Dari Patah Hati, Pelarian Rifa Menjaga Asa Warga Muria

- Program One Action One Tree (OAOT) dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation mengonversi aktivitas anak muda seperti lari dan bersepeda menjadi bibit pohon untuk konservasi di lereng Gunung Muria.
- Kolaborasi BLDF, PEKA Muria, dan komunitas lokal mendorong agroforestri agar konservasi sejalan dengan ekonomi warga, meningkatkan nilai jual kopi hingga Rp70.000 per kilogram.
- Inisiatif OAOT menyatukan partisipasi publik, aksi lapangan, dan penguatan ekonomi desa; menegaskan bahwa menjaga lingkungan harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Kudus, IDN Times - Muhammad Rifa Febrian tidak pernah membayangkan langkah-langkah kecilnya di jalanan Jakarta akan berujung di lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Beberapa bulan setelah hubungan asmaranya kandas pada Oktober 2024, pemuda 22 tahun itu mulai berlari untuk satu alasan yang begitu personal: menjaga dirinya tetap waras. Di tengah hari-harinya yang terasa limbung, lari menjadi ruang katarsis, tempat ia menyalurkan penat tanpa banyak bicara.
Kebiasaan itu lalu ia jalani lebih rutin sejak Februari 2025. Sedikit demi sedikit, tanpa terasa, jarak tempuhnya terus menumpuk hingga mencapai 176 kilometer.
Dalam situasi biasa, angka itu mungkin hanya akan tinggal sebagai catatan di aplikasi kebugaran: deretan statistik tentang jarak, kalori yang terbakar, dan peluh yang mengering di jalan. Tapi, langkah-langkah Rifa ternyata tidak berhenti sebagai urusan pribadi.
Melalui inisiatif One Action One Tree (OAOT) gagasan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), setiap satu kilometer aktivitas lari dikonversi menjadi satu bibit pohon. Rifa mengikuti program itu dan jarak yang ditempuhnya pun berubah menjadi bibit-bibit yang kemudian ditanam di lahan kritis lereng Gunung Muria.
Bahkan, Rifa tercatat sebagai pemuncak leaderboard kategori lari dalam program OAOT 2026.
“Selagi itu positif, jalanin yang berguna. Dari pelampiasan hobi saya berlari, lelahnya dikonversi menjadi bibit tanaman yang kelak berbuah untuk orang lain,” ujar Rifa kepada IDN Times saat di Kudus, Selasa (10/2/2026).
Rifa bukan satu-satunya. Ia adalah satu dari 650 peserta yang menunjukkan bahwa bahan bakar pelestarian alam bisa tumbuh dari kebiasaan personal sehari-hari. Skema seperti itu memang sederhana. Namun justru di situlah letak kekuatannya. OAOT memindahkan niat baik yang sering berhenti di ruang digital menjadi tindakan nyata di lapangan: menjadi bibit, lubang tanam, dan pohon yang benar-benar tumbuh.
Dari Ruang Digital ke Lereng Gunung

Program Officer BLDF, Dandy Mahendra mengatakan, One Action One Tree (OAOT) lahir dari kepekaan terhadap perubahan perilaku anak muda selama pandemik COVID-19. Ia melihat, saat mobilitas turun dan banyak aktivitas berpindah ke layar, percakapan soal lingkungan dan krisis iklim justru makin sering muncul di media sosial.
Meski demikian, Dandy mengakui, persoalannya tidak bagaimana membuat isu lingkungan ramai dibicarakan. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah mengubah perhatian yang beredar di ruang digital itu menjadi tindakan nyata yang bisa dihitung, dilacak, lalu benar-benar memberi dampak bagi lingkungan.
Dari kebutuhan itulah OAOT kemudian dirancang. BLDF, imbuh Dandy, membuat skema konversi dari aktivitas yang dekat dengan keseharian anak muda.
Pada program tersebut, satu kilometer aktivitas lari atau tiga kilometer bersepeda, dihitung setara dengan satu bibit pohon. Aktivitas lain, seperti kampanye lingkungan di media sosial dan olahraga tertentu, juga ikut masuk dalam perhitungan.
