Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sering Disepelekan, 4 Pantangan Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya Warga Jateng

Sering Disepelekan, 4 Pantangan Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya Warga Jateng
Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya Sih
  • Malam 1 Suro dipandang sakral oleh masyarakat Jawa Tengah sebagai momen spiritual untuk introspeksi diri dan menjaga keselarasan dengan alam.
  • Terdapat empat pantangan utama yang masih dipercaya, seperti tidak keluar malam, menjaga ucapan, menunda hajatan besar, serta menghindari pindah rumah atau membuka usaha baru.
  • Di balik mitosnya, pantangan tersebut mengandung nilai moral agar masyarakat fokus beribadah, menjaga ketenangan batin, dan menghormati tradisi leluhur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surakarta, IDN Times — Masyarakat Jawa Tengah sebentar lagi akan menyambut pergantian tahun baru Islam atau yang lebih dikenal dengan momen Malam 1 Suro. Pada tahun ini, Malam 1 Suro yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1448 Hijriah diprediksi akan jatuh pada hari Selasa, 16 Juni 2026 mendatang.

Bagi masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Jateng, Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian kalender biasa. Malam ini dianggap sebagai waktu yang sangat sakral, penuh energi spiritual, dan menjadi momen untuk introspeksi diri (tapa brata).

Meskipun zaman sudah modern, sebagian besar warga Jateng ternyata masih memegang teguh sejumlah mitos dan tradisi warisan leluhur. Salah satunya adalah pantangan-pantangan mistis yang tidak boleh dilanggar agar terhindar dari kesialan (bencana).

Sering dianggap sepele oleh generasi muda, berikut adalah 4 pantangan Malam 1 Suro yang sampai saat ini masih dipercaya kuat oleh warga Jawa Tengah. Simak ulasannya, Lur!

1. Keluar Rumah Tanpa Urusan Mendesak Tengah Malam

Kirab Pusaka Malam 1 Suro Pura Mangkunegaran. (IDN Times/Larasati Rey)
Kirab Pusaka Malam 1 Suro Pura Mangkunegaran. (IDN Times/Larasati Rey)

Pantangan paling populer yang masih dipatuhi hingga kini adalah larangan beraktivitas di luar rumah pada tengah malam jika tidak ada urusan yang benar-benar penting atau mendesak.

Mitosnya: Malam 1 Suro dipercaya sebagai waktu di mana gerbang gaib terbuka lebar dan energi negatif sedang berada di puncaknya. Berada di jalanan pada waktu tersebut dipercaya bisa membuat seseorang rentan terkena sawan atau kesialan.

Faktanya: Secara logika, larangan ini mengajak masyarakat untuk lebih banyak berdiam diri di rumah atau tempat ibadah guna berdoa, berzikir, dan merenungkan perbuatan selama setahun terakhir, ketimbang keluyuran tak tentu arah.

2. Berbicara Kasar, Angkuh, atau Berisik disarankan tapa bisu

Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)
Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)

Saat malam pergantian tahun Jawa tersebut tiba, suasana di beberapa daerah keraton atau desa-desa adat di Jateng biasanya akan mendadak hening dan sepi. Hal ini berkaitan dengan adanya ritual Tapa Bisu.

Mitosnya: Mengucapkan kata-kata kotor, makian, sesumbar, atau membuat kegaduhan di Malam 1 Suro dipercaya bisa mendatangkan petaka. Konon, ucapan buruk yang keluar pada malam sakral tersebut bisa langsung "diijabah" oleh alam menjadi kenyataan pahit.

Faktanya: Pantangan ini melatih kita untuk menjaga lisan, menahan hawa nafsu, serta menghormati kesakralan malam yang penuh doa.

3. Mengadakan Hajatan Besar seperti Pernikahan

Kirab malam 1 Suro Pura Mangkunegaran. (IDN Times/Larasati Rey)
Kirab malam 1 Suro Pura Mangkunegaran. (IDN Times/Larasati Rey)

Jika kamu perhatikan, hampir tidak ada warga asli Jawa Tengah yang berani menggelar pesta pernikahan, khitanan, atau hajatan besar lainnya di sepanjang bulan Suro, terutama pada malam pembukaannya.

Mitosnya: Menggelar pesta pernikahan di bulan Suro dipercaya bisa mendatangkan keretakan rumah tangga atau tertimpa nasib buruk bagi pasangan pengantin. Ada pula mitos yang menyebut jika nekat membuat pesta, maka hajatan tersebut akan sepi karena saingan dengan "pesta" makhluk gaib.

Faktanya: Bulan Suro dikhususkan sebagai waktu untuk prihatin dan memanjatkan doa keselamatan. Mengadakan pesta pora dinilai kurang etis dan bertolak belakang dengan esensi kesederhanaan serta keprihatinan spiritual bulan Suro.

4. Pindah Rumah atau Membuka Usaha Baru

Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)
Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)

Bagi kamu yang berencana memulai bisnis baru atau pindah ke hunian baru, sesepuh Jawa biasanya akan menyarankan untuk menunda rencana tersebut hingga bulan Suro berakhir.

Mitosnya: Memulai usaha atau menempati rumah baru di Malam 1 Suro dianggap menentang jalannya kalender kosmis yang sedang "istirahat". Akibatnya, bisnis dipercaya bisa seret atau rumah baru menjadi tidak harmonis dan terasa panas.

Faktanya: Larangan ini sebenarnya bertujuan agar fokus masyarakat tidak terpecah oleh urusan keduniawian yang berat, sehingga bisa sepenuhnya fokus beribadah dan berkumpul bersama keluarga untuk berdoa.

Percaya atau tidak terhadap mitos-mitos di atas, esensi utama dari Malam 1 Suro atau 1 Muharram adalah waktu untuk berbenah diri (hijrah) menjadi pribadi yang lebih baik. Menghormati adat istiadat setempat adalah bagian dari merawat kekayaan budaya yang membuat Jawa Tengah selalu guyub rukun.

Bagaimana dengan daerah tempat tinggalmu, Lur? Apakah masih ada tradisi pantangan unik lainnya menjelang tanggal 16 Juni nanti?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More