Semarang, IDN Times - Kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat operasional menjadi prioritas utama industri energi. Merespons hal itu, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menggelar simulasi keadaan darurat terintegrasi di Integrated Terminal (IT) Semarang pada Rabu (3/6/2026). Latihan skala besar tersebut bertujuan menguji keandalan sistem tanggap darurat sekaligus memperkuat koordinasi lintas instansi.
Dramatis! Simulasi Darurat BenPertamina di Semarang Libatkan TNI-Polri

1. Skenario kebocoran dan evakuasi
Skenario simulasi bermula dari tekanan berlebih (overpressure) pada jalur penerimaan IT Semarang. Insiden tersebut memicu aktivasi sistem tanggap darurat dan penghentian operasi sementara untuk memastikan keselamatan personel serta fasilitas.
Kondisi itu berdampak pada kebocoran katup penutup (block valve) di kawasan Hutan Mangrove Tambakrejo dan fasilitas Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 50.000 Dead Weight Tonnage (DWT). Tim respons darurat langsung memasang oil boom, menyekat area terdampak, dan menangani tumpahan minyak demi mencegah penyebaran ke lingkungan sekitar.
Situasi berkembang saat beberapa nelayan nekat mendekati area tumpahan minyak. Salah satu kapal nelayan disimulasikan terbakar akibat kontak antara api rokok dan material mudah terbakar. Petugas sigap mengevakuasi nelayan yang melompat ke laut menggunakan peralatan keselamatan standar. Korban menerima penanganan medis awal di lokasi sebelum menjalani evakuasi lanjutan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kegiatan tanggap darurat itu terintegrasi penuh dengan melibatkan partisipasi aktif dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga tim tenaga kesehatan.
2. Sinergi dan koordinasi lintas instansi
Area Manager Communication, Relation, & CSR Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan mengatakan, simulasi rutin tersebut memastikan pola koordinasi berjalan baik pada kondisi darurat nyata.
"Pada saat keadaan darurat yang sebenarnya, hal yang terpenting adalah koordinasi dan komunikasi antara semua pihak yang terlibat. Karena dalam situasi emergency sering kali penanganan dapat diperparah atau diperlama apabila pola koordinasi kurang karena semua dalam keadaan panik. Sehingga penting untuk kita melatih dan membiasakan pola koordinasi agar penanganan kejadian lebih efektif dan efisien," ujar Taufiq dilansir keterangan resminya, Kamis (4/6/2026).
Ia menambahkan, kegiatan itu juga menguji efektivitas prosedur sekaligus memastikan setiap personel memahami peran dan tanggung jawab masing-masing.
3. Membangun ketangguhan di wilayah operasional
Tanggapan positif juga datang dari Koordinator Lapangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Afgan Ilham Widiatmoko.
"Kami mengapresiasi komitmen Pertamina dalam membangun ketangguhan masyarakat di wilayah ring satu operasional dan berharap sinergi ini dapat terus diperkuat bersama BPBD, pemerintah kelurahan, dan warga sekitar," tutur Afgan.
Sementara itu, Rescuer Terampil Kantor SAR Semarang, Fajar Kurnianto, memaparkan fokus timnya dalam mengevakuasi korban cedera.
"Secara keseluruhan pelaksanaan simulasi berjalan baik, didukung koordinasi yang solid antara tim penyelamat, medis, dan seluruh unsur terkait sehingga proses penanganan korban dapat berlangsung aman, lancar, dan optimal," jelas Fajar.