Saat penutupan rangkaian OAOT 2026 di Balai Desa Japan, Dandy mencatat, program itu sudah mengumpulkan 60.321 bibit pohon berjenis Multi-purpose Tree Species (MPTS). Jenis pohon itu dipilih karena tidak hanya bernilai ekologis untuk konservasi tanah dan air, tetapi juga bisa dipanen buahnya berulang kali. Seperti mangga, alpukat, pamelo, kelengkeng, durian, matoa, hingga cengkeh.
Jumlah bibit tersebut berasal dari akumulasi 31.051 kilometer berlari, 67.941 kilometer bersepeda, serta 525 konten kampanye lingkungan di media sosial.
Meski demikian, torehan angka tersebut belum selesai ketika bibit tidak benar-benar sampai tertanam di tanah.
Di titik itulah kerja lapangan kemudian mengambil alih. Relawan menjadi jembatan antara partisipasi anak muda dari wilayah urban--seperti Rifa--dan kebutuhan untuk berkonservasi di lereng Muria.
Salah satunya datang dari Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan), komunitas mahasiswa yang rutin membantu mengangkut dan menanam bibit di kawasan sabuk hijau Gunung Muria. Di antara mereka ada Imanimatul Aliyah dan Nadia Natasha, mahasiswi Universitas Muria Kudus (UMK).

Untuk mengikuti kegiatan penanaman, keduanya rela menempuh perjalanan dari Kayen, Kabupaten Pati, sekitar 40 kilometer menuju titik kumpul di kampus, lalu melanjutkan perjalanan ke lereng gunung, Selasa (10/2/2026). Jarak itu menunjukkan satu hal bahwa bagi sebagian anak muda, kepedulian kepada lingkungan tidak berhenti hanya di unggahan konten, tagar, atau percakapan pada layar gawai di media sosial saja.
“Bumi tidak sedang baik-baik saja. Hilangnya resapan air langsung kami rasakan lewat longsor dan banjir. Makanya ini bagian kami untuk merawat lingkungan dan menjaga Bumi,” ungkap Imanimatul saat ditemui IDN Times.
Bagi Imanimatul, keterlibatannya di program Siap Darling tidak sekadar kegiatan sukarela tanpa arah. Dedikasinya tinggi mengingat ia berasal dari keluarga petani, yang menyaksikan bagaimana krisis iklim membuat cuaca makin sulit ditebak dan ikut mengacaukan kalender tanam ayahnya.
Dari pengalaman tersebut, mahasiswi semester enam jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) itu memahami jika persoalan lingkungan di tempat tinggalnya tidak pernah berdiri sendiri. Ia pun memahami, bahwa kerusakan alam selalu berkelindan dengan air, tanah, panen, dan keberlanjutan hidup keluarga petani.
“Kita butuh paksaan agar anak muda turun langsung memegang tanah. Petani muda sekarang sangat langka, siapa yang mau meneruskan jika bukan saya, dan juga kita sendiri?” ujarnya.
Konservasi Tidak Mengabaikan Dapur Warga
Di lereng Muria, menanam bibit rupanya tidak semata memasukkan pohon ke tanah. Ada hal lain yang tidak bisa diabaikan, yaitu soal "dapur warga".
Persoalan itu terasa nyata di Desa Japan, wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung di sisi utara Muria. Di desa itu, konservasi tidak pernah berdiri sendiri, melainkan berhadapan langsung dengan kebutuhan ekonomi keluarga yang hidup dari lereng gunung.
Parwanto (42), petani setempat, memahami betul hubungan itu. Ia mengelola sekitar 1,5 hektare (ha) lahan keluarga di lereng yang curam. Tanahnya memang subur, tetapi kerentanannya juga tinggi.
Di bentang seperti itu, perubahan musim memengaruhi hasil panen yang turun dan berdampak pada pendapatan rumah tangga yang ikut goyah.
“Dulu, kalau kemarau kepanjangan atau tiba-tiba hujan salah musim, bunga kopi rontok semua ke tanah. Kalau sudah begitu, hancur panen kami setahun, perut keluarga di rumah ikut terancam puasa,” akunya.
Untuk diketahui, di Desa Japan, kopi robusta menjadi salah satu komoditas utama warga. Maka dari itu, pendekatan konservasi yang hanya menekankan penghijauan, tanpa menghitung kebutuhan ekonomi petani, bagi Parwanto akan sulit bertahan dalam jangka panjang.
