Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
EBT Jateng Capai 22,33 Persen, Gus Yasin Butuh yang Lebih Merata
Wagub Jateng Taj Yasin saat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin mendorong pengembangan EBT yang merata, selaras dengan investasi dan industri, tanpa mengorbankan lingkungan maupun kehidupan masyarakat sekitar.
  • Bauran energi terbarukan Jawa Tengah pada 2025 mencapai 22,33 persen, melampaui target RUED 21,32 persen, dengan potensi surya, panas bumi, hidro, biomassa, dan biogas.
  • Pemprov Jateng mengembangkan PLTS, panas bumi, energi limbah, Desa Mandiri Energi, dan Eco Pesantren untuk mendukung ekonomi, lapangan kerja, serta mengurangi ketergantungan energi impor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025

Bauran energi terbarukan Jawa Tengah mencapai 22,33 persen, melampaui target RUED sebesar 21,32 persen. Capaian ini menjadi modal Pemprov Jateng untuk memperluas pemanfaatan EBT.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Jawa Tengah mencatat bauran energi baru dan terbarukan sebesar 22,33 persen pada 2025, melampaui target RUED 21,32 persen, serta mendorong pemerataan pengembangan EBT.
  • Who?
    Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno terlibat dalam penyampaian pengembangan EBT.
  • Where?
    Pengembangan EBT diarahkan di seluruh Jawa Tengah. Taj Yasin menyampaikan dorongan tersebut saat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang.
  • When?
    Bauran EBT Jawa Tengah tercatat mencapai 22,33 persen pada 2025. Waktu pelaksanaan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Pemerataan EBT didorong untuk memperkuat ketahanan energi, mendukung investasi dan industri, menjaga lingkungan serta kehidupan masyarakat, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
  • How?
    Pemprov Jateng memfasilitasi PLTS, PLTS terapung, panas bumi, PLTM/PLTMH, energi limbah dan biomassa, Desa Mandiri Energi, pompa surya irigasi, biogas, serta Eco Pesantren.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jawa Tengah sudah memakai energi bersih sebanyak 22,33 persen. Angka ini lebih besar dari targetnya. Pak Taj Yasin ingin energi dari matahari, air, panas bumi, dan limbah ada lebih merata. Ia mau pabrik dan usaha tumbuh, tapi alam dan warga tetap aman. Pak Eddy juga ingin Indonesia tidak terlalu membeli energi dari luar negeri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Capaian bauran EBT Jawa Tengah yang melampaui target RUED memberi pijakan kuat bagi pengembangan energi yang lebih merata. Dengan memanfaatkan surya, panas bumi, hidro, biomassa, dan biogas untuk kebutuhan industri maupun desa, arah kebijakan ini mempertemukan pertumbuhan ekonomi, aktivitas produktif masyarakat, serta perhatian terhadap lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong pemerataan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di wilayahnya. Pengembangan itu tidak sekadar memperkuat ketahanan energi, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, pengembangan energi terbarukan perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan investasi dan industri di Jawa Tengah, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.

“Kami butuh energi terbarukan itu benar-benar bisa merata di Jawa Tengah. Kita butuh ekosistem di Jawa Tengah tumbuh tapi tidak merusak lingkungan,” kata Taj Yasin saat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang. 

Gus Yasin menekankan, pembahasan energi terbarukan tidak cukup hanya melihat ketersediaan sumber energi. Pengembangannya juga harus mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitar kawasan industri maupun sumber energi.

Menurut Gus Yasin, Jawa Tengah saat ini menjadi salah satu daerah yang menarik bagi investor. Sejumlah perusahaan datang untuk mengembangkan usaha dan industri. Karena itu, pertumbuhan investasi dan industri perlu diarahkan agar tetap menciptakan aktivitas ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan.

Sejalan dengan itu, bauran energi terbarukan Jawa Tengah pada 2025 tercatat mencapai 22,33 persen. Capaian tersebut telah melampaui target dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Jawa Tengah sebesar 21,32 persen.

Capaian tersebut menjadi modal bagi Pemprov Jateng untuk memperluas pemanfaatan EBT. Jawa Tengah memiliki sejumlah potensi energi terbarukan, antara lain energi surya, panas bumi, hidro, biomassa, dan biogas.

Pengembangannya juga diarahkan untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat. Pemprov Jateng antara lain memfasilitasi pengembangan PLTS, PLTS terapung, panas bumi, PLTM/PLTMH, serta energi berbasis limbah dan biomassa di sektor industri maupun pedesaan.

Pemanfaatan energi lokal juga dikembangkan melalui Desa Mandiri Energi, pompa air tenaga surya untuk irigasi, biogas dari limbah peternakan dan industri kecil, serta Eco Pesantren berbasis PLTS dan biogas.

Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya menambah pasokan energi, tetapi juga membuka ruang investasi, memperkuat daya saing industri, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Capaian tersebut menjadi penting di tengah tantangan ketahanan energi nasional yang masih menghadapi ketergantungan terhadap energi impor.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyoroti tantangan ketahanan energi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber energi fosil maupun energi terbarukan yang melimpah, tetapi masih menghadapi ketergantungan terhadap impor energi.

“Kita tingkatkan sumber energi terbarukan supaya kita punya pembangunan berkelanjutan, tidak merusak lingkungan seperti yang disampaikan Pak Wagub,” ujarnya.

Eddy menilai, pengembangan EBT dapat menjadi salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

“Kalau kita kembangkan sumber-sumber energi terbarukan yang ada di seluruh Indonesia, rasanya kita enggak perlu impor lagi. Rasanya ketahanan energi kita bisa kita kuatkan,” pungkasnya. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article