Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Para Difabel Pulang Kampung ke Jateng: Info di Radio Gak Bohong
Seorang tuna netra duduk di kursi belakang bis yang akan membawa mudik ke Jateng. (IDN Times/Dom Humas Pemprov Jateng)
  • Pemprov Jawa Tengah menggelar program mudik gratis bagi penyandang disabilitas dan pekerja informal, dengan keberangkatan dari TMII menuju berbagai kota di Jateng.
  • Peserta seperti Agus dan Sugiyanto merasa terbantu karena tak perlu memikirkan biaya perjalanan serta mendapat pelayanan ramah difabel sejak pendaftaran hingga keberangkatan.
  • Tingginya antusiasme masyarakat dipicu mahalnya harga tiket, namun kuota bus masih terbatas sehingga banyak pihak berharap armada ditambah pada tahun berikutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Sang fajar menyingsing ketika sejumlah penyandang disabilitas semburat berdatangan ke pelataran Museum Purna Bhakti TMII, Jakarta, Senin (16/3/2026).

Mereka umumnya antusias karena bisa ikut kegiatan mudik gratis yang diinisiasi Pemprov Jateng. 

Agus, seorang tunanetra yang akan pulang ke Terminal Tirtonadi, Solo mengaku senang bisa kembali mengikuti program mudik gratis, setelah sempat terhenti beberapa tahun akibat pandemik.

“Senang bisa ikut mudik. Info di radio itu benar, tidak bohong,” kata Agus. 

Agus di Jakarta jadi tukang cuci dan tukang pijat

Seorang tuna netra dituntun oleh temannya saat aka masuk ke dalam bus mudik gratis. (IDN Times/Humas Pemprov Jateng)

Agus mengatakan, pelaksanaan mudik gratis sangat berarti baginya. Tanpa harus memikirkan ongkos perjalanan, uang yang dimiliki bisa digunakan untuk kebutuhan lain.

“Yang penting bisa buat makan, baju, celana, itu sudah alhamdulillah. Mudik gratis ini membantu sekali karena tidak keluar biaya ongkos,” akunya. 

Di Jakarta, Agus saban hari kerja serabutan membantu temannya. Mulai dari mencuci sprei hingga pijat. Oleh karena itu, ia berharap program mudik gratis tetap dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang.

“Semoga tahun depan bisa mudik gratis lagi,” kata Agus. 

Pelayanan bagi pemudik difabel juga dirasakan cukup baik. Agus mengaku dibantu petugas sejak tiba di lokasi, hingga menuju bus keberangkatan.

"Tadi diantar ke sini, dilayani juga. Bagus, memuaskan," ungkapnya.

Jumlah kuota bus belum menampung semuanya

Seorang tuna daksa berjalan menuju halaman TMII. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Senada, Sugiyanto (44), penyandang difabel lain yang akan mudik ke Boyolali juga merasakan antusias masyarakat mengikuti program mudik gratis tahun ini meningkat dibandingkan sebelumnya.

Menurut Sugiyanto, sebagian besar peserta mudik berasal dari kalangan pekerja nonformal seperti buruh harian, pekerja rumah tangga, pekerja proyek bangunan, hingga pengemudi ojek online.

Ia menilai, pelayanan difabel dan lansia dalam program mudik gratis terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Bahkan, terdapat prioritas pendaftaran bagi kelompok tersebut.

“Teman-teman difabel dan lansia terlayani dengan baik. Ada prioritas pendaftaran di Badan Penghubung,” katanya.

Meski begitu, Sugiyanto menilai masih ada beberapa tantangan di lapangan, khususnya bagi difabel netra atau pengguna kursi roda. Namun secara umum fasilitas bus dinilai cukup ramah.

“Kalau difabel fisiknya relatif aman. Busnya juga nyaman dan ramah,” ujarnya.

Program mudik gratis ini juga melibatkan berbagai paguyuban perantau Jawa Tengah di Jakarta. Humas Perkumpulan Masyarakat Batang, Mardiyono mengatakan, antusiasme masyarakat sangat tinggi setiap tahun.

“Antusiasnya luar biasa. Banyak pekerja informal seperti penjahit, buruh, pedagang, hingga ibu rumah tangga yang ikut,” kata Mardiyono.

Menurutnya, jumlah kuota bus sering kali belum mampu menampung seluruh peminat. Karena itu, diharapkan ke depan jumlah armada bisa ditambah.

“Harapannya busnya bisa ditambah karena antreannya masih panjang,” ujarnya.

Antusias pemudik tinggi karena harga tiket mahal

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi berbicara dengan pemudik difabel. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng (

Sugeng Afrianto dari Paguyuban Banjarnegara, menyebut kenaikan harga tiket angkutan, membuat minat masyarakat mengikuti mudik gratis semakin tinggi.

Antusiasnya ikut tinggi karena harga tiket juga naik. Banyak pekerja seperti driver, ojek online, pedagang yang bisa memanfaatkannya 

“Semoga ke depan bisa ditambah lagi, karena peminatnya semakin banyak setiap tahunnya,” ujarnya.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melepas para pemudik. Ia berpesan, Program Mudik Gratis Pemprov Jawa Tengah bisa dimanfaatkan secara maksimal. Program itu mengusung slogan Jateng Mudik Gampang, Balik Tenang.

Editorial Team