Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bukan Toko Buku Biasa, Jendelabook Jadi Oase Literasi dan Self Improvement
Jendelabook toko buku yang beralamat di Jl. Pemuda No. 36, Klaten, Jawa Tengah. (IDN Times/Bandot Arywono)
  • Jendelabook di Klaten berkembang dari toko buku biasa menjadi ruang literasi interaktif yang menghadirkan pengalaman personal bagi pembaca, dengan staf berperan sebagai konsultan literasi.
  • Toko ini aktif menghubungkan penulis dan pembaca lewat bedah buku, lokakarya menulis, serta menyediakan area diskusi dan kurasi buku self improvement sesuai kebutuhan emosional pengunjung.
  • Selain fokus pada pengembangan diri, Jendelabook juga mengenalkan literasi sejak dini melalui kegiatan edukatif untuk siswa serta memperluas jangkauan lewat platform digital dan cabang di beberapa kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Klaten, IDN Times – Bagi sebagian orang, toko buku mungkin hanya deretan rak kaku berisi tumpukan kertas. Namun, berbeda cerita jika kamu berkunjung ke Jendelabook. Alih-alih hanya menjadi tempat transaksi, toko buku ini telah bertransformasi menjadi oase literasi yang hangat dan personal bagi para pencari jati diri.

Berawal dari toko buku, Jendelabook kini tumbuh secara organik menjadi ruang komunitas yang hidup. Di sini, pengunjung tidak hanya datang untuk menenteng plastik belanjaan, tapi juga mencari jawaban atas kegelisahan hidup melalui lembaran buku.

1. Memahami kebutuhan pembaca yang bukan hanya membeli buku tetapi mencari solusi

Pengunjung tengah memilih judul buku di Jendelabook, Klaten. Selain toko buku Jendelabook juga terus berupaya menumbuhkan literasi di tengah masyarakat. (IDN Times/Bandot Arywono)

Begitu melangkahkan kaki melewati pintu kaca di toko Buku Jendela, di Jl. Pemuda No. 36, Klaten, pandangan segera disambut oleh barisan rak yang menjulang, membentuk lorong-lorong rapi yang membelah ruangan. Di bawah pendar lampu yang benderang namun tetap nyaman bagi retina, ribuan sampul buku terbaru memamerkan desain grafis yang mencolok—mulai dari nuansa pastel buku motivasi hingga warna-warna kontras komik remaja. Visual ini menciptakan keteraturan yang estetik, di mana setiap blok kategori menjadi navigasi visual yang memandu langkah kaki menembus rimba literasi.

Di dalam ruang ini, keriuhan pusat perbelanjaan di luar seolah diredam oleh dinding-dinding penuh buku. Samar-samar terdengar desah halus mesin pendingin ruangan yang bekerja konsisten menjaga atmosfer di dalam toko terjaga dalam suhu yang stabil, menyisakan sensasi sejuk, menciptakan kenyamanan yang membuat siapa pun betah berlama-lama. Sesekali, keheningan itu dipecah oleh suara bunyi khas kertas yang saling bergesekan saat seorang pengunjung membalik halaman buku contoh dengan saksama di pojok baca.

Di antara aroma kertas baru yang samar dan udara yang tenang, pengunjung diajak untuk tidak sekadar datang dan membeli, tetapi juga mencerap kedalaman ruang melalui seluruh indra yang ada sebuah pengalaman fisik yang mengukuhkan posisi toko buku sebagai ruang kontemplasi di tengah kota.

Sejak menanamkan akarnya pada tahun 2007 di jantung Kota Klaten, tepatnya di Jl. Pemuda No. 36, Jendelabook Indonesia telah tumbuh menjadi lebih dari sekadar jaringan toko buku diskon terkemuka. Dari yang hanya penyedia buku, alat tulis, tetapi memikul misi yang lebih besar menghidupkan api literasi di tengah masyarakat.

"Jendelabook pada awalnya memang berangkat sebagai toko buku Jendela, tetapi seiring waktu, berkembang menjadi ruang literasi yang lebih hidup. Interaksi dengan pembaca membuat kami memahami bahwa kebutuhan mereka bukan hanya membeli buku, tetapi mencari solusi, terutama melalui buku self improvement," kata Direktur Jendelabook, Yahya Yunanta mengisahkan awal ia menginisiasi Jendelabook.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ini mengatakan upaya menghidupkan literasi di antaranya melakukan kurasi buku berbasis masalah, alih-alih menyusun buku berdasarkan abjad atau penerbit, di Jendelabook mengelompokkan buku berdasarkan kebutuhan emosional atau fase hidup pengunjung.

