Siswa mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) saat kegiatan memperingati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang. (Dok. Disdikbud Kabupaten Magelang)
Sejarah LCC di Indonesia erat kaitannya dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan literasi dan rasa nasionalisme melalui media komunikasi massa. Pada era 1970-an hingga 1990-an, LCC mulai populer berkat siaran langsung stasiun televisi TVRI dan radio nasional.
Saat itu, ajang yang juga dikenal dengan sebutan Lomba Cerdas Tangkas (LCT) itu menjadi tontonan bergengsi keluarga di rumah. Pemerintah memanfaatkannya sebagai wadah sosialisasi kurikulum pendidikan dan isu nasional, seperti pertanian hingga Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).
Memasuki era reformasi dan awal 2000-an, format kompetisi mulai bergeser pada pembentukan karakter spesifik yang diadakan oleh lembaga tinggi negara. Beberapa kompetisi yang bergengsi di antaranya adalah LCC Empat Pilar MPR RI yang menguji wawasan kebangsaan, serta LCC Museum Nasional yang berfokus pada pelestarian sejarah kebudayaan nusantara.
Kini, pada dekade 2020-an, LCC bertransformasi mengikuti laju teknologi. Babak penyisihan sering kali memanfaatkan platform interaktif secara daring. Sistem penekanan bel manual pun perlahan digantikan oleh teknologi lockout buzzer berbasis Internet of Things (IoT) untuk memastikan keadilan dan akurasi skor peserta.