Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

ALJIRO SMANSA-Undip Gelar Youth Summit: Bergerak Dampingi Siswa

Kota Semarang
ALJIRO SMANSA-Undip Gelar Youth Summit: Bergerak Dampingi Siswa
Kepala Pusat SDGs Center Undip, Prof Bulan Prabawani. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Youth Summit 2026 di Semarang menyoroti akses gawai dan internet pelajar yang melampaui 80 persen, tetapi pemanfaatannya masih dominan untuk konten visual sederhana dan perlu diarahkan lebih produktif.
  • Riset forum mencatat 29 persen siswa SMA merasa beban akademik sangat berat; SDGs Center Undip menawarkan program Konselor Sebaya untuk pertolongan psikologis awal dan rujukan profesional.
  • Kemendikdasmen menyiapkan pembelajaran deep learning serta asesmen multistage adaptive; forum menghasilkan policy brief reformasi pendidikan menengah dan kampanye konten edukasi digital.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Penggunaan teknologi gadget bagi siswa sekolah saat ini memunculkan tantangan kompleks. Walaupun lebih dari 80 persen siswa kini gampang mengakses internet, akan tetapi mereka memerlukan pendampingan untuk membentuk kemahiran ke arah positif. 

Hal tersebut mengemuka dalam ajang forum nasional Youth Summit 2026 di Hotel Santika Premiere Semarang pada Jumat (21/8/2026).

  1. 1. Siswa pakai gawai cuma sekedar buat konten

    Ilustrasi Internet of Things (canva.com)
    Ilustrasi Internet of Things (canva.com)

    Kepala Pusat SDGs Center Undip, Prof Bulan Prabawani, yang hadir dalam forum tersebut mengutarakan, dari realitas lapangan ditemukan adaptasi teknologi di kalangan pelajar SMA sejatinya sudah mencapai angka lebih dari 80 persen telah memiliki gawai dan akses internet. 

    Namun, tantangan terbesarnya berada pada akselerasi pemanfaatan teknologi tersebut.

    "Akses internet dan kepemilikan gawai pelajar rata-rata di atas 80 persen. Hanya saja, pemanfaatannya sejauh ini masih sebatas pembuatan konten visual sederhana. Kita perlu mendampingi mereka agar mampu mentransformasikan akses tersebut ke arah kemahiran yang lebih produktif, seperti penggunaan kecerdasan buatan secara tepat guna," kata Bulan. 

  2. 2. Undip tawarkan konselor berdaya

    Para siswa saat beraktivitas di depan gerbang SMAN 1 Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
    Para siswa saat beraktivitas di depan gerbang SMAN 1 Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Di sisi lain, temuan riset kesehatan mental menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan. Sebanyak 29 persen atau hampir sepertiga responden mengakui jujur bahwa beban akademik di sekolah menengah atas terasa sangat berat. 

    Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi memicu tekanan psikologis atau burnout yang berkepanjangan.

    Menjawab tantangan tersebut, SDGs Center Undip menawarkan inovasi berbasis komunitas, yakni program Konselor Sebaya (peer counselor), yang telah sukses diuji coba di SMA Negeri 1 Semarang.

    "Siswa kerap merasa enggan atau canggung untuk terbuka kepada guru Bimbingan Konseling (BK) karena adanya jarak hierarki. Lewat Konselor Sebaya, murid-murid yang memiliki kecenderungan empati tinggi kita latih menggunakan modul khusus untuk memberikan pertolongan pertama psikologis bagi temannya. Jika keluhannya terindikasi membutuhkan tindakan medis, barulah dirujuk ke tenaga profesional," jelasnya.

    Bulan juga menekankan pentingnya melibatkan suara pelajar secara substantif dalam perumusan kebijakan publik, layaknya pelibatan kelompok rentan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Jawa Tengah, sehingga kebijakan yang dilahirkan benar-benar tepat sasaran.

