Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Jebakan Psikologis Promosi Buy 1 Get 1 yang Sering Kuras Dompet Kamu
ilustrasi promo diskon (pexels.com/Vladimir Srajber)
  • Promo Buy 1 Get 1 memanfaatkan Zero Price Effect, loss aversion, dan anchoring bias untuk mendorong belanja impulsif serta menciptakan kesan diskon lebih besar.
  • Ritel dapat memakai promo ini untuk menghabiskan stok mendekati kedaluwarsa; membeli dua produk berisiko membuat barang tak sempat digunakan dan akhirnya terbuang.
  • Konsumen disarankan mengecek kebutuhan nyata, tanggal kedaluwarsa, serta membandingkan harga per gram atau mililiter dengan produk lain sebelum mengambil promo.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Promo beli satu gratis satu bisa bikin orang beli barang yang tidak perlu. Toko kadang menaikkan harga dulu atau menjual barang yang hampir habis masa pakainya. Kalau beli dua, barang bisa tidak habis dan dibuang. Sekarang, kita perlu lihat tanggal habisnya, hitung harganya, dan beli yang benar-benar perlu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah sedang berjalan santai di lorong supermarket, lalu mendadak menghentikan langkah karena melihat papan merah besar bertuliskan “Buy 1 Get 1 Free”? Tanpa berpikir panjang, produk tersebut langsung berpindah ke keranjang belanjaan—padahal sama sekali tidak ada dalam daftar belanjaan harian.

Pengalaman ini merupakan hal yang sangat lumrah kamu alami. Di balik kata “Gratis” yang begitu menggiurkan, pihak retail sebenarnya sedang melancarkan strategi pemasaran canggih untuk memanipulasi alam bawah sadar. Yuk, bongkar jebakan psikologis di balik promosi Buy 1 Get 1 agar dompet tetap aman!

1. Efek Sihir Kata "Gratis" yang Mematikan Logika

ilustrasi barang promo (pexels.com/ Max Fischer)

Dalam psikologi perilaku manusia, kata “Gratis” bukan sekadar penawaran potongan harga biasa, melainkan pemicu emosional yang sangat kuat. Fenomena ini dikenal dengan istilah The Zero Price Effect.

Saat melihat kata gratis, otak secara otomatis berhenti berpikir rasional tentang risiko atau kerugian. Perhatian langsung teralih pada ketakutan kehilangan keuntungan (loss aversion), sehingga kamu lupa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau memiliki kualitas yang sebanding.

2. Manipulasi Harga Dasar Lewat Anchoring Bias

ilustrasi promo produk (unsplash.com/Kelvin Zyteng)

Banyak konsumen berasumsi langsung bahwa promo Buy 1 Get 1 otomatis memberikan keuntungan sebesar 50%. Faktanya, pengelola toko sering kali sudah menaikkan harga dasar (anchor price) sebelum promosi diluncurkan.

Sebagai gambaran, kamu merasa beruntung mendapatkan dua produk seharga Rp50.000 dengan menganggap harga satuannya Rp25.000. Padahal, harga asli barang tersebut di hari biasa hanya Rp30.000 per unit. Diskon nyata yang didapatkan sebenarnya jauh lebih kecil dari bayangan awal, tetapi kamu telah dipaksa membeli dalam volume lebih besar.

3. Strategi Pembersihan Gudang Produk Mendekati Kadaluarsa

ilustrasi promo bisnis (pexels.com/cottonbro studio)

Promosi beli satu gratis satu sering dimanfaatkan oleh toko ritel sebagai sarana inventory clearance. Langkah ini dilakukan untuk membuang stok barang di gudang yang sudah mendekati tanggal kadaluarsa (expired date).

Skenario ini sangat berisiko jika terjadi pada barang konsumsi seperti susu, roti, atau produk perawatan wajah yang masa berlakunya tinggal dua minggu. Akibat membawa pulang dua barang sekaligus, item kedua berisiko besar membusuk dan berakhir di tempat sampah, yang berarti uang terbuang percuma.

4. Ilusi Menyimpan Stok yang Bikin Makin Boros

ilustrasi mencari promo belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Saat timbul dorongan belanja impulsif, otak akan secara otomatis mencari pembenaran. Kalimat seperti “tidak apa-apa beli sekarang untuk persediaan bulan depan” kerap menjadi alasan utama untuk melangkah ke kasir.

Secara psikologis, fenomena stockpiling illusion ini justru memicu peningkatan laju konsumsi di rumah. Karena merasa memiliki stok melimpah, penggunaan barang seperti camilan atau detergen cenderung menjadi lebih boros ketimbang saat hanya memiliki satu kemasan di rumah.

Trik Taktis Membentengi Dompet dari Promo Palsu

ilustrasi promo belanja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Sebelum tergiur membawa produk promo ke kasir, tanyakan pada diri sendiri: jika barang tersebut dijual satuan dengan harga normal, apakah kamu akan tetap membelinya hari ini? Jika jawabannya tidak, segera kembalikan barang tersebut ke rak.

Selalu periksa tanggal kadaluarsa untuk memastikan seluruh produk sempat dihabiskan. Selain itu, bandingkan harga per gram atau mililiter paket promo tersebut dengan merek kompetitor di sebelahnya, karena membeli satu unit dari merek lain kerap kali jauh lebih hemat.

Waspada terhadap iming-iming promo Buy 1 Get 1 merupakan langkah krusial agar pengeluaran belanja harian tidak membengkak akibat manipulasi pemasaran.

Apakah kamu sering tergiur membeli barang promo yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Atau punya pengalaman unik menguji keaslian diskon di supermarket? Tulis cerita kamu di kolom komentar!

Curated For You

Editorial Team

Related Article