Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Film Pocong Merah, Kisah Nyata Teror dari Tanah Banyumas

Film Pocong Merah, Kisah Nyata Teror dari Tanah Banyumas
Wajah wajah dibalik teror “Pocong Merah”, bukan cuma bikin merinding di layar, namun hangat dan akrab saat meet and greet bareng penonton Purwokerto, Kamis (19/2/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
Intinya Sih

  • Film "Pocong Merah" mengisahkan teror keluarga akibat pindah rumah di Purwokerto, dengan sentuhan lokal Banyumas.

  • Dua masa yang berbeda menjadi satu dalam dendam kesumat, dengan adegan flashback yang menegangkan.

  • Film ini mengangkat kisah nyata dari Tanah Jawa dan menggunakan kearifan lokal sebagai strategi menarik minat penonton.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Purwokerto, IDN Times - Film horor terbaru “Pocong Merah” siap menghantui layar lebar sekaligus menyapa langsung penontonnya lewat agenda Cinema Visit, Meet and Greet di Purwokerto dan Cilacap, 19-20 Februari 2026. Tidak hanya nonton bareng, roadshow ini menjadi ajang temu eksklusif antara penonton dengan para pemain serta sutradara.

Tiga bioskop dipilih sebagai lokasi pemutaran spesial yaknj CGV Rita Supermall Purwokerto, Rajawali Cinema Purwokerto, dan Dakota Cinema Cilacap. Di sana, penonton diajak merasakan pengalaman penuh menyaksikan teror di dalam studio, lalu berdiskusi dan berfoto bersama para cast usai film berakhir.

Yang membuat film ini terasa berbeda, “Pocong Merah” lahir dari tangan sutradara asli Ajibarang, Banyumas,Hendra Lee, dengan latar syuting 100 persen di wilayah Banyumas. Sentuhan lokal terasa kuat, mulai dari logat, lanskap kebun jagung, hingga kisah urban legend yang menjadi fondasi ceritanya.

1. Kisah seram teror keluarga yang berawal dari pindah rumah

idntimes.com
Ferdian Aryadi, aktor yang berperan sebagai Reihan, sosok Ayah yang pindah bersama keluarga ke Purwokerto namun nahas keluarganya mendapat teror mengerikan, Kamis (19/2/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Dalam film ini, aktor Ferdian Aryadi memerankan Reihan, seorang insinyur sekaligus family man yang menerima proyek di Purwokerto. Ia membawa serta keluarganya pindah ke rumah baru di kota tersebut. Namun sejak kepindahan itu, rentetan teror mulai terjadi.

"Di film ini saya jadi Reihan, seorang ayah yang peduli keluarga. Awalnya semua baik baik saja, tapi setelah pindah, banyak tragedi terjadi. Rumah yang kami tempati ternyata punya sejarah kelam,"ujar Ferdian kepada IDN Times.

Menurutnya, rumah tersebut berkaitan dengan praktik ilmu gaib masa lampau. Teror tak hanya berupa gangguan supranatural, tetapi juga konflik batin dalam keluarga. Bahkan, ia membocorkan bahwa ada korban jiwa di antara anggota keluarga dalam cerita tersebut.

Ferdian menyebut lokasi syuting di kawasan kebun jagung Ajibarang menyimpan cerita lama yang dipercaya warga sebagai kisah nyata. Konon, di tempat itu pernah terjadi pembunuhan terhadap seorang perempuan hamil di luar nikah yang kemudian dimutilasi dan dikubur secara tidak layak.

"Korelasi dengan Pocong Merah itu karena saat dikafani, darahnya terus keluar akibat mutilasi. Jadi pocongnya terlihat merah, bukan karena kainnya merah,"katanya.