Selain itu pihaknya juga menempatkan staf bukan hanya sebagai penjaga kasir, tapi sebagai konsultan literasi. Mengobrol dengan pengunjung, menanyakan apa yang sedang mereka rasakan atau pelajari, lalu memberikan rekomendasi buku yang personal.

2. Jembatan kreatif dari bedah buku hingga literasi digital

Salah satu sudut di Jendelabook, Klaten. Selain toko buku Jendelabook juga terus berupaya menumbuhkan literasi di tengah masyarakat. (IDN Times/Bandot Arywono)

Tak hanya itu Jendelabook juga menjadi jembatan antara pencipta karya dan penikmatnya. Seperti mengadakan peluncuran buku, bedah karya, atau lokakarya menulis singkat. Hal ini membuat pembaca merasa menjadi bagian dari proses kreatif sebuah buku.

Aktivitas literasi mulai diskusi ringan tentang judul buku, pencarian referensi buku pengembangan diri, hingga konsultasi buku menjadi hal yang kini lazim di Jendelabook. Banyak pembaca datang untuk mencari jawaban atas masalah mereka melalui buku. Tak hanya masyarakat umum Jendelabook juga menjadi jujugan bagi mahasiswa, akademisi maupun peneliti untuk mencari referensi dan berdiskusi.

"Di kita juga menyediakan sudut kecil atau meja komunal yang mengizinkan pengunjung untuk duduk dan berdiskusi. Kita juga menyediakan beberapa buku sampel yang sudah dibuka segelnya untuk dibaca di tempat. Memberikan akses bagi mahasiswa atau peneliti untuk melihat referensi kunci tanpa harus membeli terlebih dahulu." katanya.

Jendelabook menyediakan fasilitas utama berupa kurasi buku yang terarah, khususnya di kategori self improvement. Buku-buku yang tersedia tidak hanya banyak secara jumlah, tetapi juga dipilih berdasarkan kebutuhan pembaca saat ini, seperti pengembangan diri, kesehatan mental, produktivitas, parenting, hingga bisnis.

3. Sarana mengenalkan literasi sejak usia dini

Aktivitas pengunjung membaca dan berdiskusi buku di Jendelabook, Klaten. Selain toko buku Jendelabook juga terus berupaya menumbuhkan literasi di tengah masyarakat. (IDN Times/Bandot Arywono)

Selain itu, di Jendelabook juga membantu pembaca dengan memberikan rekomendasi buku yang sesuai dengan kondisi mereka, sehingga tidak merasa bingung dalam memilih. Pendekatan ini membuat proses membaca menjadi lebih relevan dan berdampak, karena pembaca merasa buku yang mereka pilih benar-benar menjawab kebutuhan mereka.

"Banyak ide, tulisan, hingga arah berpikir baru lahir dari interaksi pembaca di Jendelabook. Hal ini karena kebutuhan pembaca sekarang semakin berkembang, terutama dari kalangan anak muda yang mencari arah hidup, orang tua yang ingin belajar parenting, hingga pebisnis yang ingin meningkatkan kapasitas diri," ungkapnya.

Upaya meningkatkan literasi diantaranya juga menggunakan media sosial bukan hanya untuk jualan katalog, tapi untuk berbagi intisari dari sebuah buku. Membuat konten untuk memahami Psikologi Populer atau "Kutipan Hari Ini" yang memicu perdebatan sehat di kolom komentar. Ini memancing orang penasaran untuk membaca versi lengkapnya di buku tersebut.

Tak hanya sebagai toko buku, Jendelabook bilang Yahya juga menjadi sarana pengenalan literasi sejak dini kepada siswa PAUD maupun TK, SD hingga pelajar sekolah menengah. Jendelabook juga menjadi tempat outing class dan juga field trip para siswa, belajar di luar kelas. Para siswa diajak berkeliling di dalam toko buku diperkenalkan berbagai jenis buku dan menanamkan pentingnya membaca buku bahkan sejak mereka para siswa ini mengenal huruf

4. Melakukan pendekatan personal agar pengunjung merasa nyaman

Ruangan di Jendelabook, Klaten yang merupakan toko buku terlengkap di Klaten. Selain toko buku Jendelabook juga terus berupaya menumbuhkan literasi di tengah masyarakat. (IDN Times/Bandot Arywono)

Fenomena menarik terjadi di Jendelabook. Mayoritas pengunjung yang datang adalah anak muda yang sedang mencari arah hidup, orang tua yang belajar parenting, hingga pebisnis yang ingin naik kelas. Buku-buku kategori self-improvement, psikologi populer, dan produktivitas menjadi primadona yang paling sering ludes diburu.

