BEM Undip Desak Rektor Ungkap Kebenaran Meninggalnya Dokter PPDS Anestesi

- BEM Undip mendesak pihak rektorat dan dekanat FK untuk menuntaskan investigasi kematian dokter ARL.
- Ada ketidakselarasan antara Kemenkes dan rektorat Undip ihwal penyebab meninggalnya dokter ARL.
- Pihak BEM juga menyesalkan sikap rektor Undip atas kematian dokter ARL yang masih menjadi polemik.
Semarang, IDN Times - Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mendesak pihak rektorat dan dekanat Fakultas Kedokteran (FK) untuk menuntaskan investigasi dalam kasus kematian dokter PPDS anestesi berinisial ARL.
1. Pendapat Kemenkes dan Undip tidak selaras

Menurut pihak BEM Undip saat ini muncul ketidakselasan antara pendapat Kemenkes dan rektorat Undip ihwal penyebab meninggalnya dokter ARL.
"Karena ada ketidakselarasan membuat kalangan mahasiswa yang paling dirugikan. Karena kami sebagai mahasiswa justru ketakutan dengan terkuaknya kasus ini," kata Farid Darmawan, Ketua BEM Undip kepada IDN Times, Minggu (18/8/2024).
2. Penyebab kematian dokter ARL membingungkan

Farid juga berkata pengusutan kasus kematian dokter ARL juga terkesan menggantung. Sebab, rektorat Undip justru menyebut bahwa sang dokter meninggal dunia akibat sakit syaraf kejepit yang diderita sejak lama. Sementara Kemenkes menyatakan kematian dokter ARL akibat mengalami perundungan alias bullying selama bertugas di bidang anestesi RSUP dr Kariadi Semarang.
"Jadi ini yang benar yang mana. Tentunya ini sangat membingungkan. Yang satu bilangnya meninggal karena sakit. Sedangkan Kemenkes menyebutkan unsur kematian karena mengalami perundungan," kata Farid.
3. Dekan FK harus bersuara

Lebih lanjut, pihaknya menuntut kepada dekan FK untuk bersuara kepada publik agar penyebab kematian dokter ARL bisa terang benderang.
Ia pun menyesalkan sikap rektor Undip atas kematian dokter ARL. "Jadi yang paling dirugikan setelah kejadian ini adalah mahasiswa dan pastinya dari mendiang karena walaupun sudah meninggal dunia tetapi justru masih menjadi polemik. Kami pada akhirnya menyesalkan sikap pihak-pihak terkait," terangnya.
Tak cuma itu saja, pihaknya juga menganggap kematian dokter ARL penuh kejanggalan karena tak kunjung diselesaikan oleh pihak Undip maupun rumah sakit tempat almarhumah bertugas. "Betul ada kejanggalan," tambahnya.
4. Galang aksi solidaritas saat orientasi maba

Oleh sebab itulah, saat acara orientasi pengenalan mahasiswa baru yang diadakan siang tadi dimanfaatkan untuk menggalang solidaritas kepada semua kalangan mahasiswa agar berempati kepada almarhumah.
Penggalangan solidaritas dengan membentangkan pesan bertuliskan usut tuntas dengan membawa serta foto almarhumah. Tak kurang ada 13.500 mahasiswa baru yang menyaksikan aksi solidaritas tersebut.
Di lokasi kegiatan selain Farid, ada juga Ketua BEM Fakultas dan BEM Vokasi yang bersuara secara bergantian.
"Tajuk usut tuntas itu dibawakan karena per hari ini mahasiswa kebingungan dengan statement yg berbeda antara pihak kampus dan kementerian. Kami merasa prihatin adanya ketidakselarasan informasi yang disampaikan. Dan ini juga memunculkan spekulasi baru karena adanya ketidakselarasan apakah ada persoalan lain antar lembaga tersebut yang melatarbelakangi statemen yang berbeda," tegasnya.



















