Cerita Pedagang Bertahan Ditengah Inflasi: Modal Naik, Untung Menyusut

- Pedagang bakso Pak Aris di Purwokerto menghadapi kenaikan harga daging sapi dari Rp120 ribu menjadi Rp150 ribu per kilogram, serta kenaikan cabai, mi, bumbu, dan ongkos produksi.
- Penjualan bakso menurun saat pembeli makin berhemat; keuntungan bersih Pak Aris turun dari Rp100-200 ribu menjadi sekitar Rp50 ribu per hari, meski jam kerja lebih panjang.
- Pak Aris menilai Program Makan Bergizi Gratis turut mengurangi pembeli siswa; ia tetap bertahan di tengah daya beli lemah dan biaya produksi UMKM yang meningkat.
Purwokerto, IDN Times – Inflasi tidak hanya tercermin dari angka angka ekonomi. Di pasar tradisional, dampaknya dirasakan langsung oleh para pedagang yang setiap hari harus menghadapi kenaikan harga bahan baku, sementara daya beli masyarakat justru melemah.
Salah satunya dialami Pak Aris, pedagang bakso di kawasan Keranji. Baginya, beberapa bulan terakhir menjadi masa yang berat. Harga bahan baku terus merangkak naik, tetapi penjualan justru menurun.
1. Harga bahan baku terus merangkak naik

Pak Aris (54 tahun) kepada IDN Times, Jumat, (31/7/2026) mengatakan hampir seluruh bahan yang digunakan untuk berdagang mengalami kenaikan harga. Daging sapi menjadi salah satu komoditas yang paling terasa.
"Semua naik, daging juga naik. Dulu harganya sekitar Rp120 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp150 ribu. Naiknya baru sekitar tiga mingguan ini," ujarnya.
Tidak hanya daging, cabai, mi, hingga sejumlah bahan pelengkap lainnya juga mengalami kenaikan bertahap.
"Cabai naik lagi, mi naik, bahan lain juga naik. Kadang sehari bisa naik seribu rupiah. kemarin ada yang Rp8 ribu, sekarang sudah Rp10 ribu,"katanya.
Kenaikan harga tersebut membuat biaya produksi ikut membengkak. Untuk membuat bakso misalnya, ia harus mengeluarkan biaya tambahan mulai dari ongkos penggilingan hingga pembelian bumbu.
"Modal jelas bertambah, ongkos giling daging saja Rp5 ribu per kilogram. Kalau giling tiga kilogram sudah Rp15 ribu, belum bumbu dan bahan lain,"jelasnya.
2. Omzet menurun, keuntungan tinggal separuh

Di sisi lain, kenaikan modal tidak diikuti peningkatan penjualan. Pak Aris mengaku omzet hariannya justru terus menurun karena pembeli semakin berhemat.
"Jualannya sekarang sepi. Biasanya sehari giling tiga kilogram saja sudah terasa berat. Omzet turun,"ungkapnya.
Jika sebelumnya ia masih bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp100 ribu per hari, kini pendapatan tersebut tinggal separuhnya.
"Dulu bersih bisa Rp100 hingga 200ribu. Sekarang paling sekitar Rp50 ribu sehari,"katanya.
Kondisi itu membuat jam kerjanya semakin panjang. Ia mulai beraktivitas sejak pukul 04.00 WIB untuk berbelanja ke pasar, lalu melayani pembeli hingga sore bahkan malam hari.
"Kerja dari jam empat pagi sampai sore atau malam, tapi hasilnya tidak sebanding dengan pengeluarannya," ujarnya.
3. Program MBG ikut berpengaruh

Selain inflasi, Pak Aris menilai perubahan pola konsumsi masyarakat juga memengaruhi penjualannya. Ia mengaku cukup bergantung pada pembeli dari lingkungan sekolah.
Menurutnya, sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, jumlah siswa yang membeli jajanan di sekitar sekolah mulai berkurang.
"Biasanya anak-anak beli jajanan Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Sekarang banyak yang sudah makan dari program itu, jadi pemasukan juga berkurang," katanya.
4. Bertahan ditengah daya beli yang lemah

Meski situasi semakin berat, Pak Aris memilih tetap bertahan. Ia berharap kondisi ekonomi segera membaik sehingga harga bahan baku kembali stabil dan daya beli masyarakat pulih.
"Ya tetap dijalani saja. Mudah mudahan ekonomi membaik lagi," tuturnya.
Kisah Pak Aris menjadi gambaran nyata tantangan yang kini dihadapi banyak pedagang pasar tradisional dan pelaku UMKM. Di tengah kenaikan biaya produksi dan melemahnya daya beli, mereka harus bekerja lebih lama untuk memperoleh keuntungan yang justru semakin kecil.
Kondisi yang dialami Pak Aris sejalan dengan perlambatan konsumsi masyarakat. Kontraksi penjualan ritel pada triwulan II, khususnya kelompok makanan, minuman yang masih tertekan.
Sementara itu, kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai, daging, minyak goreng, dan bahan pokok lainnya membuat biaya produksi UMKM terus meningkat. Banyak pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit, yakni menaikkan harga jual dengan risiko kehilangan pelanggan atau mempertahankan harga namun menerima keuntungan yang semakin tipis.





















