Seorang tuna daksa berjalan menuju halaman TMII. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)
Senada, Sugiyanto (44), penyandang difabel lain yang akan mudik ke Boyolali juga merasakan antusias masyarakat mengikuti program mudik gratis tahun ini meningkat dibandingkan sebelumnya.
Menurut Sugiyanto, sebagian besar peserta mudik berasal dari kalangan pekerja nonformal seperti buruh harian, pekerja rumah tangga, pekerja proyek bangunan, hingga pengemudi ojek online.
Ia menilai, pelayanan difabel dan lansia dalam program mudik gratis terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Bahkan, terdapat prioritas pendaftaran bagi kelompok tersebut.
“Teman-teman difabel dan lansia terlayani dengan baik. Ada prioritas pendaftaran di Badan Penghubung,” katanya.
Meski begitu, Sugiyanto menilai masih ada beberapa tantangan di lapangan, khususnya bagi difabel netra atau pengguna kursi roda. Namun secara umum fasilitas bus dinilai cukup ramah.
“Kalau difabel fisiknya relatif aman. Busnya juga nyaman dan ramah,” ujarnya.
Program mudik gratis ini juga melibatkan berbagai paguyuban perantau Jawa Tengah di Jakarta. Humas Perkumpulan Masyarakat Batang, Mardiyono mengatakan, antusiasme masyarakat sangat tinggi setiap tahun.
“Antusiasnya luar biasa. Banyak pekerja informal seperti penjahit, buruh, pedagang, hingga ibu rumah tangga yang ikut,” kata Mardiyono.
Menurutnya, jumlah kuota bus sering kali belum mampu menampung seluruh peminat. Karena itu, diharapkan ke depan jumlah armada bisa ditambah.
“Harapannya busnya bisa ditambah karena antreannya masih panjang,” ujarnya.