Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fenomena Es Ubi Ungu di Wangon Ludes 300 Cup, Beli Pakai Tiket Antrean
Membaca peluang bisnis, Es Ubi Ungu di Banyumas, tepatnya di Wangon laris manis hingga antrian menjelang buka puasa ramadan, Minggu (1/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Fenomena es krimi ubi ungu di Wangon menarik perhatian warga Banyumas dan Cilacap, dengan sistem antrean tiket karena penjualan mencapai lebih dari 300 cup setiap hari selama Ramadan.
  • Ide jualan ini muncul dari obrolan santai Nisfi dan teman-temannya, yang kemudian sukses berkat rasa unik, kemasan menarik, serta manajemen antrean yang rapi di lapak serba ungu tersebut.
  • Bahan baku ubi ungu dibeli langsung dari petani lokal, menjadikan usaha ini tak hanya tren kuliner viral tetapi juga bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyumas, IDN Times - Menjelang pukul 15.00 WIB, suasana di Jalan Raya Selatan Wangon, Banyumas sudah tampak berbeda, dimana sebuah lapak serba ungu berdiri mencolok di tepi jalan. Padahal waktu berbuka puasa masih lama, namun puluhan orang sudah memegang tiket antrean. Mereka menunggu giliran membeli es krimi ubi ungu yang belakangan viral di kalangan warga Banyumas Barat dan Cilacap.

Uniknya, pembeli tak lagi hanya berdiri mengular. Mereka membawa tiket antrean sebuah sistem yang sengaja diterapkan setelah hari pertama jualan sempat kewalahan akibat banyaknya pembeli.

“Awalnya kita nggak pakai tiket, hari pertama buka, ternyata peminatnya membludak, banyak yang antre tapi ada yang terlewat, jadi biar nggak keteteran sekarang pakai tiket,"ujar Nisfiah Romadoni Umi Latifah, yang akrab disapa Nisfi, saat ditemui di sela melayani pembeli kepada IDN Times, Minggu (1/3/2026).

1. Ide berawal dari kebiasaan kumpul di bulan Ramadan

Nisfi, salah satu owner es ubi ungi krimi di Wangon mengaku gembira ide jualannya laris dengan dukungan keluarga dan teman temannya, Minggu (1/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Nisfi bercerita, ide berjualan es krimi ubi ungu lahir dari obrolan santai bersama teman temannya. Mereka ingin mencoba peruntungan dimomen Ramadan dengan sesuatu yang sedang ramai dibicarakan.

“Ini ide dari perkumpulan teman teman, kita sering kumpul bareng, terus kepikiran jualan saat Ramadan, akhirnya sepakat pilih es ubi ungu krimi karena lagi ramai,'katanya.

Keputusan itu ternyata tepat, dalam sehari, mereka bisa menjual lebih dari 300 cup. Lapak mulai buka pukul 15.00 WIB, namun antrean sering kali sudah terbentuk sebelumnya. Lima karyawan dikerahkan untuk melayani pembeli yang terus berdatangan.

“Senang sekali bisa interaksi sama banyak orang, lihat orang orang pada senang dengan jualan saya itu rasanya puas,"tambah Nisfi, gadis yang baru lulus sekolah tahun lalu.

2. Bahan baku ubi ungu dibeli dari petani sekitar

Tampilan es ubi ungu krimi yang dibalut dengan toping coklat, biskuit manis, dan keju menambah daya tarik rasa dari ubi petani sekitar, Minggu (1/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Tak hanya menjual tren, Nisfi dan timnya juga memberdayakan petani lokal. Menurutnya ubi ungu yang digunakan dibeli dari petani di sekitar rumahnya. "Biar sama sama jalan kita jualan, petani juga kebantu,"ujarnya.

Bagi Nisfi dan kawan-kawan, Ramadan tahun ini bukan hanya soal berburu takjil, tetapi juga tentang keberanian mencoba ide baru yang ternyata disambut hangat oleh warga pencinta kuliner berbuka puasa.

Fenomena es ubi ungu krimi ini menunjukkan bagaimana kreativitas sederhana anak muda kreatif bisa menjelma peluang usaha menjanjikan, terutama di bulan Ramadan. Kombinasi rasa unik, harga terjangkau, kemasan menarik, serta manajemen antrean yang rapi membuat lapak kecil di pinggir Jalan Raya Selatan Wangon itu selalu ramai.

3. Pemburu takjil penasaran, beli gunakan sistem antrian tiket

Ida Laila, yang penasaran dengan rasa es ubi ungu krimi yang harus rela antri dengan tiket untuk membeli dua cup es ubi ungu, Minggu (1/3/20206).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Salah satu pembeli, Ida Laila, warga setempat, tampak memegang tiket nomor 90. Ia mengaku penasaran setelah melihat banyak orang berhenti di lapak tersebut."Tahu dari orang orang yang lewat. kayaknya enak, baru pertama kali beli ini, mau coba dua dulu,"ujarnya.

Menurut Ida, sistem tiket membuat suasana lebih tertib. "Biar nggak keteteran, jadi nunggu juga enak, bisa ditinggal sebentar,"katanya sambil tersenyum.

Harga es krimi ini pun terbilang ramah di kantong, mulai dari Rp6.000 untuk varian original. Selain original, tersedia juga topping seperti cokelat dan keju. Cup kemasannya didominasi warna ungu cerah, selaras dengan bahan utamanya.

4. Resep sederhana es ubi ungu yang jadi fenomena takjil

Ubi ungu yang telah dimasak dan dilembut kemudian ditambahkan susu cair sebagai bahan utama sajian es ubi ungu krimi, Minggu (1/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Dikutip dari berbagai sumber, ubi ungu dikenal kaya akan antioksidan, khususnya antosianin yang memberi warna ungu alami, kandungan tersebut dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh, baik untuk pencernaan karena tinggi serat, serta memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan beberapa jenis karbohidrat lain cocok sebagai pilihan takjil yang lebih sehat.

Bagi kamu yang penasaran ingin mencoba di rumah, berikut gambaran resep ala lapak Wangon ini:

Bahan utama:

  • Ubi ungu segar, dikukus lalu dihaluskan hingga lembut

  • Susu kental manis

  • Susu cair

  • Krim (whipping cream atau krim kental)

Cara membuat:

  1. Kukus ubi ungu hingga matang, lalu haluskan sampai benar-benar lembut.

  2. Campurkan ubi dengan susu kental manis dan susu cair secukupnya.

  3. Tambahkan krim untuk menciptakan tekstur creamy.

  4. Aduk rata hingga adonan halus dan tercampur sempurna.

  5. Tuang ke dalam cup, beri topping sesuai selera seperti cokelat leleh atau meses.

  6. Bekukan hingga set dan siap disajikan.

Hasilnya adalah es krimi dengan rasa manis lembut, aroma khas ubi, dan warna ungu alami yang menggoda. Sensasi creamy berpadu dengan legitnya ubi menjadikannya takjil yang pas dinikmati saat berbuka.

Editorial Team