Ia mengakui, menanam pohon keras yang tidak memberi manfaat langsung bagi petani juga berisiko ditolak warga.
"Kalaupun ditanam, pohon seperti itu belum tentu dirawat dalam waktu yang lama," jelasnya.
Memahami benturan itu, BLDF bersama Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria)--organisasi yang fokus pada rehabilitasi hutan dan pelestarian lingkungan di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah, sejak 2023--mendorong pola agroforestri atau tumpang sari. Di sela-sela kebun kopi, petani diajak menanam pohon bernilai ekonomi atau yang berjenis MPTS.
Parwanto menjelaskan, bagi warga, pendekatan tersebut lebih mudah diterima karena tidak memaksakan mereka untuk memilih antara menjaga lereng Muria atau menjaga penghasilan rumah tangga. Keduanya justru dicoba untuk berjalan bersama: tutupan lahan bertambah, sementara peluang pendapatan tambahan tetap terbuka untuk warga.
Bagi petani kopi, naungan pun bukan hal awam. Sebab, kopi robusta membutuhkan intensitas cahaya yang terjaga agar kelembapan tanah tetap baik. Karena itu, penambahan tanaman keras di sela kebun tidak muncul sebagai beban baru, melainkan sebagai penguatan terhadap sistem budidaya yang sudah mereka kenal.
Di lahan Parwanto, bibit-bibit alpukat kini tumbuh di antara tegakan kopi tua. Pada kondisi itu, konservasi menjadi lebih mungkin diterima, yaitu ketika datang sebagai wacana dari luar, melainkan masuk akal bagi dapur warga.
Ketika Masalah Tidak Hanya di Hutan

Ancaman bagi petani di Muria tidak selalu datang dari langit yang berubah karena dampak krisis iklim. Terkadang malah datang setelah panen selesai, yakni saat hasil kebun masuk ke rantai niaga yang tidak berpihak kepada mereka.
Ketua PEKA Muria, Teguh Budi Wiyono mengatakan, situasi itu sudah lama dialami banyak petani kopi di Desa Japan.
"Bertahun-tahun, hasil panen mereka dijual dalam kondisi campuran, tanpa pemilahan kualitas, kepada tengkulak. Pada skema seperti itu, harga jual kopi hanya bergerak di kisaran Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram," ucapnya.
Nominal itu membuat kerja petani sering kali tidak sebanding dengan tenaga, waktu, dan risiko yang mereka tanggung di lereng Muria. Dalam keadaan seperti itu, menjaga lingkungan mudah terdorong menjadi urusan nomor dua. Ketika dapur tertekan, orang cenderung memilih yang paling cepat menyelamatkan penghasilan.
"Sejak 2021, sumber mata air di lereng Muria masuk kondisi kritis karena kawasan yang makin terbuka. Bantuan bibit BLDF sangat membantu kami memperluas penanaman dan itu memberi nilai ekonomi agar Muria tetap lestari dan tetap bisa menghidupi warganya," tegasnya.

Rupanya, intervensi BLDF dan PEKA Muria tidak berhenti pada pembagian bibit saja. Mereka ikut masuk ke sisi yang lebih dekat dengan denyut ekonomi warga: pascapanen dan pemasaran.
Teguh menyebutkan, petani, oleh BLDF, didampingi untuk mengenal metode petik merah, yakni memanen hanya ceri kopi yang matang sempurna.
"Mereka juga mendapat pelatihan pengolahan, mulai dari penyangraian (roasting), praktik seduh manual (manual brew), hingga cara memasarkan produk secara kreatif melalui media sosial," imbuh pria berusia 51 tahun itu.
Perubahan tersebut berdampak nyata pada nilai jual. Kopi petik merah dari Desa Japan yang sudah diolah mandiri kini dapat dijual hingga Rp70.000 per kilogram.
"Baru ikut dan dapat pelatihan dari BLDF ini. Ya ini bermanfaat karena kemampuan warga bisa meningkat, istilahnya naik kelas," kata salah satu peserta pelatihan kopi, Subianto, Selasa (10/2/2026).
Kenaikan itu penting bukan semata-mata karena angkanya lebih besar, namun posisi tawar petani meningkat. Ketika hasil kebun bernilai lebih tinggi, warga mempunyai alasan ekonomi yang kuat untuk merawat lahannya dengan baik juga.
