Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Geliat KKMP Sampangan Menjadi Koperasi Berdaya Tumpuan Harapan UMKM
Penampakan depan KKMP Sampangan Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Hari mulai senja saat Boni menata barang dagangannya di ujung Kampung Menoreh I, Kelurahan Sampangan Kecamatan Semarang Barat.

Kedua tangannya cekatan memilah-milah telur. Kemudian dipisahkan ke wadah-wadah yang sudah disiapkan. 

Tumpukan telurnya terbagi dua wadah untuk memisahkan telur ayam negeri dengan telur omega. Hamparan telur yang memenuhi lapaknya menjadi pemandangan yang jamak terlihat tatkala Boni berjualan di kampung tersebut.

Tepatnya saban Selasa selepas salat Ashar hingga malam hari, Boni bersama para pedagang lainnya rutin berjualan di Kampung Menoreh I yang jadi pusat pasar tiban.

"Biasanya ramainya saban Maghrib terus juga sehabis Isya," kata Boni saat membuka obrolan dengan IDN Times, Selasa (21/7/2026).

Bagi Boni, berjualan telur sudah jadi ladang rezekinya. Ia rutin memperoleh pasokan telur dari sang adik yang menggeluti bisnis peternakan ayam petelur di Limbangan Kendal. 

Sudah belasan tahun lamanya Boni bergulat pada usaha penjualan telur. Selain ditopang untaian doa, kelancaran usahanya juga berkat keuletan mencari peluang pasar di Kelurahan Sampangan.

"Karena adik saya selama ini punya usaha ternak ayam petelur di Kecamatan Limbangan, jadinya saya yang bantu jualkan ke Semarang. Allhamdulillah adanya pasar tiban membuat usaha saya berkembang. Semoga menjadi berkah bagi keluarga kami dan warga sekitar sini," tuturnya.

Seorang pedagang telur bernama Boni menata dagangannya di lapak pasar tiban Kampung Menoreh I Kelurahan Sampangan Semarang Barat. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Diakuinya bahwa keuletannya berjualan telur sedikit banyak tak bisa dilepaskan dari peran Ketua RW V Kampung Menoreh, Kuncar Asriyanto yang senantiasa membantunya bangkit dari keterpurukan.

Ia beruntung selepas resign dari pekerjaan lamanya di perbankan, dirinya bersama Kuncar mendapat celah dengan membuka pasar tiban demi menghidupkan perekonomian masyarakat setempat.

Kuncar yang dimaksud Boni, selain sebagai ketua RW, kini juga didampuk menjadi Ketua Pengurus Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Sampangan.

Kuncar pun memberdayakan Boni sebagai pemasok telur bagi KKMP Sampangan. Selain Boni, tercatat terdapat 70 persen UMKM yang diberdayakan menjadi anggota KKMP Sampangan yang dimanfaatkan menggerakan ekonomi mikro.

Ketua Pengurus KKMP Sampangan Kuncar Asriyanto bersama seorang anggota pengawas KKMP saat berfoto di depan logo gerai KKMP Sampangan Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

KKMP Sampangan semula dirintis pertengahan Maret 2025 dengan menghimpun beberapa pengurus RT menjadi anggota.

Ketika musyawarah kelurahan khusus (Muskelsus) diselenggarakan, Kuncar berhasil membentuk sembilan pengurus. Yang terdiri dari ketua, wakil ketua bidang usaha, wakil ketua bidang anggota, sektetaris, bendahara, pengawas serta anggota pengawas dan satu anggota pertama. 

Kesembilan pengurus bersepakat memulai iuran untuk simpanan pokok Rp50 ribu per orang. Sedangkan simpanan wajibnya sebesar Rp10 ribu per orang.

Dari uang iuran kemudian terkumpullah modal awal KKMP Sampangan sebanyak Rp540.000. Kuncar bilang lantaran belum punya bangunan permanen, maka ia merelakan ruang tamu di rumahnya yang letaknya di RT 01/RW V diubah menjadi kantor sekretariat KKMP Sampangan.

