Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dari Buku Diary, Ellena Berhasil Wujudkan Cita-cita Jadi Psikolog

IMG_20260128_134828.jpg
Dua mahasiswa profesi psikolog Unika Soegijapranata atau SCU, Ellena Ayu Susanto dan Faradiba Anugrah Kaay bercerita tentang seluk-beluk tantangan berkuliah di Fakultas Psikologi SCU. (IDN Times/Fariz Fardianto).

Semarang, IDN Times - Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Kalau perlu benamkanlah menjadi sebuah untaian tulisan di dalam buku. 

Sepenggal kalimat tersebut rupanya benar-benar menggambarkan perjalanan hidup Ellena. Ellena tak menyangka guratan tulisannya sewaktu sekolah dasar bisa menjadi kenyataan. 

Ellena hari ini, Kamis (29/1/2026), menjadi salah satu mahasiswi program profesi psikolog yang menjalani sumpah profesi di kampus Unika Soegijapranata atau SCU. 

"Saya terpanggil menjadi psikolog karena pas SD saya iseng-iseng menulis di buku tentang cita-cita saya. Nyatanya pas kuliah di SCU bisa jadi psikolog beneran," kata perempuan bernama lengkap Ellena Ayu Susanto ini, Kamis (29/1/2026). 

Siang ini ia resmi menjadi lulusan profesi psikolog termuda. Sebelum menjalani sumpah profesi, ia pun rutin menyambangi masyarakat. 

Menjadi seorang psikolog juga mengubah pandangannya bahwa kesehatan mental tak melulu dikonsultasikan. Melainkan juga harus langsung menyapa orang-orang yang membutuhkan bantuan. 

Bahkan ia pernah menyambangi para lansia di panti wreda untuk sekedar berbincang dengan mereka. Mengulik keluh kesah para lansia sampai bertukar cerita pengalaman masing-masing. 

"Waktu terjun ke masyarakat, saya tidak hanya jadi psikolog, tapi juga jadi cucu, jadi dokter dan sebagainya. Saat saya berpraktek di panti wreda, saya benar-benar merasakan kehidupan disana. Saya ikut bantu ganti popok. Jadi benar-benar merasakan perjumpaan dengan masyarakat segala lapisan," tuturnya. 

Faradiba Anugrah Kaay, seorang mahasiswi profesi psikolog SCU juga berkesempatan menjalani sumpah profesi. 

Farah merupakan mahasiswi dari Wamena Papua Pegunungan. "Saya milih kuliah di psikologi karena di Papua sama sekali tidak ada pendampingan untuk kesehatan mental. Padahal kondisi di sana memang butuh pendampingan," jelasnya.

"Makanya ketika beberapa tahun terakhir Unika buka program profesi, saya langsung daftar," tambahnya. 

Lulusan profesi psikolog SCU angkatan pertama dari ragam latar belakang

Fakultas Psikologi SCU juga berkomitmen mewujudkan kesehatan mental yang merata di Indonesia dengan menerima mahasiswa dari berbagai pulau yang nantinya akan kembali mengabdi sebagai psikolog di daerah asal. 

Angkatan pertama ini memiliki lulusan yang cukup beragam daerah. Mulai Papua, Nusa Tenggara, Maluku, Kalimantan, Bali, Sumatra, dan Jawa. Latar belakang mereka  beragam, mulai dari pemilik sekolah, penggerak komunitas, terapis anak, hingga biarawati. Kergaman budaya dan latar belakang ini menjadi kekuatan dan kekhasan pembelajaran di pendidikan profesi SCU yang berusaha memahami manusia dengan pendekatan biopsikososial.

Sebelumnya mereka telah menempuh proses pendidikan selama tiga semester yang mencakup satu semester teori dan dua semester praktik layanan psikologi di lapangan. Di semester 4, mereka menjalani serangkaian Uji Kompetensi Profesi Psikolog Umum dengan HIMPSI dan dinyatakan layak sebagai psikolog.

Dekan Fakultas Psikologi SCU, Kristiana Haryanti membenarkan bahwa para mahasiswa profesi psikologi harus praktek di bidang kesehatan dan komunitas. 

Sekarang ini ada puluhan mahasiswa psikologi yang berpraktek komunitas dan kesehatan. Lulusan psikologi nantinya diarahkan untuk pemulihan kesehatan mental. 

"Sehingga psikologi ini merupakan ilmu jiwa yang bersifat individual. Artinya lulusan profesi psikologi dibutuhkan masyarakat bahkan pemerintah juga punya program puskesmas yang membutuhkan profesi kesana," tutur Kristiana. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest Life Jawa Tengah

See More

Dari Buku Diary, Ellena Berhasil Wujudkan Cita-cita Jadi Psikolog

29 Jan 2026, 12:43 WIBLife