Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bahan Bangunan Kian Mahal, Rumah Subsidi Jateng Diusulkan Rp186 Juta
Ilustrasi kerajinan batu bata merah. ANTARA FOTO/Basri Marzuki
  • Harga bahan bangunan di Jawa Tengah naik sekitar 20 persen sejak Maret 2026, membuat pengembang rumah subsidi kesulitan menjaga kualitas dan biaya produksi.
  • Pengembang mengusulkan harga rumah subsidi naik menjadi Rp186 juta per unit agar tetap seimbang dengan lonjakan biaya material dan upah tenaga kerja.
  • Realisasi pembangunan rumah subsidi di Jawa Tengah baru mencapai 2.786 unit dari target tahunan, dengan penyebaran terbesar di Kendal, Sukoharjo, Pekalongan, dan Demak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Gelojak ekonomi yang tak berkesudahan benar-benar membuat para pengembang perumahan kelimpungan. 

Bahkan, para pengembang perumahan bersubsidi menyebut belakangan yang bikin repot ialah melambungnya harga bahan bangunan.

Harga bahan bangunan telah dirasakan merangkak naik sejak Maret 2026 silam. Menurut Ketua Himpunan Pengembangan Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jawa Tengah, Sugiyatno, sampai bulan ini saja harga bahan bangunan telah naik kisaran 20 persen.

"Kenaikan (harga bahan bangunan) sejak Maret. Terus berlanjut bulan April naiknya juga bertahap. Sampai sekarang harganya sudah naik 20 persen dari kondisi tahun lalu," kata Sugiyatno kepada wartawan, Rabu (24/7/2026).

1. Harga herbel dan batu bata merah naik signifikan

Ketua Himperra Jawa Tengah Sugiyatno bersama anggotanya saat berada di kantor DPD Himperra Jateng Kawasan Tugurejo. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Dirinya bersama para pengembang rumah subsidi lainnya pun musti putar otak demi menyiasati semakin mahalnya harga bahan bangunan. 

"Kita harus mengondisikan kualitas rumah. Maka solusinya paling  tidak mencari material bahan bangunan alternatif," akunya.

Lebih jauh, ia bilang bahan bangunan yang mengalami lonjakan harga pada komponen baja ringan, cat tembok, pasir batu belah, genteng, batu bata merah, bata herbel hingga bebatuan granit.

Namun diakuinya cara yang bisa dilakukan Himperra saat ini dengan membeli genteng dari produksi perajin lokal.

"Jadi memang bahan-bahan fabrikasi kayak cat, granit, pasir, batu belah genteng sudah mahal. Cuman yang kerasa banget (kenaikan harga) di bata merah yang signifikan kemudian juga herbel. Kalau genteng, dari kita rata-rata pakai genteng lokal. Sekarang ini untuk cari bahan lainnya ya kita agak susah mengakali," urainya.

2. Harga rumah subsidi harus disesuaikan dengan situasi ekonomi

Salah satu kawasan perumahan di Tugurejo Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Di samping itu, ongkos tukang bangunan juga tambah mahal karena mengikuti kenaikan harga upah borongan dan lainnya. "Untuk tenaga kerja juga minta naik.

Ongkos tukang juga minta ditambah karena mempertimbangkan situasi ekonomi," ujar seorang pengembang rumah subsidi.

Biar proyek rumah subsidi tidak bikin pengembang tekor, pihaknya terpaksa menurunkan margin pendapatan sekitar 15-20 persen. Oleh sebab itulah, pihaknya menyarankan pemerintah pusat turun tangan membantu pengembang rumah subsidi supaya tetap eksis di tengah dampak lonjakan komponen bahan bangunan.

Selain itu, pihaknya sedang mengusulkan kepada kementerian dan asosiasi di tingkat pusate untuk menyesuaikan harga rumah subsidi. 

Harga rumah subsidi terakhir mengalami kenaikan tahun 2023 silam dari semula Rp155 juta per unit menjadi Rp166 juta per unit. Kemudian untuk tahun ini dengan berkaca pada situasi ekonomi yang dinamis, harga rumah subsidi diusulkan naik jadi Rp186 juta per unit.

"Maka kita berharap pemerintah memperhatikan kendala-kendala yang kami hadapi ini. Kami juga sedang usulkan ke asosiasi di pusat apa tidak sebaiknya harga unit rumah subsidi dijadikan Rp186 juta. Supaya kita bisa leluasa menghitung margin dan biaya produksi," bebernya.

3. Rumah subsidi paling banyak di empat kabupaten

ilustrasi rumah subsidi murah (dok. pribadi/Dwi Haryanti)

Pembangunan rumah subsidi di Jawa Tengah sejak Januari-Juni 2026 baru terealisasi 6.964 unit.

Dari total sebanyak itu, Himperra Jateng baru merealisasikan capaian 30 persen atau sebanyak 2.786 unit.

Pihaknya masih punya waktu enam bulan untuk mewujudkan target tahunan. Pembanguan rumah subsidi paling banyak terserap di Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal, Kabupaten Sukoharjo, Kota Pekalongan dan sebagian Kabupaten Demak.

Editorial Team

Related Article