Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Investasi di Jateng Fokus di Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan

Investasi di Jateng Fokus di Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan
ilustrasi investasi (freepik.com/pikisuperstar)
Intinya Sih
  • Investasi di Jawa Tengah akan difokuskan pada sektor pertanian dan industri pengolahan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029.
  • Koridor Ekonomi, Perdagangan, Investasi, dan Pariwisata (KERIS) Jawa Tengah menargetkan optimalisasi promosi investasi, perluasan basis investor, dan peningkatan kualitas proyek investasi.
  • Pj. Gubernur Provinsi Jawa Tengah menyampaikan upaya stabilisasi harga dan penanganan inflasi dilakukan dengan memperluas replikasi program Simanis (Sinergi Inflasi Semakin Harmonis) dan mempersiapkan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times - Investasi di Provinsi Jawa Tengah akan difokuskan pada sektor prioritas seperti pertanian dan industri pengolahan. Upaya itu untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi agar mencapai 8 persen pada tahun 2029. 

1. KERIS targetkan optimalisasi promosi investasi

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra. (dok. BI Jateng)
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra. (dok. BI Jateng)

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra mengatakan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah saat ini masih berkisar pada 5 persen. Maka itu, perlu didorong agar mencapai target 8 persen pada 2029.

‘’Oleh karena itu, penguatan strategi investasi berfokus pada sektor prioritas, seperti pertanian dan industri pengolahan,’’ ungkapnya pada acara menggelar High Level Meeting (HLM).

Koridor Ekonomi, Perdagangan, Investasi, dan Pariwisata (KERIS) Jawa Tengah menargetkan optimalisasi promosi investasi, perluasan basis investor, dan peningkatan kualitas proyek investasi melalui kerja sama dengan universitas dan sektor swasta. Dari sisi kebijakan makroprudensial, insentif likuiditas akan diarahkan untuk sektor-sektor yang berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.

Selanjutnya, Rahmat menyampaikan, sinergi bauran kebijakan nasional perlu ditingkatkan guna memitigasi dampak negatif risiko global dan meningkatkan kinerja perekonomian.

2. Kenaikan harga beras kerap jadi penyumbang inflasi

Ilustrasi beras (unsplash.com/bamin)
Ilustrasi beras (unsplash.com/bamin)

‘’Kondisi inflasi di Jawa Tengah per Januari 2025 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,46 persen (mtm) atau 1,28 persen (yoy) dipengaruhi oleh kebijakan diskon tarif listrik bagi rumah tangga kecil. Namun, kenaikan harga beras masih menjadi tantangan utama, mengingat Jateng merupakan salah satu produsen beras terbesar di Indonesia,’’ jelasnya.

Beras cukup sering menjadi komoditas yang termasuk dalam 10 besar penyumbang inflasi di Jawa Tengah tahun 2018-2024. Beberapa kendala struktural seperti alih fungsi lahan dan rendahnya adopsi teknologi pertanian turut memengaruhi pasokan beras di Jateng.

‘’Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan Luas Lahan Tanam (LLT) serta memperkuat peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam mengelola rantai pasok pangan agar lebih efisien,’’ terangnya.

Pada pertemuan itu turut hadir Pj. Gubernur Provinsi Jawa Tengah beserta seluruh Kepala Daerah di Jawa Tengah, anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), serta Koridor Ekonomi, Perdagangan, Investasi, dan Pariwisata (KERIS) Jawa Tengah.

Adapun, sesuai tema yang diusung, yakni “Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi melalui Stabilisasi Harga, Investasi dan Digitalisasi Transaksi Keuangan Daerah 2025”, pertemuan strategis ini menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan. Tujuannya merumuskan kebijakan untuk menjaga stabilitas harga, mendorong peningkatan investasi, serta mempercepat digitalisasi khususnya untuk segmen pemerintah.

3. Hilirisasi pangan di Jateng diperlukan dukungan investasi

Pj. Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Nana Sudjana. (dok. BI Jateng)
Pj. Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Nana Sudjana. (dok. BI Jateng)

Pj. Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Nana Sudjana menyampaikan, pihaknya terus melaksanakan program strategis Jateng dan mendukung program prioritas Pemerintah Pusat.

‘’Upaya stabilisasi harga dan penanganan inflasi di wilayah Jateng dilakukan dengan memperluas replikasi program Simanis (Sinergi Inflasi Semakin Harmonis), mempersiapkan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak, meningkatkan pengawasan stok pasokan komoditas pangan serta melakukan percepatan tanam,’’ katanya.

Hal itu sejalan dengan Asta Cita dalam mendorong swasembada pangan, peningkatan produktivitas padi dan optimalisasi rantai pasok melalui BUMD. Selanjutnya, kata dia, untuk memperkuat sektor pangan maupun hilirisasi pangan di Jateng diperlukan dukungan investasi.

‘’Berdasarkan pemetaan, Jateng memiliki potensi menjadi produsen komoditas subsitusi impor seperti tebu, jagung, kopi, daging, kedelai, dan aren. Kami berharap investasi juga dapat menjadi tools pembangunan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan stabilitas harga. Untuk itu, diperlukan strategi untuk memacu investasi yang lebih inklusif dan kompetitif, seperti kemudahan berusaha dan peningkatan iklim investasi,’’ tandasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
ANGGUN PUSPITONINGRUM
EditorANGGUN PUSPITONINGRUM

Latest News Jawa Tengah

See More