Batang, IDN Times - Prima Narendra merasakan perubahan dalam ritme perjalanannya saat melaju melintasi aspal Tol Trans Jawa dari Cirebon menuju Semarang pada momen mudik Idulfitri 2026. Untuk pertama kalinya, ia membawa keluarganya pulang kampung menggunakan mobil listrik (Electric Vehicle/EV).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika ia harus ikut mengantre panjang di pompa bensin konvensional, perjalanan tersebut terasa jauh lebih terencana.
Rahasia ketenangan Prima ada pada layar ponsel pintarnya yang setia menemani di dasbor mobilnya. Ia menggunakan Travoy Apps, aplikasi asisten digital resmi dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk (Jasa Marga).
Melalui fitur informasi fasilitas rest area di dalam aplikasi tersebut, Prima bisa memantau letak Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang searah dengan rutenya, memantau kondisi lalu lintas secara real-time, hingga melihat tangkapan kamera CCTV kondisi lalu lintas jalan tol.
Berbekal informasi itu, ia memutuskan untuk menepi di Travoy Rest KM 379A Batang sebelum indikator baterai mobilnya menyentuh batas kritis.
“Tahun ini pertama kali kami mudik pakai mobil listrik. Biasanya biaya bensin dari Cirebon ke Semarang bisa memakan sekitar Rp200 ribuan, tapi sekarang hanya sekitar Rp55 ribu untuk pengisian daya. Jauh lebih hemat,” kata Prima sesaat setelah memasang nosel pengisi daya ke mobilnya, Rabu (18/3/2026).
Di lokasi pengisian yang sama, Inawati, pemudik dengan rute perjalanan dari Jakarta menuju Banyuwangi, juga sedang mengisi daya mobilnya. Kapasitas pengisian daya di Travoy Rest tersebut sudah mencapai 120 kW, sebuah spesifikasi fast charging yang membuat waktu tunggu menjadi relatif singkat.
“Yang paling penting, titik pengisian sekarang jauh lebih banyak di sepanjang tol (Trans Jawa). Dari aplikasi Travoy, perjalanan bisa dihitung (jarak tempuh) dan terencana (untuk perkiraan isi daya baterai),” tuturnya.
Bagi pengguna perempuan seperti Inawati, kepastian informasi digital yang dipadukan dengan ketersediaan infrastruktur fisik menjadi kunci utama untuk menghilangkan range anxiety—kecemasan akan kehabisan baterai di tengah jalan yang selama bertahun-tahun menjadi penghalang utama adopsi mobil listrik di Indonesia.
Pengalaman yang dirasakan Prima dan Inawati memperlihatkan bentuk nyata dari transformasi Jasa Marga yang kini memasuki usia 48 tahun. Ekosistem Travoy, yang secara utuh mencakup Travoy Apps dan Travoy Rest, dirancang sebagai bentuk komitmen "Melayani Sepenuh Hati" untuk mewujudkan perjalanan yang tidak sekadar aman, tetapi juga bermakna dan berkesan.
Pada sisi digital, Travoy Apps mengambil peran penting karena memandu pengguna agar merasa lebih tenang dan lebih siap menghadapi dinamika di jalan bebas hambatan. Pengguna jalan juga tidak lagi sekadar menebak-nebak kapan mereka harus berhenti, melainkan bisa mengukur jarak dan sisa baterai dengan presisi.
Di sisi lain, komitmen Jasa Marga ikut diimplementasikan melalui perbaikan kualitas ruang fisik di Travoy Rest. Untuk diketahui, mengisi daya baterai mobil listrik membutuhkan waktu tunggu sekitar 30–45 menit.
Jasa Marga menyadari, waktu tunggu tersebut tidak boleh menjadi momen yang membosankan bagi pengguna jalan. Oleh karena itu, Travoy Rest dikembangkan dengan pendekatan keberlanjutan dan kenyamanan.
Saat menunggu pengisian daya, pengguna tidak lagi dibiarkan bosan di atas aspal yang gersang. Sebagai bentuk komitmen mereka terhadap lingkungan yang sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir, Jasa Marga Group bekerja sama dengan mitra menanam puluhan ribu Pohon Trembesi di berbagai interchange dan rest area, termasuk di koridor Semarang-Batang. Di bawah naungan lanskap hijau itu, pengguna dapat beristirahat dengan sirkulasi udara yang lebih sejuk.
Lebih dari itu, Jasa Marga menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu untuk memastikan ruang publik rest area tersebut tetap resik, sehat, dan indah. Malah saat Lebaran 2026, pihak pengelola menambah fasilitas Travoy Rest KM 379A Batang dengan penyediaan taman lalu lintas sebagai sarana edukasi sekaligus rekreasi bagi pemudik.
“Keberadaan taman lalu lintas menjadi inovasi untuk memberikan pengalaman berbeda bagi pemudik, khususnya keluarga yang membawa anak-anak. Di taman lalu lintas, anak-anak bisa bermain sekaligus belajar mengenal rambu-rambu jalan dan peta,” kata Direktur Utama PT Jasamarga Semarang Batang (JSB) Nasrullah, Rabu (18/3/2026).
Kenyamanan lanskap fisik dan integrasi aplikasi digital tersebut tidak muncul dalam waktu semalam. Fasilitas itu ditopang oleh eskalasi pembangunan yang sudah dieksekusi Jasa Marga secara terukur.
Merujuk pada Laporan Keberlanjutan Perusahaan (Sustainability Report), komitmen Jasa Marga dalam menyediakan SPKLU tumbuh berkesinambungan. Pada tahun 2022, SPKLU Jasa Marga Group baru beroperasi di 10 lokasi. Merespons tren adopsi mobil listrik, titik layanan itu ditambah 70 persen menjadi 17 lokasi pada 2023.
Memasuki tahun 2024, ekspansi dilakukan lebih agresif. Sebagai kesiagaan awal mudik April 2024, Jasa Marga memastikan 49 titik SPKLU siap digunakan. Ekspansi itu terus digenjot hingga akhir 2024, di mana jumlah lokasi fasilitas melonjak 205,9 persen menjadi total 52 lokasi.
Tren positif tersebut terus berlanjut dengan adanya 127 unit SPKLU sepanjang tahun 2025. Puncaknya, pada momentum mudik Lebaran 2026, Jasa Marga Group secara masif merampungkan infrastruktur pengisian daya untuk memastikan mobilitas pemudik bebas hambatan.
"Untuk mendukung pengguna kendaraan listrik selama mudik Idulfitri 2026, di ruas Jalan Tol Trans Jawa sudah tersedia 155 unit SPKLU yang tersebar di 40 lokasi rest area," tegas Corporate Secretary & Legal PT Jasamarga Transjawa Tol, Ria Marlinda Paallo, Rabu (11/3/2026).
