Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Banjir di Jateng, Pj Gubernur Sebut Seluruh Tanggul Harus Dievaluasi

Banjir di Jateng, Pj Gubernur Sebut Seluruh Tanggul Harus Dievaluasi
Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana bersama BPBD dan tim teknis lainnya saat memantau perbaikan tanggul Sungai Sriwulan Demak. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Share Article

Semarang, IDN Times - Penjabat Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana meminta seluruh tanggul sungai di wilayah Jateng dievaluasi.

Hal ini seiring dengan terjadinya banjir di sejumlah daerah Jawa Tengah seperti di Demak akibat jebolnya tanggul di sungai-sungai yang ada di wilayah tersebut.

1. Nana sebut tanggul-tanggul di Jawa Tengah perlu dievaluasi

Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana saat breafing bersama jajaran terkait untuk atasi banjir Demak-Kudus. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana saat breafing bersama jajaran terkait untuk atasi banjir Demak-Kudus. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Menurut Nana tanggul-tanggul yang ada di wilayah Jawa Tengah terutama daerah yang rawan bencana banjir perlu dievaluasi dan secara bertahap harus dilakukan perbaikan agar tak menyebabkan bencana di kemudian hari.

Salah satu penyebab bencana banjir di Jateng seperti di Demak, Jepara, Pekalongan dan juga Grobogan beberapa waktu terakhir yakni jebolnya tanggul sungai atau bendungan.

Menurutnya penting untuk evaluasi seluruh tanggul sungai yang ada di Jateng sebagai langkah antisipasi tanggul jebol akibat tidak kuat menahan debit air yang tinggi.

Dalam sepekan ke depan Jateng menurut BMKG masih berpotensi terjadi hujan ekstrem. Sebagai langkah pencegahan saat ini telah dilakukan penggunaan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengendalikan hujan hingga lokasi banjir benar-benar surut atau tanggul selesai ditutup.

2. Salah satu penyebab banjir yakni jebolnya tanggul di DAS Wulan

Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan bahwa banjir di Jepara dan Demak sama-sama disebabkan oleh tanggul daerah aliran sungai (DAS) Wulan yang melintasi daerah tersebut jebol.

Menurut dia, banjir di Demak tersebut menjadi perhatian serius, karena melumpuhkan jalur pantai utara (Pantura) Jateng.

Yang jelas, kata dia, BNPB akan terus berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk memperbaiki tanggul-tanggul sungai. "Jangan sampai ada lagi tanggul yang tidak kuat, sehingga tidak mampu menahan debit air sungai yang tinggi," katanya.

Banjir yang melanda wilayah Demak salah satu penyebabnya yakni akibat jebolnya tanggul kiri Sungai Wulan di Dukuh Norowito, Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak.

Puluhan ribu warga Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Minggu, mengungsi setelah tanggul Sungai Wulan kembali jebol menyusul meningkatnya debit air sungai tersebut.

Warga mulai mengungsi sejak Minggu, karena pada pukul 02.00 WIB diinformasikan untuk mengungsi, setelah tersiar informasi tanggul Sungai Wulan kembali jebol.

Akibat banjir karena jebolnya tanggul Sungai Wulan Jalur Pantura Demak-Kudus terputus sehingga menggenangi jalur yang selalu padat kendaraan tersebut, Minggu.

3. Sebanyak 9 kabupaten dan kota di Jateng ditetapkan tanggap darurat bencana

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dan Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana memberikan pernyataan bergiliran mengenai pola penanganan banjir yang meluas di Jawa Tengah. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dan Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana memberikan pernyataan bergiliran mengenai pola penanganan banjir yang meluas di Jawa Tengah. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Sementara itu sembilan kabupaten/kota di Jawa Tengah ditetapkan sebagai daerah tanggap darurat bencana. Daerah tersebut yakni Kota Semarang, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Kendal, Demak, Kudus, Pati, Jepara, dan Kabupaten Grobogan.

Penjabat Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan seiring penetapan sembilan kabupaten/kota dengan status tanggap darurat bencana.

"Kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus ditingkatkan. Kami juga sudah menyiapkan untuk evakuasi, posko kesehatan kami 'stand by' terus, dan bantuan-bantuan kepada masyarakat," kata Nana, di Semarang, Senin.

Berdasarkan perkiraan BMKG, kata dia, cuaca ekstrem masih memungkinkan terjadi hingga 20 Maret 2024, setelah itu baru terjadi tren penurunan curah hujan dan masa peralihan atau pancaroba baru periode April-Mei.

Share Article
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More

Dokumen Wajib PPDB atau SPMB SMA dan SMK Negeri Jateng yang Harus Di-scan!

27 Mei 2026, 12:35 WIBNews