Catat! Jateng Dapat Pasokan 1,2 Juta Ton Elpiji 3 Kg, Tapi Gak Diecer

- Pemerintah Jateng klaim tidak ada kelangkaan gas elpiji 3 kg di wilayahnya
- Proses penjualan tidak diarahkan ke pengecer, menghilangkan pengecer demi memangkas alur distribusi
- Mendorong pengecer naik kelas menjadi pedagang pangkalan elpiji untuk harga yang sesuai HET
Semarang, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengklaim tidak ada kelangkaan pasokan gas elpiji ukuran 3 kilogram di wilayahnya. Pasalnya, dalam usulan yang telah disepakati dengan Ditjen Migas sudah ditetapkan Jateng mendapatkan jatah kuota elpiji 3 kilogram 1.213.906 metrik ton.
1. Tidak ada kelangkaan, barangnya ada

Menurut Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, walau mendapat jatah kuota elpiji 3 kilogram sebanyak itu, akan tetapi pihaknya memastikan proses penjualannya tidak diarahkan ke pengecer.
"Memang ada aturan baru di awal Februari ini. Ada penyesuaian-penyesuaian selama masa transisi peraturan yang baru. Tapi tidak ada kelangkaan, saya jamin tidak. Barangnya ada semuanya. Hanya saja, kebijakan pusat memang tidak ada pengecer," ujar Boedyo di kantor Dinas ESDM Jateng, Senin (3/2/2025).
2. Diklaim bisa pangkas rantai pasok

Ia menuturkan keputusan menghilangkan pengecer elpiji 3 kilogram dimaksudkan demi memangkas alur distribusi penjualan gas melon tersebut.
Selain itu, pihaknya juga mengharapkan adanya aturan baru yang berlaku di bulan ini setidaknya konsumen bisa membeli elpiji 3 kilogram dengan harga sesuai Harga Eceran Tetap (HET). Sehingga tidak terjadi lonjakan harga di atas HET seperti pengalaman terdahulu yang mana bisa mencapai Rp23 ribu-Rp25 ribu per tabung.
"Kemarin besaran HET sudah direvisi Rp18 ribu sesuai SK terbaru yang terbit Agustus 2024. Proses penetuan HET melibatkan transportasi, akademisi untuk menghitung secara detail. Kalau dulunya Rp15.500," ungkapnya.
3. Diharapkan pengecer elpiji bisa naik kelas

Di samping itu, pihaknya juga mendorong para pengecer elpiji 3 kilogram untuk naik kelas menjadi pedagang pangkalan elpiji.
Dalam data yang diterima Dinas ESDM Jateng dari Pertamina, jumlah pangkalan elpiji sebanyak 54 ribu. Sedangkan jumlah pengecer yang naik kelas menjadi pangkalan sejak September 2024 sampai Februari 2025 ada sebanyak 490 orang.
"Jadi bukan berarti pengecer tidak boleh jualan elpiji, tapi supaya masyarakat dapat harga yang sesuai HET. Maka langkahnya kita dorong mereka (pengecer) jadi pangkalan. Karena kalau mereka tetap jadi pengecer yang ada justru harga elpiji 3 kilogram di tingkat konsumen bisa naik sampai Rp23 ribu atau Rp25 ribu. Jadinya maksud pemerintah ini mau memangkas alur distribusi. Agar dapat harga yang lebih baik," paparnya.


