2. Dua masa menjadi satu dendam kesumat

idntimes.com
Kisah teror berawal dari sini, saat tokoh Nadia hendak meminta bantuan ustadz namun ditengah perjalanan menghadapi kisah mistis, Kamis (19/2/2026).(IDN Times/Tangkapan layar)

Film ini menghadirkan dua latar waktu era 1999 dan era 2000-an. Pada era lampau, dikisahkan seorang perempuan bernama Katiem dituduh menjalankan ritual negatif dan dihakimi massa hingga tewas secara tragis. Sementara di era modern, keluarga Rehan menjadi pihak yang merasakan dampak dari dendam arwah tersebut.

Adegan flashback menjadi salah satu bagian paling menegangkan. Dalam satu momen, seorang figuran dilaporkan sempat mengalami kerasukan saat proses syuting adegan pembunuhan. Kru menyebut suasana lokasi terasa mencekam, terlebih karena syuting dilakukan saat musim hujan dengan waktu produksi terbatas.

"Proses syutingnya sekitar 10 hari, pengembangan skenario satu bulan, dan editing tiga bulan. Total sekitar lima bulan sampai film ini siap tayang,"jelas Hendra Lee sang sutradara asal Ajibarang, Banyumas.

3. Mengangkat kisah nyata tanah Jawa

idntimes.com
Hendra Lee, sutradara asal Ajibarang, Banyumas yang mengangkat kisah nyata dalam film pocong merah, Kamis (19/2/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Hendra menegaskan bahwa “Pocong Merah” terinspirasi dari kisah nyata di Tanah Jawa tentang seorang dukun santet yang dibunuh dan dimutilasi. Ia ingin menghadirkan horor yang tidak hanya menakutkan secara visual, tetapi juga menyentuh aspek sosial: penghakiman massa dan fitnah.

"Merahnya bukan dari kain kafan, tetap putih seperti biasa. Tapi karena tubuhnya dipotong potong dan darahnya bercucuran, itulah asal nama Pocong Merah,"ujar Hendra.

Sebagai putra daerah, ia sengaja memilih Banyumas sebagai lokasi roadshow perdana. Baginya, film ini adalah karya “Wong Edek” untuk masyarakat Banyumas.

4. Kearifan lokal menjadi strategi menarik minat penonton

idntimes.com
Para pencinta film horor di Banyumas saat mulai memadati CGV Cinema untuk menyaksikan Pocong Merah,Kamis (19/2/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Adi Mulyadi, tim marketing komunikasi film ini, menyebut Purwokerto sebagai market utama. Menurutnya, figur Hendra yang dikenal sebagai konten kreator sejak 2014 memiliki basis audiens lokal yang kuat.

"Syutingnya di Purwokerto, talent banyak dari sini, sutradaranya juga orang sini, jadi wajar kalau penayangan perdana kita fokuskan di sini dulu sebelum ke kota lain,"ujarnya.

Strategi ini diharapkan mampu membangun kebanggaan lokal sekaligus memperluas jangkauan film ke daerah lain.

5. Penonton sebut sebagai pesan moral agar jangan asal tuduh

idntimes.com
Neti, salah satu penonton film pocong merah di CGV cinema sebut ada pesan mendalam agar masyarakat menerima informasi dengan benar dan tidak asal tuduh, Kamis (19/2/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Bagi sebagian penonton, "Pocong Merah" bukan hanya film horor. Ibu Neti, warga Purwokerto yang hadir dalam pemutaran, mengaku terkesan dengan pesan moralnya.

"Pesannya mungkin jangan asal menuduh sebelum dikonfirmasi, karena tuduhan itu bisa berujung fatal,"katanya.

Lewat balutan teror dan dendam arwah, film ini menyiratkan kritik terhadap budaya main hakim sendiri dan penyebaran kabar tanpa verifikasi.

Menurut Neti, dengan atmosfer mencekam, latar lokal yang kental, serta kisah yang diklaim berakar dari peristiwa nyata, “Pocong Merah” tak hanya menawarkan jumpscare, tetapi juga refleksi sosial.

"Bagi warga disini, roadshow ini menjadi momen langka sebenarnya , menyaksikan film horor dari kampung sendiri bersama para pembuatnya langsung,"pungkasnya.

Share
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More