Penyebab Harga Plastik di Jateng Naik Ugal-ugalan Hingga 300 Persen

- Harga plastik di Jawa Tengah melonjak hingga 300 persen akibat dampak perang Iran-Israel-AS yang mengganggu pasokan bahan baku impor berbasis minyak.
- Distributor berupaya menekan harga dengan menghemat bahan baku dan mengeluarkan stok gudang, sementara pedagang pasar mulai merasakan lonjakan harga signifikan.
- Pemerintah daerah kembali mengimbau warga kurangi penggunaan plastik sekali pakai serta mendorong alternatif seperti tumbler dan totebag meski bioplastik lokal masih berbiaya tinggi.
Semarang, IDN Times - Perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat berdampak luas pada penyediaan komoditas bersumber dari minyak. Di Jawa Tengah harga plastik naik drastis hingga 300 persen lantaran terpengaruh pasokan bahan baku yang masih diimpor.
Table of Content
1. Distributor pilih keluarkan stok barang

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah Jully Emmylia mengatakan rata-rata supliyer lokal telah menaikan harga plastik konvensional alias plastik kresek sekitar 300 persen dari harga normal.
Namun ia menekankan beberapa distributor masih berusaha menekan harga dengan menghemat bahan baku sembari mengeluarkan stok dari gudang.
"Kalau plastik (harganya) memang ada kenaikan 300 persen di suplayer lokal. Cuman dari perusahaan distributor masih berusaha menekan harga. Banyak distributor melakukan penghematan dari internal. Ya kebanyakan mengeluarkan stok bahan baku," ujar Emmy kepada IDN Times, Selasa (7/4/2026).
2. Barang plastik tergantung komponen impor

Kenaikan harga plastik dirasakan untuk penjualan plastik konvesional, plastik PET dan plastik bahan mainan serta rumah tangga.
Lebih lanjut, ia menjelaskan berdasarkan analisa Disperindag Jateng, naiknya harga plastik karena sangat bergantung pada komponen bahan bakunya yang masih impor dari sejumlah negara.
Namun adanya kenaikan harga plastik diklaim dikeluhkan para pedagang pasar. "Belum ada pedagang yang mengadukan hal ini. Cuman karena ini dampak perang, harapannya situasinya segera normal kembali," ujarnya.
3. Warga Jateng diminta pakai plastik sekali pakai atau tambler

Untuk menyiasati mahalnya harga plastik, pihaknya akan menyuaun imbauan kembali kepada masyarakat supaya kurangi penggunaan plastik sekali pakai. "Dulu kan pernah diimbau pakai tambler dan totebag, maka ini akan dimasifkan lagi imbauannya," ujarnya.
Di sisi lain pihaknya juga mengalami kendala saat berusaha memasarkan plastik berbahan baku bioplastik yang berasal dari tepung pati atau tepung singkong.
"Kalau kita gunakan bahan baku lokal dari bioplastik atau tepung singkong harganya lebih mahal. Ketemu acuan HPP-nya agak tinggi," ujarnya.
Saat menguji coba penjualan plastik dari bahan bioplastik lokal, harga jual di pasaran justru naik 1,5 sampai dua kali lipat.
"Kalau dipaksakan (dijual) dan pernah diujicoba HPP plastik kompone tersebut naik 20 persen. Jadi pastinya pengaruh ke harganya," jelasnya.
4. Harga plastik naik Rp30-Rp38 ribu

Terpisah, Solikin, seorang pedagang plastik di Pasar Peterongan kepada IDN Times juga mengungkapkan harga plastik per kilonya sudah naik jadi Rp30 ribu. "Normalnya kan cuman Rp12 ribu. Sekarang sudah jadi Rp30 ribu," paparnya.
Pemilik toko plastik Wahid Prima di Gayamsari Semarang, Firza mengakui mahalnya harga plastik dirasakan sejak awal puasa sampai hari ini.
"Yang biasanya saya beli per dus Rp250 ribu, itu naik jadi Rp260-Rp275 ribu per dusnya. Jadi harga ecernya biasanya masih bisa kita jual Rp14 ribu, itu sudah mulai enggak bisa," katanya.
Dari kenaikan 10 persen, tiba-tiba dalam kurun per minggu naik 20 persen, 30 persen, terus lanjut 50 persen, bahkan sampai ke 100 persen yang mendekati Lebaran.
Firza menilai, kenaikan harga tersebut sudah tak masuk akal. Kenaikan harga terjadi merata pada produk plastik lainnya, seperti plastik kemas dan stirofoam. "Stirofoam ini dulu per slopnya Rp25 ribu, tapi sekarang sudah Rp38 ribu," ujar Firza.


















