6 Ikon Khas Kota Semarang Raih Penghargaan Warisan Budaya Tak Benda

- Enam ikon budaya khas Semarang, termasuk Wingko Babat dan Barongsai, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda nasional pada acara Revitalisasi Ekosistem Kebudayaan di Kabupaten Semarang.
- Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menegaskan penghargaan ini hasil riset panjang serta bukti konsistensi masyarakat menjaga akulturasi budaya yang telah mengakar kuat di Kota Semarang.
- Wali Kota berharap pengakuan WBTB dapat memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, menjadikan kuliner serta tradisi lokal sebagai daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Semarang, IDN Times - Enam ikon dan ciri khas Kota Semarang meraih penghargaan tingkat nasional dalam kategori Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Apresiasi ini diserahkan pada agenda Revitalisasi Ekosistem Kebudayaan Kabupaten dan Kota Jawa Tengah yang berlangsung di Kabupaten Semarang, Selasa (21/4/2026).
1. Ciri khas kemajemukan Kota Semarang

Enam karya budaya yang menerima predikat WBTB tersebut mencakup ragam kuliner legendaris dan ekspresi seni budaya yang menjadi ciri khas kemajemukan Kota Semarang. Karya budaya itu antara lain Wingko Babat, Ganjel Rel, Bubur Khoja, Lam Kowan, seni Barongsai, hingga Kaligrafi China.
Keberagaman daftar ini mencerminkan kuatnya akulturasi budaya yang telah berakar di Kota Semarang selama berabad-abad.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, penetapan enam karya budaya ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda nasional adalah bentuk penghormatan negara terhadap identitas masyarakat Kota Semarang.
Ini sekaligus menjadi kado menjelang peringatan HUT ke-479 Kota Semarang tanggal 2 Mei nanti.
2. Pemacu gali potensi budaya

"Kami merasa sangat bangga karena tahun ini kota Semarang mendominasi dengan enam karya yang diakui sekaligus. Mulai dari kudapan seperti Wingko Babat dan Ganjel Rel hingga seni Barongsai dan Kaligrafi China, semuanya membuktikan bahwa ekosistem kebudayaan kita sangat inklusif. Penghargaan ini menjadi pemacu semangat kami untuk terus menggali potensi budaya lain yang masih tersembunyi," kata perempuan yang akrab disapa Iin.
Proses kurasi dan pengajuan karya-karya ini telah melalui tahapan riset dan verifikasi yang panjang agar layak mendapatkan pengakuan di level nasional. Ia menekankan bahwa pencapaian ini adalah buah dari konsistensi seluruh elemen masyarakat dalam merawat akar budaya di tengah modernitas.
3. Daya tarik wisata kuliner

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng berharap, penetapan WBTB ini mampu berdampak langsung pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, sebagaimana warisan budaya tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai motor penggerak kesejahteraan masyarakat.
"Dengan status WBTB ini, kuliner seperti Bubur Khoja dan Lam Kowan kini memiliki posisi tawar yang lebih tinggi sebagai daya tarik wisata kuliner. Kami ingin masyarakat dunia melihat Semarang sebagai kota yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga sangat kaya akan keragaman etnis dan tradisi yang terpelihara dengan sangat baik," pungkasnya.
















