Semarang, IDN Times - Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Tengah mengklaim akan mempertebal pengawasan penggunaan media sosial (medsos) untuk merendam aksi kekerasan yang melibatkan antara siswa sekolah. Pasalnya, belakangan terdapat dua siswa yang menjadi korban kekerasan.
Tercatat dua siswa yang menjadi korban kekerasan ialah seorang siswa siswa SMP Negeri 2 Sumberlawang yang ditemukan meninggal dunia usai terlibat perkelahian dengan teman sekolahnya pada 7 April 2026 kemarin.
Lalu seorang siswa lagi Brebes jadi korban tawuran pelajar di Bulakamba akhir Maret kemarin.
Kepala Disdik Jateng, Sadimin, mengungkapkan saat ini terus berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten guna mengurai akar persoalan secara komprehensif.
Evaluasi menyeluruh dilakukan agar upaya pencegahan bisa lebih efektif dan berkelanjutan.
Sadimin menekankan, kunci utama mencegah kekerasan pelajar terletak pada kolaborasi semua pihak. Pemerintah, sekolah, keluarga, hingga masyarakat diharapkan dapat bersinergi menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif.
“Mari kita wujudkan budaya sekolah yang aman dan nyaman, agar proses pembelajaran berjalan baik dan berkualitas bagi seluruh siswa,” ungkapnya, Minggu (19/4/2026).
Selain itu, ia mengklaim pemerintah hadir tidak hanya saat peristiwa terjadi, tetapi juga dalam proses pemulihan keluarga korban.
“Sekolah telah melakukan pendampingan keluarga sejak awal, termasuk saat prosesi pemakaman hingga doa bersama,” ujar Sadimin.
Di Brebes, perhatian serupa juga diberikan kepada keluarga korban tawuran pelajar yang terjadi di Jalan Lingkar Utara, Kecamatan Bulakamba. Insiden yang melibatkan remaja bersenjata tajam itu diduga dipicu konflik sebelumnya antar kelompok pelajar.
Menurut Sadimin, langkah pembinaan telah dilakukan oleh pihak sekolah dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari guru, orang tua, hingga aparat keamanan.
Sebagaimana arahan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, koordinasi lintas sektor juga diperkuat untuk mencegah kejadian serupa.
“Sekolah telah berkoordinasi dengan kepolisian, TNI, tokoh masyarakat, dan orang tua siswa untuk memperketat pengawasan, termasuk memantau penggunaan media sosial yang kerap menjadi pemicu konflik,” jelasnya.