"Sewaktu kita habis mengurus legalitas KKMP lalu ditetapkan tanggal 3 Juni, saya coba ngumpulin para pengurus. Saya waktu itu sempat bilang, intinya diamanahi sembilan anggota dengan jumlah modalnya Rp540 ribu. Jadinya, mau tidak mau kita mulai jalankan koperasinya. Cuman karena tempat di kantor kelurahan sudah penuh, akhirnya diputuskan (kantor sekretariat KKMP) di rumah saya saja, memakai ruang tamu. Kira-kira itu sekitar bulan Juni. Nah, dari situlah kita mulai rapat," kata Kuncar sembari mengenang perjuangannya bahu-membahu mengoperasikan KKMP Sampangan.

Seorang mitra UMKM menata barang dagangannya di dalam rak Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Sampangan Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Dari beberapa rapat yang diadakan di rumah Kuncar tak disangka suasananya berlangsung gayeng. Tiap pengurus saling melontarkan ide-ide, gagasan-gagasan untuk membentuk usaha awal bagi KKMP Sampangan.

Hasil rapat kemudian mengerucut pada pembahasan peluang usaha yang kongkrit. Dengan melihat karakteristik penduduk dan topografis kewilayahan, Kuncar menilai sektor pertanian dan perikanan bukanlah usaha yang tepat dijalankan untuk KKMP Sampangan.

Justru di sisi lain Kuncar bersama para pengurus lainnya melihat ceruk usaha dengan menghimpun kekuatan dari produk UMKM lokal.

"Karena produk pertanian gak mungkin, perikanan juga gak bisa karena lahannya gak ada. Akhirnya melihatnya kekuatan kita di Sampangan ya di UMKM. Karena di Sampangan banyak sekali jenis-jenis produk UMKM. Makanya kita membidik UMKM-UMKM lokal," tegasnya.

Sejumlah pembeli melihat produk yang dijual di KKMP Sampangan Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Bermodal uang iuran pengurus Rp540 ribu, katanya bisnis KKMP Sampangan pun mulai dijalankan. Uang sebanyak itu digunakan membeli sejumlah beras SPHP dan beberapa liter MinyaKita.

Bak gayung bersambut, nyatanya bisnis beras dan MinyaKita yang dijalankan KKMP Sampangan dilirik para pedagang makanan lokal.

"Ya akhirnya kita jualan beras SPHP ke pedagang makanan. Kalau nasi goreng pakai SPHP enak. Terus kita tawarkan MinyaKita ke penjual gorengan, mereka pada tertarik," ungkapnya.

Ia pun menggunakan trik jitu guna menjaring anggota baru dengan jemput bola menyambangi acara-acara pertemuan dasa wisma (dawis), mendatangi pertemuan ibu-ibu PKK, rapat RT dan RW. 

Bahkan, dirinya tak canggung menyambangi kegiatan senam para lansia hingga senam KJS yang ada di tiap kampung. 

"Saya seminggu tiga kali masuk ke pertemuan tersebut. Tentunya dengan dukungan pihak kelurahan, saya  menyosialisasikan berbagai  manfaat dari  usaha KKMP Sampangan. Ternyata dari pertemuan yang saya datangi, banyak warga menyambut baik. Jumlah anggotanya juta  terus bertambah," ujar Kuncar.

Supaya kegiatan menjaring anggota lebih efektif, Kuncar menggerakan pengurus untuk menyosialisasikan manfaat KKMP Sampangan Melalui WhatsApp Grup (WAG) milik komunitas UMKM Sampangan. Sesekali ia juga blusukan ke lokasi bazzar UMKM sejumlah kampung.

Ia mengingat bahwa saban menyambangi pertemuan warga, pihaknya mampu menjaring anggota baru kisaran 5-10 orang. Bahkan, para ibu rumah tangga antusias dengan strategi usaha yang dijalankan KKMP Sampangan.