  3. 3. Kemendikdasmen akan terapkanw deep learning buat siswa SMA

    Forum youth summit yang diinisiasi ALJIRO SMANSA dan SDGs Center UNDIP mengangkat isu kesejahteraan mental dan pendidikan.
    Alumni SMA Negeri 1 Semarang (ALJIRO SMANSA) dan SDGs Center Universitas Diponegoro (UNDIP) yang menginisiasi forum youth summit mengangkat tema besar Preparing Indonesia's Future Generation: Mental Well-being, Quality Education, and Digital Readiness. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Dari sudut pandang regulator, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen, Moch Abduh telah menyiapkan sejumlah intervensi strategis guna merespons rendahnya tingkat kompetensi literasi dan numerasi siswa di Indonesia.

    "Ketika kita tanya mata pelajaran apa yang paling tidak disukai, jawabannya matematika. Karenanya kita mencoba untukp membuat bagaimana mata pelajaran matematika ini menjadi mata pelajaran yang menggembirakan," ujarnya. 

    Tak hanya penyesuaian materi, ia juga memperbarui sistem asesmen menggunakan pendekatan multistage adaptive. Metode ini memungkinkan pemetaan tingkat kompetensi literasi dan numerasi siswa dilakukan secara lebih terukur dan sesuai dengan level kemampuan individu.

    Dalam kesempatan tersebut, Abduh turut menyoroti pergeseran karakter pada Gen Z dibanding generasi sebelumnya. Penggunaan gawai dan pesatnya teknologi jika tidak disikapi secara etis dan bijak dinilai berpotensi menurunkan daya tangguh (resilience) serta minat belajar siswa.

    Fenomena lain yang menjadi perhatian serius adalah schooling without learning (sekolah tanpa belajar), di mana banyak siswa menghadiri kelas tanpa mendapatkan pemahaman materi yang bermakna. Hal ini dipicu oleh fokus tenaga pendidik yang cenderung terpaku pada pemenuhan target administratif kurikulum dan pencapaian asesmen semata.

    "Anak-anak tidak banyak mendapatkan kebermaknaan dari pelajaran-pelajaran yang disampaikan. Nah, ini kita ubah pendekatannya dengan deep learning yang insya Allah akan membuat anak-anak itu belajar dengan penuh makna dan dengan sikap yang menggembirakan," tegas Abduh.

    Rendahnya pemahaman bermakna dan tergerusnya daya tangguh ini diduga menjadi salah satu penyebab maraknya fenomena jawaban nyeleneh siswa saat menghadapi ujian. Rasa cepat putus asa membuat siswa kerap menyerah saat menemui soal-soal yang dianggap sulit.

  4. 4. Jadi gerakan kampanye edukasi digital

    Sejumlah peserta mengikuti Youth Summit 2026, forum yang membahas persoalan dan tantangan yang dihadapi siswa.
    Youth Summit 2026 menjadi ajang membedah persoalan yang dihadapi para siswa. (IDN Times/Fariz Fardianto (

    Kehangatan forum berlanjut pada sesi diskusi interaktif Youth Talks yang dipandu oleh Koeshartanto Koeswiranto. Tiga narasumber lintas profesi membagikan sudut pandang inspiratif: Direktur SDM PT Pertamina (Persero) Andy Arvianto, komika sekaligus guru honorer Bang Mukmin dan praktisi kreatif Yoris Sebastian. 

    Acara yang dihadiri 250 peserta secara tatap muka ini menghadirkan perwakilan pelajar dan guru pendamping dari berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Papua. 

    Tak hanya itu, gaung aspirasi dalam forum ini juga disokong oleh riset empiris yang menjangkau lebih dari 700 responden pelajar SMA se-Indonesia.

    Sebagai puncak acara, seluruh peserta merumuskan dokumen kesepakatan berupa Policy Brief bertajuk "Pendidikan Menengah sebagai Fase Transisi Strategis: Reformasi Pendidikan Menengah untuk Generasi Siap Kerja, Sehat Mental, dan Melek Digital" yang diserahkan kepada perwakilan kementerian terkait.

    Ajang bertaraf nasional ini diakhiri dengan kampanye kreatif pembuatan konten edukasi digital bersama Duta Mental Health SMANSA 2026 serta penganugerahan pemenang SIGMA Competition dan Perception Competition.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More