Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Antisipasi Kemarau Panjang, BI Jateng Fokus Jaga Inflasi Pangan
Ilustrasi tanah sawah mengering akibat kemarau di Semarang, Jawa Tengah. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • BI Jawa Tengah dan TPID mengantisipasi kemarau panjang dengan menjaga inflasi pangan bergejolak; inflasi tahunan tercatat 2,6 persen, sementara cabai, bawang merah, dan beras perlu diwaspadai.
  • Strategi 4K dijalankan melalui pasar murah di 35 daerah, penguatan distribusi produsen-pedagang, bantuan pikap petani cabai, serta pengamanan air dan irigasi untuk menghadapi risiko El Nino.
  • Pasokan beras dinilai aman berkat panen di jalur Pantura; stok cabai didukung alokasi pasar lokal dan greenhouse, sementara warga diimbau belanja secukupnya tanpa menimbun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bank Indonesia dan tim di Jawa Tengah sedang menjaga harga makanan supaya tidak naik banyak saat kemarau panjang. Mereka mengadakan pasar murah, membantu petani cabai, dan menyiapkan air untuk sawah. Beras masih aman. Warga diminta beli secukupnya dan tidak menimbun makanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pekalongan, IDN Times - Kondisi musim kemarau berpotensi memengaruhi produksi pangan dan memicu lonjakan harga di Jawa Tengah. Merespons situasi ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah antisipasi, khususnya untuk menjaga inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food).

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho atau akrab disapa Nunu, pada Kamis (13/8/2026) menyebutkan, inflasi di Jawa Tengah saat ini relatif terkendali. Bulan lalu, Jawa Tengah mencatat deflasi 0,13 persen dengan inflasi tahunan (year on year) sebesar 2,6 persen.

"Angka ini relatif masih dalam target inflasi kita yang 2,5 plus minus 1. Memang yang masih perlu diwaspadai adalah volatile food," ujar Nunu.

Beberapa komoditas penyumbang inflasi yang menjadi sorotan meliputi cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan beras. Kenaikan harga komoditas ini berdampak besar pada daya beli konsumen, terutama masyarakat berpendapatan tetap.

Menekan Harga Pangan Lewat Strategi 4K

Pekerja membawa mie soun kering pesanan pembeli di Pasar Induk MAJT, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (7/8/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Untuk menjaga inflasi volatile food tetap di bawah angka 5 persen, BI Jawa Tengah konsisten menerapkan Strategi 4K secara hulu ke hilir.

Pada pilar Keterjangkauan Harga (K1), operasi pasar murah secara serentak di 35 kabupaten/kota terus berjalan. BI juga mendistribusikan pangan terjangkau melalui Kios TPID, Simanis Mark, hingga Kios JTAB.

Sementara pada pilar Kelancaran Distribusi (K3), BI berupaya memotong rantai pasok yang selama ini memicu lonjakan harga. BI sukses mempertemukan 111 produsen dari 34 kabupaten/kota dengan 99 pedagang besar pada 10 Juni lalu di Kantor Pemprov, yang menghasilkan 177 sesi pencocokan bisnis (business matching).

"Kita coba memotong rantai distribusi yang panjang itu supaya harga yang sampai di konsumen tidak terlalu tinggi," imbuh Nunu.

Pihaknya juga memberikan bantuan mobil pikap bagi petani cabai di Wonosobo agar biaya distribusi hasil panen makin murah.

Antisipasi Dampak Kemarau dan El Nino

Ilustrasi tanah sawah mengering akibat kemarau di Semarang, Jawa Tengah. (IDN Times/Dhana Kencana)

Menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino, pilar Ketersediaan Pasokan (K2) difokuskan pada pengamanan air pertanian. Upaya ini mencakup penyediaan 10 titik sumur dangkal di Demak serta pengerukan sedimen saluran irigasi bersama pemerintah provinsi. Petani juga mendapat dukungan bibit padi Gamagora yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.

Ketersediaan pasokan beras saat ini, imbuh Nunu, terpantau aman berdasarkan koordinasi dengan Bulog, didukung aktivitas panen yang masih berlangsung di sepanjang jalur Pantura.

Sedangkan untuk menjaga stok cabai, program Champion Cabai mewajibkan alokasi 20 persen dari total produksi untuk pasar lokal Jawa Tengah. Fasilitas greenhouse komunal juga dibangun untuk mendukung produksi, salah satunya di pondok pesantren wilayah Paguyangan.

Edukasi Belanja Bijak ke Masyarakat

Warga membawa barang belanjaanya di Pasar Induk MAJT, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (7/8/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Sebagai pilar terakhir, Komunikasi Efektif (K4) menargetkan masyarakat luas. BI terus mengedukasi warga agar membiasakan belanja bijak sebagai kunci menekan lonjakan permintaan pasar.

Nunu mengimbau masyarakat untuk membeli bahan pokok secukupnya, tidak menimbun barang, serta beralih memanfaatkan produk alternatif seperti cabai olahan saat harga cabai segar melonjak tajam.

"Melalui sinergi erat lintas instansi, target inflasi Jawa Tengah optimis dapat terjaga meski ada tantangan cuaca," pungkas Nunu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article