Pendekatan personal menjadi kunci mengapa tempat ini terasa sangat nyaman. Para staf di sini tidak hanya berjaga di balik kasir, tapi juga siap menjadi teman diskusi bagi pembaca yang kebingungan memilih referensi. Banyak diantara pengunjung yang datang merasa nyaman berlama-lama di toko ini hal ini karena pendekatan yang personal, bukan sekadar transaksi.

Satu diantaranya Yesi (16) siswa Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Klaten, Yesi mengaku cukup sering berkunjung ke Jendelabook untuk mencari referensi mempersiapkan diri menghadapi Ujian Sekolah (US) atau Asesmen Sekolah.

"Biasanya memang cari referensi buku-buku pelajaran untuk ujian sekolah,contoh-contoh soal dan juga pembahasannya" ucapnya. Dia mengaku mengajak temannya untuk belajar dan mendiskusikan soal-soal hingga pembahasannya karena di Jendelabook menyediakan buku sampel yang sudah dibuka segelnya untuk dibaca di tempat pojok meja komunal tempat berdiskusi.

Pengunjung lainnya Aprilia (19) seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta asal Klaten mengaku cukup sering mencari referensi untuk tugas-tugas kampus, dan Jendelabook menjadi satu diantara toko buku yang menjadi jujugannya. "Cukup sering ke sini, selain tempatnya nyaman, merupakan toko buku terlengkap. Kita juga bisa membaca, mencari referensi untuk tugas-tugas kampus," ucap mahasiswa Fakultas Ekonomi satu diantara kampus swasta di Yogyakarta ini.

Selain buku-buku sebagai referensi mengerjakan tugas, Aprilia juga mengaku tertarik membaca buku-buku pengembangan diri atau perbaikan diri, dan Jendelabook menurutnya menjadi satu diantara toko buku self improvement terpercaya. Menurutnya Jendelabook menjadi salah satu toko buku self improvement terlengkap, sebagai alternatif Gramedia untuk buku self improvement. "Rekomendasi toko buku self improvement, aku sering beli di Jendela, koleksinya lengkap dan sering diskon," ucapnya.

5. Misi besar menghidupkan api literasi

Direktur Jendelabook Yahya Yunanta. (IDN Times/Bandot Arywono)

Direktur Jendelabook Yahya Yunanta mengatakan buku-buku self improvement yang mereka temukan di Jendelabook seringkali menjadi titik awal perubahan, baik dalam cara berpikir, kebiasaan, maupun keputusan hidup. Dari situlah kemudian muncul diskusi, refleksi, bahkan keinginan untuk menulis atau berbagi kembali kepada orang lain.

Dengan pendekatan yang manusiawi dan personal, Jendelabook membuktikan bahwa di tengah gempuran literasi digital, toko buku fisik tetap punya nyawa jika ia mampu menjadi sahabat bagi pembacanya. Dalam beberapa tahun terakhir, Jendelabook juga mulai dikenal sebagai salah satu toko buku self improvement yang berkembang pesat di Indonesia, terutama melalui platform digital seperti TikTok Shop dan Shopee.

Jendela Toko Buku resmi berdiri pada tanggal 4 Juni 2007. Berpusat di Jl. Pemuda No. 36, Klaten, Jawa Tengah, toko ini dikenal sebagai toko buku diskon yang menyediakan berbagai kebutuhan literasi serta alat tulis. Seiring perkembangannya, toko ini telah berekspansi dengan membuka cabang di beberapa kota, yaitu Magelang, Salatiga, dan Boyolali. Dengan jangkauan yang kini meluas Jendelabook tidak hanya hadir sebagai penyedia buku, alat tulis, maupun penerbitan, tetapi memikul misi yang lebih besar: menghidupkan api literasi di tengah masyarakat.

Editorial Team