Dalam konteks konservasi, titik tersebut cukup menentukan. Sebab, menjaga lereng tidak bisa hanya bertumpu pada ajakan moral, tetapi juga harus memberi keyakinan bahwa lahan yang lestari memang layak dipertahankan karena menopang hidup warga.
Konservasi Perlu Jalan Ekonomi
Logika serupa juga terlihat pada Parijoto (Medinilla speciosa), tanaman endemik Muria yang tumbuh di kawasan lembap dan sejak lama lekat dengan sejarah serta tradisi setempat. Bagi banyak warga, parijoto bukan sekadar tanaman liar di pegunungan, melainkan bagian dari identitas Muria itu sendiri.
Masalahnya, nilai itu tidak otomatis menjelma menjadi penghidupan. Buah parijoto mudah rusak setelah dipetik dan sulit dipasarkan dalam bentuk segar ke daerah yang lebih panas. Tanpa pengolahan, tanaman yang tumbuh liar pada elevasi 700 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut itu hanya punya ruang pasar yang terbatas.
Pemilik CV Seleksi Alam Muria (Alammu), Triyanto R Soetarjo melihat celah tersebut. Sejak 2015, ia membeli buah parijoto dari petani untuk diolah menjadi sirup, teh celup, dan kombucha tanpa pengawet kimia sintetik.
Baginya, model seperti itu penting tidak hanya menciptakan produk baru, tetapi juga memberi suntikan ekonomi bagi warga untuk tetap menjaga tanaman lokal. Kini, sedikitnya terdapat 16 petani di Desa Colo, enam petani di Desa Japan, dan dua petani di Rahtawu ikut menerima manfaat dari rantai usaha tersebut.

Di tangan warga, tanaman yang sebelumnya mudah berhenti sebagai hasil hutan kini mulai menemukan jalannya: diolah, diberi nilai tambah, lalu dipasarkan lebih luas. Triyanto, yang juga dewan pakar PEKA Muria, melihat, konservasi di lereng Gunung Muria dari kolaborasi BLDF ikut mendorong hilirisasi produk lokal.
Karena secara tidak langsung, menjaga Muria bukan sekadar urusan melindungi kawasan hutan. Tetapi, yang tidak kalah penting juga memastikan warga sekitar memperoleh manfaat yang sah dari kelestarian alam di sekitarnya.
Cara pandang itu, menurutnya, sejalan dengan ajaran Sunan Muria: Pager Mangkok--pagarilah rumah dengan mangkuk sedekah makanan--dan Topong Ngeli--mengikuti arus air tanpa ikut tenggelam.
“Aplikasi Topong Ngeli hari ini jelas: bagaimana kita menunggangi kecepatan digitalisasi, bukan sebaliknya. Hutan ini amanah, kita menanam akar hari ini untuk anak cucu yang belum sempat kita tatap matanya,” jelasnya.
Solusi yang Bekerja, Tetapi Tidak Instan
Progam OAOT menjadi krusial, bukan karena berhasil mengumpulkan puluhan ribu bibit dari aktivitas anak muda, melainkan mencoba menyambungkan tiga lapisan yang sering berjalan sendiri-sendiri. Yakni soal partisipasi publik, konservasi lapangan, dan penguatan ekonomi warga.
Di satu sisi, anak muda di daerah urban diberi pintu masuk yang sederhana dan relevan untuk ikut terlibat. Di sisi lain, warga desa tidak hanya diminta menanam, tetapi juga diajak memperkuat manfaat ekonomi dari lahan yang mereka rawat.
Pengalaman di Muria menunjukkan satu hal bahwa konservasi tidak pernah selesai hanya dengan menanam pohon. Bibit tetap harus dirawat. Praktik budidaya tetap harus dibenahi. Tekanan ekonomi tetap harus dijawab. Tanpa itu semua, penghijauan mudah berhenti sebagai seremoni yang ramai di awal, lalu pelan-pelan kehilangan tenaga.
Seperti yang ditegaskan perwakilan dari Kementerian Kehutanan, Ayi Firdaus Maturidy, dari panggung penutupan OAOT 2026, "Menanam ini tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam harapan."


















