Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gema Syiar Sekaten 2026 Cetak Transaksi Rp10,3 Miliar di Soloraya

Kota Surakarta
Gema Syiar Sekaten 2026 Cetak Transaksi Rp10,3 Miliar di Soloraya
Gema Syiar Sekaten (Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren) 2026 yang digelar Bank Indonesia Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
  • Gema Syiar Sekaten 2026 di Solo Square mencatat transaksi langsung Rp520 juta, sementara omzet rangkaian road to Sekaten mencapai Rp10,3 miliar dengan 23.100 pengunjung.
  • BI Solo mempertemukan 31 UMKM syariah dengan lembaga pembiayaan, menghasilkan komitmen Rp1,3 miliar, serta memperkuat ekosistem halal melalui sertifikasi, pelatihan, dan wakaf produktif pesantren.
  • Layanan penukaran uang logam menghimpun sekitar Rp15 juta dari lebih 36 ribu keping dalam dua hari; BI menambah kuota hadiah minyak goreng karena tingginya animo warga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surakarta, IDN Times – Gema Syiar Sekaten (Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren) 2026 tak hanya menjadi ruang promosi ekonomi syariah. Gelaran yang berlangsung di Solo Square Mall pada 28-30 Agustus 2026 itu turut memberikan dampak ekonomi cukup besar bagi pelaku usaha di wilayah Soloraya.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo mencatat transaksi langsung selama tiga hari penyelenggaraan mencapai Rp520 juta. Jika digabungkan dengan transaksi UMKM yang mengikuti rangkaian road to Sekaten 2026, total omzet yang tercatat bahkan mencapai Rp10,3 miliar.

Kepala KPw BI Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, mengatakan capaian tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap produk-produk ekonomi syariah sekaligus menjadi indikator bahwa UMKM lokal memiliki potensi untuk terus berkembang.

“Alhamdulillah, total omzet transaksi langsung selama tiga hari pameran di Solo Square mencapai Rp520 juta. Sementara itu, total omzet UMKM dalam rangkaian road to Sekaten 2026 mencapai Rp10,3 miliar,” kata Dwiyanto, Minggu (30/8/2026).

  1. 1. Puluhan UMKM Dapat Akses Pembiayaan Syariah.

    IMG_1920.jpeg
    Gema Syiar Sekaten (Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren) 2026 yang digelar Bank Indonesia Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

    Selain transaksi penjualan, Gema Syiar Sekaten 2026 juga membuka peluang pembiayaan bagi pelaku UMKM. BI Solo memfasilitasi business matching antara 31 UMKM syariah dengan lembaga pembiayaan syariah.

    Dari pertemuan tersebut, tercatat komitmen pembiayaan mencapai Rp1,3 miliar. Menurut Dwiyanto, akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar.

    “Pengembangan ekonomi syariah tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi antara perguruan tinggi, pesantren, HEBITREN, BAZNAS, Kemenag, OJK, hingga pihak swasta,” ujarnya.

    Selama tiga hari penyelenggaraan, jumlah pengunjung Gema Syiar Sekaten tercatat mencapai 23.100 orang. Ramainya kunjungan tersebut menjadi peluang bagi UMKM untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka secara langsung kepada konsumen.

  2. 2. BI Perkuat Rantai Ekonomi Halal dari UMKM hingga Pesantren.

    IMG_1921.jpeg
    Gema Syiar Sekaten (Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren) 2026 yang digelar Bank Indonesia Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

    BI Solo juga menjadikan momentum Gema Syiar Sekaten untuk memperkuat ekosistem halal dari sisi produksi hingga pemasaran.

    Salah satunya melalui fasilitasi sertifikasi halal gratis bagi 30 UMKM kuliner anggota APMISO se-Soloraya. BI juga memberikan pelatihan dan sertifikasi kompetensi kepada lima juru sembelih halal serta mendukung sertifikasi dua rumah pemotongan unggas.

    Penguatan ekonomi pesantren turut dilakukan melalui pengembangan wakaf produktif. Salah satu program yang didorong adalah pemanfaatan tanah wakaf untuk budidaya pisang cavendish sebagai unit usaha produktif pesantren.

    Dari sisi literasi, BI Solo juga menggelar berbagai kegiatan edukasi ekonomi syariah. Salah satunya Solo Bershalawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf yang dihadiri sekitar 15.500 jemaah.

    Rangkaian program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang tidak hanya bergantung pada kegiatan perdagangan, tetapi juga mencakup pembiayaan, produksi, sertifikasi, pesantren, hingga pengembangan sumber daya manusia.

  3. 3. Penukaran Koin Tembus Rp15 Juta, Dapat Bonus Minyak Goreng

    IMG_1908.jpeg
    Gema Syiar Sekaten (Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren) 2026 yang digelar Bank Indonesia Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

    Dampak ekonomi dalam gelaran ini juga terlihat dari layanan penukaran uang logam yang dibuka BI Solo. Masyarakat membawa koin yang selama ini tersimpan di celengan maupun hasil uang kembalian untuk ditukarkan.

    Dalam dua hari pertama, Jumat dan Sabtu, total uang logam yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp15 juta dari lebih dari 36 ribu keping.

    Pada Jumat, masyarakat menukarkan sekitar Rp6 juta dari 14.810 keping. Jumlah tersebut meningkat pada Sabtu menjadi sekitar Rp9 juta dari 21.309 keping. Pecahan Rp500 dan Rp200 menjadi uang logam yang banyak dibawa masyarakat.

    Bahkan, ada warga yang datang membawa sejumlah kantong berisi koin dengan nilai sekitar Rp2,3 juta dalam satu kali penukaran.

    BI Solo juga memberikan apresiasi berupa minyak goreng kemasan 1 liter bagi masyarakat yang menukarkan sedikitnya 100 keping uang logam. Karena tingginya animo warga, kuota minyak goreng yang semula 40 liter per hari ditambah menjadi 60 liter.

    Koin yang terkumpul selanjutnya akan disortir. Uang logam yang masih layak edar akan kembali didistribusikan melalui perbankan, sedangkan uang yang sudah tidak layak edar akan ditarik dari peredaran sesuai prosedur Bank Indonesia.

    Sementara itu, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menilai penguatan ekonomi syariah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata.

    Pemkot Solo, kata dia, tengah menyiapkan Kampung Wisata Batik Kauman sebagai salah satu kawasan yang diarahkan menjadi destinasi wisata halal. Strategi tersebut diharapkan dapat menangkap peluang meningkatnya kunjungan wisatawan, termasuk wisatawan dari negara-negara dengan pasar muslim yang besar.

    Pemkot juga mendorong UMKM meningkatkan kualitas kemasan dan melakukan upselling agar mampu menyasar konsumen dengan daya beli lebih tinggi.

    Ke depan, Solo juga diarahkan menjadi kota wellness pada 2030 dengan pengembangan wisata kesehatan, olahraga, spa, hingga fasilitas medis.

    “Kalau ekosistemnya dibangun bersama, UMKM tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa menjadi bagian dari rantai ekonomi yang lebih besar,” ujar Respati.

    Dengan capaian transaksi miliaran rupiah dan puluhan ribu pengunjung, Gema Syiar Sekaten 2026 menjadi salah satu momentum untuk memperlihatkan bahwa ekonomi syariah dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi daerah, khususnya bagi UMKM dan sektor usaha berbasis komunitas di Soloraya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More