Pernikahan Unik di Banyumas: Konsep Ruang Sidang Terbuka di Hotel

- Pernikahan sejalan dengan prinsip hukum
- Tanpa undangan eksklusif
- Wedding konsultan sebut pengalaman berharga ditambah lagu khusus
Banyumas, IDN Times — Aula Luminor Purwokerto tampak berbeda dari biasanya. Tata panggung menyerupai ruang sidang dengan nuansa formal yang kuat. Prosesi berjalan tertib, sistematis, dan serius layaknya sebuah persidangan terbuka.
Namun pada hari itu, Sabtu (14/2/2026), prosesi tersebut tidak mengesahkan putusan perkara, melainkan melangsungkan akad nikah putri advokat Djoko Susanto bernama Farahdiska Citra Luthfiani dengan Oriz Amalda. Kedua mempelai itu berprofesi sebagai guru. Konsep pernikahan tersebut menyita perhatian publik karena tidak umum terjadi di Banyumas.
Sejak pagi hingga sore hari, para tamu tampak memadati lokasi acara. Sejumlah tokoh dan pejabat daerah Banyumas turut hadir, termasuk Sekretaris Daerah Kabupaten Banyumas, Agus Nur Hadie.
1. Pernikahan itu sejalan dengan prinsip hukum

Djoko Susanto, advokat senior dengan pengalaman hampir 26 tahun di dunia hukum, memiliki alasan tersendiri dalam memilih konsep sidang terbuka itu. Ia menyebut ruang sidang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.
Bagi Djoko, pernikahan memiliki makna yang sejalan dengan prinsip hukum, yakni kepastian, tanggung jawab, dan komitmen yang diucapkan secara resmi di hadapan para saksi.
"Ini konsep yang sederhana dan minimalis. Saya ingin menunjukkan bahwa advokat tidak harus identik dengan kehidupan glamor. Kesederhanaan juga bisa menjadi pilihan," ujarnya kepada IDN Times.
Ia menegaskan, konsep tersebut bukanlah upaya untuk menonjolkan profesinya, melainkan simbol nilai kehidupan yang ingin ia wariskan kepada anak-anaknya. "Artinya, banyak proses yang harus dilalui dalam hidup," katanya.
2. Tanpa undangan eksklusif

Djoko mengakui momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga sekaligus emosional. "Sebagai ayah yang sangat dekat dengan anak perempuan, tentu ada rasa haru. Ada rasa seperti kehilangan, tetapi perasaan itu terbayar dengan kebahagiaan melihatnya membangun rumah tangga," tuturnya.
Karena Farahdiska juga berprofesi sebagai pendidik, Djoko ingin pernikahan ini memberikan pesan moral tentang kehidupan yang sederhana dan tidak berlebihan.
"Ini bukan soal irit atau mahal, kami ingin menunjukkan bahwa pernikahan tidak harus super mewah. Apa adanya saja, yang penting maknanya," tegas Djoko.
Menariknya, keluarga menggelar acara tersebut tanpa undangan eksklusif yang terlalu selektif. Pantauan IDN Times di lapangan, banyak tamu hadir karena relasi, jaringan pertemanan, serta informasi yang menyebar dari mulut ke mulut.
Kehadiran ribuan tamu, termasuk para pejabat dan tokoh masyarakat, menunjukkan bahwa konsep sederhana sama sekali tidak mengurangi antusiasme publik.
3. Wedding konsultan sebut pengalaman berharga ditambah lagu khusus

Konsultan pernikahan (wedding consultant) dari Luminor, Okky, mengaku sempat terkejut saat pertama kali menerima konsep tersebut.
"Awalnya saya cukup takjub (amaze) karena selama menangani pernikahan, belum pernah ada konsep seperti ini. Kami harus berdiskusi beberapa kali agar formalitasnya terasa, tetapi kesakralannya tetap terjaga," kata Okky.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara atmosfer ruang sidang yang identik dengan ketegasan dan suasana pernikahan yang hangat. "Formalnya terasa, tetapi tetap unik (out of the box) dan tidak menghilangkan makna pernikahan itu sendiri," ujarnya.
Okky menambahkan, panitia juga menghadirkan unsur personal melalui alunan musik. Lagu dengan lirik khusus yang menceritakan Farahdiska dan Oriz mengalun selama acara sehingga menambah kedalaman emosional di tengah suasana formal.
"Ini spesial karena ada lagu tentang pengantin yang enak didengar (easy listening). Saya sempat kaget juga, oh ternyata ini lagu khusus," ujarnya.
















