Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Alasan Larangan Buka Payung di Dalam Rumah Menurut Kepercayaan Jawa

Alasan Larangan Buka Payung di Dalam Rumah Menurut Kepercayaan Jawa
ilustrasi payung (pexels.com/Th2city Santana)
Intinya Sih
  • Larangan membuka payung di dalam rumah termasuk dalam gugon tuhon (mitos leluhur) yang dipercaya bisa mengundang kesialan atau energi negatif.

  • Secara mistis, payung identik dengan ritual kematian, sehingga membukanya di dalam ruangan dianggap bisa mengundang makhluk halus.

  • Secara logika, aturan ini dibuat demi keselamatan fisik untuk menghindari cedera mata atau merusak barang-barang di dalam rumah yang sempit.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernah nggak sih kamu lagi iseng membuka payung di dalam rumah, tiba-tiba langsung ditegur orang tua? Di masyarakat Jawa, tindakan ini bukan cuma dianggap aneh, tapi juga merupakan pantangan besar.

Dalam tradisi Jawa, larangan ini dikategorikan sebagai Gugon Tuhon, yaitu sebuah ajaran atau mitos leluhur yang disampaikan turun-temurun untuk mencegah hal buruk terjadi. Di balik kesan mistisnya, ternyata ada perpaduan antara kearifan lokal, metafisika, dan logika praktis yang masuk akal, lho! Yuk, simak penjelasannya:

1. Dipercaya Mengundang Makhluk Halus

ilustrasi payung lipat
ilustrasi payung lipat (freepix.com/mrsiraphol)

Dalam perspektif tradisional Jawa, payung memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan ritual kematian, salah satunya digunakan untuk memayungi jenazah saat hendak dibawa ke pemakaman.

Membuka payung di dalam ruangan dipercaya bisa mengubah aura rumah secara instan menjadi dingin, lembap, dan pengap layaknya kuburan. Perubahan energi inilah yang dipercaya disukai oleh makhluk halus, sehingga ditakutkan bisa mengundang energi gaib negatif masuk ke dalam tempat tinggalmu.

2. Simbol Kesusahan Hidup dan Seret Rezeki

Payung
ilustrasi payung (pixabay.com/MabelAmber)

Payung sejatinya adalah alat pelindung yang diciptakan khusus untuk menghadapi cuaca ekstrem di luar ruangan, baik panas terik maupun hujan deras.

Ketika kamu membuka payung di bawah atap, leluhur Jawa menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk tidak menghormati fungsi rumah sebagai pelindung utama. Secara simbolis, hal ini dianggap sebagai isyarat bahwa rumah tersebut akan mengalami kebocoran besar, mendatangkan musibah, atau membuat rezeki pemilik rumah menjadi seret.

3. Logika Praktis: Menghindari Kecelakaan dan Cedera

Payung
Payung (Freepik.com/ Freepik)

Masyarakat Jawa kuno sangat cerdas dalam mendidik anak-anak mereka. Sering kali, mereka menggunakan mitos agar anak-anak lebih patuh dan berhati-hati. Di balik alasan mistis tadi, ada alasan keselamatan (safety) yang sangat kuat:

  • Risiko Cedera Fisik: Rumah-rumah tradisional Jawa zaman dulu umumnya memiliki pencahayaan yang temaram. Membuka payung di dalam ruangan yang sempit berisiko besar melukai mata orang di sekitarmu atau menyenggol barang-barang pecah belah.
  • Kerusakan Ruangan: Ujung kerangka payung yang tajam bisa dengan mudah merusak anyaman bambu (gedek) pada dinding atau merobek langit-langit rumah yang rendah.

Falsafah Jawa: "Waspada lan Prayitna"

Payung
Payung (Unsplash.com/ Fajar Magsyar)

Larangan ini sebenarnya mengajarkan nilai Waspada lan Prayitna, yang artinya kita harus selalu berhati-hati dan menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional). Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi keselarasan dan harmoni.

Memakai barang luar ruangan di dalam rumah dinilai merusak estetika, etika kesopanan, dan ketenteraman dalam rumah tangga.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana

Latest News Jawa Tengah

See More