Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cerita Mbah Darso, Tukang Masak Kampung yang Handal Asal Sukoharjo

Cerita Mbah Darso, Tukang Masak Kampung yang Handal Asal Sukoharjo
Mbah Darso menata makanan saat hajatan di kampung. (Dok/Istimewa)

Darso atau yang kerap disapa Mbah Darso ini merupakan koki kampung yang telah terkenal di kampungnya Tanjung Anom, Sukoharjo, Jawa Tengah. Beliau selalu dipercaya oleh warga kampung dalam membuat sajian manten atau pernikahan sejak tahun 1968.

Dengan kepiawaiannya menyajikan manakan, Mbah Darso yang saat ini sudah wafat memiliki katering yang dibuat oleh anak-anaknya. Mungkin belum banyak yang mengenal nama Darso Katering, namun berkat nama kondang Mbah Darso koki kampung menjadi lain cerita.

1. Awalnya merupakan koki kampung panggilan.

Anak-Anak Mbah Darso saat pembukaan Darso katering. (IDN Times/Larasati Rey)
Anak-Anak Mbah Darso saat pembukaan Darso katering. (IDN Times/Larasati Rey)

Awal mula Mbah Darso disebut sebagai koki kampung yakni pada saat itu ia bersahabat karib dengan Mbah Wongso dan Mbah Asmo. Pada suatu ketika Mbah Asmo meminta bantuan kepada Mbah Darso untuk berbelanja keperluan memasak di pasar guna acara pernikahan anak Mbah Asmo.

Singkat cerita sebenarnya Mbah Asmo mencari cara praktis untuk memenuhi keperluan sajian pernikahan anaknya, maka dari itu Mbah Darso dipercaya menjadi Koki oleh Mbah Asmo karena kepiawaian Mbah Darso meracik sajian dan citarasa masakan Mbah Darso yang nikmat untuk disantap.

"Sebelumnya Mbah Darso telah memahami takaran, ukuran, serta bahan rempah-rempah untuk memasak hidangan tersebut. Dari sinilah nama Mbah Darso mulai dikenal oleh warga, sajian yang telah tersebar ke lidah-lidah warga menjadikan Mbah Darso sebagai koki kampung yang terkenal," ujar Owner Darso Katering yang juga cucu Mbah Darso, Yohanes Eka Setiawan, Selasa (21/2/2023).

Berkat masakan yang enak dan memiliki cita rasa yang khas, warga sekitar mulai mempercayakan segala acara baik hajatan pernikahan, acara khitanan, atau hajatan lainnya kepada Mbah Darso sebagai juru masak.

2. Sebagai Koki Kampung serta pedagang tenongan yang ulet.

Mbah Darso menata makanan saat hajatan di kampung. (Dok/Istimewa)
Mbah Darso menata makanan saat hajatan di kampung. (Dok/Istimewa)

Mbah Darso memiliki 6 anak diantarnya adalah; Surip, Sumi, Jumadi, Jumino, Jumarni, dan Kusyati. Untuk memenuhi kebutuhan harian, Mbah Darso berjualan tenongan di pagi hari, beberapa menu yang dijual sepert Bubur, Nasi Sayur, Gudeg, Sambal Goreng, Tumpang Terik dan aneka lauk pauk lainnya.

Pada siang hari Mbah Darso melanjutkan dagangannya dengan menggendong jualannya berkeliling kampung, menu yang dijajakan adalah Bakmi Toprak.

Semua masakan disiapkan oleh Mbah Darso dengan bantuan anak-anak nya, Mbah Darso selalu memberikan wejangan atau nasehat kepada anak-anaknya bahwa "Sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mblancangi, dhuwur tan nungkuli (bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih, cepat tanpa harus mendahului, tinggi tanpa harus melebihi)."

Wejangan tersebut selalu ditanamkan Mbah Darso kepada anak-anaknya secara turun temurun. Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat Mbah Darso harus pandai dalam mengatur keuangaan dan mencari pendapatan yang lain.

"Mbah Darso sangat bersyukur beliau mendapatkan kepercayaan warga untuk menjadi koki kampung yang handal.Pada setiap acara Mbah Darso selalu mengikutsertakan ke-2 anaknya yaitu Surip dan Sumi untuk membantunya menjadi asisten koki dalam hal meracik bumbu dan resep yang akan disajikan," jelas Yohanes.

Kedua anaknya kemudian berantusias untuk terus belajar memasak serta meracik citarasa sajian yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Ibu mereka.

Surip dan Sumi kemudian handal juga dalam meracik sajian hingga akhirnya mereka mengerjakan racikan sendiri tanpa Ibu mereka. Keahlian memasak ini yang akhirnya dapat diwariskan Mbah Darso kepada anak-anaknya.

3. Dirikan katering demi mengenang Mbah Darso.

Menu Darso Catering. (IDN Times/Larasati Rey)
Menu Darso Catering. (IDN Times/Larasati Rey)

Yohanes mengatakan Mbah Darso berpulang di usia 84 tahun. Warisan keahlian memasak dari sang Ibunda membuat anak-anak Mbah Darso bertekad untuk mengembangkannya di bidang catering yang sekarang telah menjadi Catering Darso.

"Catering Darso memiliki beragam Menu Racikan yang masih dipertahankan dalam tradisi unik piring terbang di Solo Raya," ujarnya.

Perlu diketahui, tradisi piring terbang berkembang dan melekat di tengah masyarakat sejak zaman Kerajaan Mataram. Dahulu, tradisi ini digunakan karena dilatarbelakangi dengan banyaknya tamu yang berdiri ketika menyantap hidangan. Oleh sebab itu, untuk menghormati tamu, muncullah tradisi piring terbang.

Yohanes mengatakan paket promo katering di mana konsumen berkesempatan mendapatkan paket bulan madu secara gratis selama sepekan di Pulau Bali. Pertama, tawaran tersebut hanya untuk pemesanan pada paket nasi racikan saffron dan kapulaga, minimal pemesanan 800 porsi dalam sekali event. Kemudian, berlaku hanya untuk pasangan pengantin dan tidak dapat diuangkan. Jika hadiah tidak diambil maupun dipakai, hadiah tersebut akan hangus.

"Paket promo tersebut berlaku bagi pemesan sebelum tanggal Agustus 2023 mendatang. Jadi semua akomodasi dari hotel berbintal, tiket masuk ke lokasi wisata dan berbelanja kita siapkan secara gratis," ungkapnya.

Harga paket katering tersebut mulai Rp22.500 per porsi.BDarso Catering juga melayani berbagai macam acara, untuk nasi box ataupun snack box. Dengan paket nasi box mulai harga Rp10.000 hingga Rp22.000 per kotak. Kemudian bento dewasa mulai harga Rp14.000 hingga Rp20.000 per porsi, serta bento anak mulai Rp8.000 hingga Rp17.000 per kotak.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
Larasati Rey
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Hadapi El Nino, 1 Juta Liter Air Siap Didistribusikan di Semarang

10 Apr 2026, 13:34 WIBNews