Pengunjung tengah memilih judul buku di Jendelabook, Klaten. Selain toko buku Jendelabook juga terus berupaya menumbuhkan literasi di tengah masyarakat. (IDN Times/Bandot Arywono)
Begitu melangkahkan kaki melewati pintu kaca di toko Buku Jendela, di Jl. Pemuda No. 36, Klaten, pandangan segera disambut oleh barisan rak yang menjulang, membentuk lorong-lorong rapi yang membelah ruangan. Di bawah pendar lampu yang benderang namun tetap nyaman bagi retina, ribuan sampul buku terbaru memamerkan desain grafis yang mencolok—mulai dari nuansa pastel buku motivasi hingga warna-warna kontras komik remaja. Visual ini menciptakan keteraturan yang estetik, di mana setiap blok kategori menjadi navigasi visual yang memandu langkah kaki menembus rimba literasi.
Di dalam ruang ini, keriuhan pusat perbelanjaan di luar seolah diredam oleh dinding-dinding penuh buku. Samar-samar terdengar desah halus mesin pendingin ruangan yang bekerja konsisten menjaga atmosfer di dalam toko terjaga dalam suhu yang stabil, menyisakan sensasi sejuk, menciptakan kenyamanan yang membuat siapa pun betah berlama-lama. Sesekali, keheningan itu dipecah oleh suara bunyi khas kertas yang saling bergesekan saat seorang pengunjung membalik halaman buku contoh dengan saksama di pojok baca.
Di antara aroma kertas baru yang samar dan udara yang tenang, pengunjung diajak untuk tidak sekadar datang dan membeli, tetapi juga mencerap kedalaman ruang melalui seluruh indra yang ada sebuah pengalaman fisik yang mengukuhkan posisi toko buku sebagai ruang kontemplasi di tengah kota.
Sejak menanamkan akarnya pada tahun 2007 di jantung Kota Klaten, tepatnya di Jl. Pemuda No. 36, Jendelabook Indonesia telah tumbuh menjadi lebih dari sekadar jaringan toko buku diskon terkemuka. Dari yang hanya penyedia buku, alat tulis, tetapi memikul misi yang lebih besar menghidupkan api literasi di tengah masyarakat.
"Jendelabook pada awalnya memang berangkat sebagai toko buku Jendela, tetapi seiring waktu, berkembang menjadi ruang literasi yang lebih hidup. Interaksi dengan pembaca membuat kami memahami bahwa kebutuhan mereka bukan hanya membeli buku, tetapi mencari solusi, terutama melalui buku self improvement," kata Direktur Jendelabook, Yahya Yunanta mengisahkan awal ia menginisiasi Jendelabook.
Alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ini mengatakan upaya menghidupkan literasi di antaranya melakukan kurasi buku berbasis masalah, alih-alih menyusun buku berdasarkan abjad atau penerbit, di Jendelabook mengelompokkan buku berdasarkan kebutuhan emosional atau fase hidup pengunjung.
Selain itu pihaknya juga menempatkan staf bukan hanya sebagai penjaga kasir, tapi sebagai konsultan literasi. Mengobrol dengan pengunjung, menanyakan apa yang sedang mereka rasakan atau pelajari, lalu memberikan rekomendasi buku yang personal.