"Sampai akhir tahun kemarin kita dapatkan anggota 88 orang. Mayoritas anggota kita memang emak-emak. Karena mereka paling  antusias mendaftar. Bapak-bapak juga ada yang daftar, tapi beberapa minta izin dulu ke istrinya. 

Seorang penjaga Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Sampangan Semarang menunjukan minyak goreng merek Mikita ukuran 800 liter. (IDN Times) Fariz Fardianto)

Jerih payahnya akhirnya membuahkan hasil nyata tatkala pada Oktober 2025 seorang Babinsa menginformasikan bahwa gerai permanen KKMP Sampangan dibangun di tanah lapang belakang Puskesmas Pegandan, Jalan Lamongan Barat.

Pembuatan gerai permanen bagi KKMP Sampangan dengan pertimbangan adanya lahan sekitar 2.000 meter persegi dengan tempat yang representatif di tengah pemukiman penduduk.

"Awalnya yang dipilih (untuk pembangunan) di Tugurejo dan Bendan Nduwur. Hanya dari info yang saya dengar, di Bendan lokasinya di bekas Bonbin Tinjomoyo, jadinya jauh dari warga. Terus yang Tugurejo musti nguruk tanah dan lainnya. Sedangkan di Sampangan ini dianggap sangat ideal, tanahnya aset Pemkot Semarang, letaknya strategis, sangat cocok untuk pemberdayaan usaha mikro. Sehingga dipandang paling siap dibangun," urainya.

Semenjak gerai permanen dioperasikan kisaran Maret 2026 hingga saat ini pertumbuhan omzet KKMP Sampangan terus bergerak positif. Dari awalnya punya modal Rp540 ribu, kini omzet KKMP Sampangan telah menembus Rp25 juta.

Pertumbuhan omzet yang cepat diiringi dengan transaksi penjualan yang agresif.

Aset KKMP Sampangan kini berkisar Rp25 juta dari awalnya Rp540 ribu. "Memang pertumbuhan sangat cepat. Transaksi paling banyak dari telur, saya cuma ambil dari UMKM lokal. Rata-rata sehari dapat pasokan 2 kilogram. Itu tiga hari habis," ujarnya. 

Harga telur di KKMP Sampangan dipatok Rp23 ribu per kilogram. Tak cuma itu saja, KKMP Sampangan juga menjual beras merek SPHP seharga Rp58 ribu ukuran 5 kilogram, beras merek Sentra Ramos seharga Rp76 ribu, beras merek Jempol Tani seharga Rp76 ribu, beras merek Pak Rahman seharga Rp65 ribu.

Selain itu, KKMP Sampangan juga menjual minyak goreng merek MiKita seharga Rp18 ribu ukuran 850 liter.

"Kita ambil keuntungan palingan Rp1.500-Rp2.000. Itu sudah cukup. Di sini diutamakan produk-produk UMKM. Makanya banyak gula pasir, jamu rempah, minuman serbuk rempah, kerupuk udang sikoling, teh kahuripan, telur. Lainnya dari pabrik. Kayak air mineral, gas elpiji," jelasnya.

Saban harinya KKMP Sampangan melayani pembeli mukai jam 09.00-16.00 WIB sore. "Yang paling laku telurnya Pak Boni. Dua hari pasti habis. Terus MinyaKita juga laris. Setiap hari bisa jual lebih 100 bungkus. Soalnya harganya murah ketimbang tempat lainnya," sambungnya.

Hani Yohana, seorang pedagang ayam geprek mengakui dengan posisi KKMP Sampangan di tengah pemukiman cukup membantunya. Pasalnya, ia yang jualan ayam geprek selalu membutuhkan stok minyak goreng dengan harga murah.

"Di koperasinya Pak Kuncar harganya murah soalnya. Saya pasti beli MinyaKita sama gas elpiji kemari," kata Hani.

Curated For You

Editorial Team

Related Article