Cuma Ramai Momen Tertentu, Pengelola Wisata Jateng Diminta Lebih Ramah

- Fraksi Gerindra DPRD Jateng menemukan sejumlah destinasi wisata hanya ramai di momen tertentu dan menilai pengelolaan serta inovasi promosi masih belum optimal.
- Sudarsono menekankan pentingnya evaluasi mendalam terhadap tata kelola pariwisata agar kunjungan wisatawan tidak bersifat musiman dan mampu menggerakkan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
- Peningkatan kualitas layanan seperti kebersihan, keramahan, dan narasi budaya lokal dinilai penting agar destinasi wisata Jateng lebih kompetitif serta memperkuat peran desa wisata dalam ekonomi masyarakat.
Semarang, IDN Times - Sejumlah pengelola tempat wisata wilayah Jawa Tengah sebaiknya perlu menunjukkan sikap yang lebih ramah terhadap para wisatawan yang datang untuk berlibur. Sebab, dari temuan sejumlah anggota Fraksi Gerindra DPRD Jateng, beberapa tempat wisata justru hanya ramai pada momen tertentu saja.
Dari hasil peninjauan langsung ke sejumlah destinasi, ditemukan beragam persoalan mulai dari pengelolaan yang belum optimal hingga kurangnya inovasi dalam menarik minat wisatawan.
Table of Content
1. Sudarsono: Obyek wisata harus ciptakan dampak berkelanjutan

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jawa Tengah, Sudarsono, mengatakan kondisi tersebut menjadi catatan penting hasil reses anggota fraksi di berbagai sektor pariwisata.
Dari kegiatan reses, pihaknya tidak hanya memantau program pembangunan pemerintah, tetapi juga menyerap dan menghimpun aspirasi secara langsung.
"Objek wisata tidak boleh hanya ramai saat momen tertentu, tetapi harus mampu menciptakan kunjungan berkelanjutan melalui manajemen promosi yang cerdas dan terintegrasi," katanya, Rabu (1/4/2026).
2. Fraksi Gerindra usul perlu evaluasi mendalam di sektor wisata

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah, jumlah kunjungan wisatawan pada momen libur Lebaran 2026 mencapai 687.470 orang. Jumlahnya melonjak 5,25 persen ketimbang periode sama pada 2025 sebanyak 653.178 kunjungan.
Meski begitu, ia menilai peningkatan jumlah wisatawan dinilai belum mencerminkan keberlanjutan kunjungan wisata sepanjang tahun.
Sudarsono bilang tanpa pembenahan tata kelola yang serius, potensi besar sektor pariwisata Jawa Tengah belum dapat dimaksimalkan sebagai penggerak ekonomi daerah.
“Di sektor pariwisata, kami memandang perlu evaluasi mendalam terhadap tata kelola objek wisata agar mampu bersaing dalam jangka panjang,” aku Anggota Komisi C DPRD Jateng tersebut.
3. Jateng perlu tunjukkan keramahan, kebersihan dan kreativitas

Selain aspek promosi, pihaknya juga menyoroti perlunya peningkatan kualitas layanan di destinasi wisata. Mulai dari kebersihan, keramahan, hingga penguatan narasi budaya yang menjadi daya tarik khas daerah.
“Belajar dari pengelolaan pariwisata di DIY, Jawa Tengah perlu mengedepankan kebersihan, keramahan, dan kreativitas narasi budaya agar memiliki daya saing yang kuat,” urainya.
Lebih lanjut, pihaknya meminta Pemprov Jawa Tengah untuk memperkuat dukungan dan pembinaan terhadap pelaku pariwisata, khususnya desa wisata, agar mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
Khusus pengelolaan desa wisata, katanya semestinya memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi lokal. Agar nantinya menjadi ujung tombak pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Jawa Tengah.
"Begitulah realita yang kami dapatkan di lapangan, perlu ada pembenahan. Apalagi kita tahu bahwa pengembangan wisata sangat penting dalam menyumbang pendapatan daerah," tuturnya.



















