Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Makna dan Filosofi Kuliner Senen Pon ala Advokat Djoko Susanto
Menu kuliner rumahan harian di klinik hukum Purwokerto, hari Senen Pon sayur kangkung, sayur mie dan tahu goreng serta pisang goreng, Senin (11/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Tradisi kuliner Senen Pon di Banyumas mencerminkan nilai spiritual dan kesederhanaan hidup, dengan masyarakat memilih makanan sederhana sebagai simbol ketenangan dan pengendalian diri.

  • Advokat Djoko Susanto menilai menu seperti sayur kangkung, sayur mie, tahu goreng, dan pisang goreng memiliki filosofi mendalam tentang fleksibilitas, panjang umur, kerendahan hati, serta kebersamaan.

  • Hidangan-hidangan rumahan ini tetap populer lintas generasi karena menghadirkan rasa nostalgia, kehangatan keluarga, dan makna budaya yang melekat dalam keseharian masyarakat Purwokerto.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyumas, IDN Times - Tradisi kuliner masyarakat profesional di kota Purwokerto tidak hanya rasa, namun dibalik itu ada hidangan sederhana, yang menyimpan nilai budaya, filosofi hidup, hingga cara masyarakat memaknai keseharian.

Hal itu terlihat dalam kebiasaan kuliner Senen Pon yang identik dengan menu sederhana seperti sayur kangkung, sayur mie, tahu goreng, hingga pisang goreng.

Bagi Advokat Djoko Susanto, kepada IDN Times, Senin (11/5/2026) menu tersebut menurutnya bukan hanya makanan rumahan biasa, namun ada makna ketenangan, kesederhanaan, dan kebersamaan yang melekat dalam setiap sajian.

1. Senen Pon dan tradisi menjaga kesederhanaan

Djoko Susanto (kaos merah) bersama pencinta kuliner Purwokerto memanfaatkan hari tersebut untuk menjaga ketenangan diri, mengurangi hal hal berlebihan, Senin (11/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Dalam penanggalan Jawa, Senen Pon dipercaya sebagai momentum yang sarat makna spiritual. Sebagian masyarakat di Banyumas memanfaatkan hari tersebut untuk menjaga ketenangan diri, mengurangi hal hal berlebihan, hingga memilih makanan sederhana sebagai simbol pengendalian hidup.

Karena itu, kuliner yang hadir biasanya jauh dari kesan mewah. Namun justru dari kesederhanaan itulah muncul rasa nyaman yang sulit tergantikan.

"Kadang makanan sederhana justru membuat suasana hati lebih tenang dan terasa dekat dengan keluarga,"ungkap Djoko Susanto saat berbincang mengenai kebiasaan kuliner Senen Pon.

2. Sayur kangkung, simbol kehidupan yang fleksibel

Sayur kangkung yang populer juga jadi sajian rutin senin pon bagi klien di klinik hukum Purwokerto, Senin (11/5/2026).(IDN Times/Tangkapan layar)

Sayur kangkung menjadi salah satu menu yang identik dengan masyarakat desa desa di Banyumas. Tanaman yang mudah tumbuh di berbagai tempat itu dianggap melambangkan kemampuan manusia untuk bertahan dan beradaptasi dalam berbagai situasi kehidupan.

Kuahnya yang ringan membuat hidangan ini cocok disantap malam hari atau setelah aktivitas panjang. Tidak sedikit penikmat kuliner tradisional yang menyebut sayur kangkung sebagai makanan “penenang perut” karena terasa hangat namun tidak berat.

Dikalangan pecinta kuliner rumahan, menu seperti cah kangkung ini populer lintas usia, mulai dari pekerja kantoran, petani, hingga generasi muda yang mulai kembali mencari cita rasa tradisional.

2. Sayur mie fiosofi harapan hidup yang panjang

Sayur mie, dalam budaya asia menurut Djoko Susanto memiliki filosofi pengharapan hidup yang panjang, Senin (11/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Sementara itu, sayur mie bagi Djoko Susanto yang biasa ajak makan warga sekitar menyebut memiliki filosofi tentang panjang umur dan keberlanjutan rezeki. Dalam banyak budaya di Asia, mie memang kerap dihubungkan dengan harapan hidup yang panjang.

"Saat dipadukan dengan kuah sederhana, menu ini menghadirkan rasa nostalgia yang kuat. Bagi sebagian orang, aroma sayur mie mengingatkan pada suasana dapur rumah dan kebersamaan keluarga,"selorohnya.

Hidangan ini paling cocok disantap saat pagi atau cuaca dingin karena memberikan sensasi hangat yang menenangkan.

3. Tahu goreng dan nilai kerendahan hati

Filosofi sayur dan Tahu goreng dihari senin Pon menurut advokat kondang Banyumas bermakna tentang kerendahan hati, Senin (11/5/2026).(IDN Times/Tangkapan layar)

Di meja makan masyarakat rumahan, tahu goreng hampir selalu hadir sebagai pelengkap. Murah, sederhana, namun bisa dinikmati semua kalangan.

"Dalam filosofi Jawa, sayur dan Tahu goreng menggambarkan kerendahan hati, tampak sederhana di luar, tetapi memiliki isi yang lembut dan kaya manfaat,"ujar Djoko.

Ditambahkan, teksturnya yang renyah juga membuat tahu goreng menjadi favorit lintas generasi. Bahkan hingga kini, menu tersebut tetap bertahan di tengah maraknya makanan cepat saji modern.

4. Pisang goreng, simbol kebersamaan yang tak lekang waktu

Pisang goreng menjadi simbol makanan kehangatan keluarga terutama saat momen hari senin pon, Senin (11/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Jika makanan utama identik dengan ketenangan, maka pisang goreng menjadi simbol suasana santai dan kehangatan keluarga.

Pisang goreng paling nikmat disantap sore hari bersama kopi atau teh hangat. Di banyak daerah Jawa, camilan ini identik dengan obrolan ringan di teras rumah, tempat keluarga berbagi cerita selepas aktivitas sehari hari.

Tak heran jika pisang goreng tetap menjadi salah satu camilan paling populer di Indonesia. Penggemarnya berasal dari semua kelompok usia, dari anak anak hingga orang tua.

Bagi Djoko Susanto, makanan seperti sayur kangkung, sayur mie, tahu goreng, dan pisang goreng menu ketenangan hidup yang sering melahirkan dari hal sederhana yang dinikmati bersama orang terdekat.

Editorial Team