Hadapi El Nino, 1 Juta Liter Air Siap Didistribusikan di Semarang

- Pemerintah Kota Semarang menyiapkan satu juta liter air bersih untuk menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncak hingga September 2026.
- Wali Kota Agustina Wilujeng mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem dan risiko kebakaran, serta menjaga lingkungan di tengah kondisi panas dan angin kencang.
- BPBD Semarang menyatakan pola cuaca 2026 lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya dan siap mendistribusikan cadangan air bersih kapan pun warga membutuhkan di wilayah terdampak.
Semarang, IDN Times - Pemerintah Kota Semarang mempersiapkan diri untuk menghadapi potensi dampak musim kemarau panjang atau fenomena El Nino. Salah satu upaya antisipatif, yakni menyediakan cadangan air bersih untuk didistribusikan kepada warga yang terdampak kekeringan.
1. Mitigasi bencana kekeringan

Sebanyak satu juta liter air telah disiapkan sebagai bagian kesiapsiagaan dari mitigasi bencana kekeringan di Kota Semarang. Adapun, musim kemarau ini diperkirakan akan mencapai puncaknya hingga September 2026.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dinilai semakin tidak menentu ini.
Sedangkan, dalam upaya penanganan tersebut, kolaborasi lintas instansi akan dilakukan, termasuk dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
“Mudah-mudahan begitu kami mendengar ada kekurangan air di daerah kekeringan, kami bisa siapkan airnya,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
2. Masyarakat perlu sadar terhadap potensi bencana

Untuk diketahui, perubahan cuaca ekstrem telah mulai dirasakan masyarakat, sebagaimana saat ini suhu panas meningkat signifikan. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga memasuki puncak musim kemarau.
Agustina menyampaikan, bahwa masyarakat perlu lebih sadar terhadap potensi risiko, termasuk bahaya kebakaran akibat daun kering dan angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api.
“Jadi, masyarakat harus aware ya. Walaupun kadang-kadang orang berasumsi ini cuaca tidak menentu, tapi ini sudah jelas bahwa kita harus menjaga,” tuturnya.
Sementara, Kota Semarang yang memiliki kombinasi wilayah perbukitan, lembah, sungai, hingga pesisir laut disebut turut memperbesar potensi risiko bencana jika tidak diantisipasi secara matang.
3. Air bersih siap didistribusikan

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono mengatakan, pola cuaca pada tahun 2026 dinilai lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya. Perubahan suhu yang drastis hingga hujan tiba-tiba disertai angin kencang disebut menjadi fenomena yang perlu diwaspadai.
“Kalau dibandingkan dengan 2025, tahun 2026 ini relatif fenomenal sekali. Ini cuaca panas, tiba-tiba nanti menjelang siang atau sore hujan deras disertai dengan angin kencang,” terangnya.
Berdasarkan notifikasi dari BMKG, disebutkan bahwa awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Mei, meskipun hingga April masih berpotensi terjadi hujan dan angin kencang.
Sebagai langkah konkret, BPBD Kota Semarang telah menyiapkan cadangan air bersih sebanyak satu juta liter yang akan didistribusikan sesuai permintaan warga di wilayah terdampak.
“Kapanpun permintaan warga, di manapun nanti akan kami kirim sesuai permintaan warga,” tandas Endro.

















