan hanya menambah fasilitas, tetapi memastikan lapangan terisi, kompetisi rutin digelar, dan semakin banyak atlet lahir dari Semarang.
2. Dorong regenerasi atlet padel

Penggemar olahraga padel mengikuti turnamen Iris Serve & Smash di Main Padel Semarang, Sabtu (10/1/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Salah satu indikator yang ingin didorong adalah regenerasi. Seperti Turnamen Piala Wali Kota Semarang 2026 yang digelar tersebut, tidak hanya mempertandingkan kategori dewasa, tetapi juga Kelompok Umur (KU)-14 putra dan putri.
Agustina menilai, kategori usia tersebut penting karena pemain-pemain muda hari ini berpotensi menjadi atlet berprestasi pada masa mendatang.
“Kelompok usia 14 putra dan putri inilah yang nantinya akan menjadi harapan untuk bisa berada di dalam posisi atlet berprestasi,” katanya.
3. Perlu memperbanyak kompetisi
Aktris penghobi padel, Sintya Marisca dan pemain padel profesional, Zar Lasahido bersama masyarakat bertanding padel di Durian Padel di Jalan Durian Utara III, Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Ia berharap kategori usia muda tidak berhenti sebagai pelengkap turnamen. Semarang perlu memperbanyak kompetisi agar atlet muda memiliki jam terbang dan jalur pembinaan yang jelas.
“Kelompok usia 14 putra dan putri ini juga nanti akan dikembangkan di banyak turnamen yang akan dilaksanakan di Kota Semarang,” ujar Agustina.
Dengan pola tersebut, pertumbuhan padel di Semarang diharapkan tidak berhenti pada fenomena bertambahnya pemain rekreasional dan lapangan baru. Kota ini mulai diarahkan memiliki rantai ekosistem yang lengkap, dari pemain pemula, komunitas, kompetisi, hingga atlet prestasi.














