Ilustrasi pengisian BBM di SPBU. (Dok. Pertamina)
Taufik memastikan ketersediaan fisik BBM sangat melimpah. Ketersediaan Pertalite di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai 10 kali lipat, sementara Solar berkisar 15 hingga 20 kali lipat. Meski demikian, penyalurannya bergantung pada kuota ketetapan pemerintah pusat berdasarkan usulan pemerintah daerah.
Berikut rincian realisasi energi bersubsidi di Jawa Tengah pada tahun 2026:
Solar: Terealisasi 1.700.000 kiloliter (KL). Jika tidak ada penambahan kuota, proyeksi overkuota mencapai 110 persen pada bulan Desember.
Pertalite: Terealisasi di angka 2.400 liter [perlu klarifikasi mengenai akurasi satuan volume], yang berarti sudah menyentuh 101 persen dari kuota. Proyeksi overkuota mencapai 103 persen pada akhir tahun.
LPG 3 kg: Terealisasi 947.936 metrik ton pada posisi bulan September (109 persen dari kuota). Proyeksi overkuota bisa menembus 110 persen pada akhir tahun.
Pemerintah Provinsi DIY diketahui sudah mengajukan usulan penambahan kuota. Pertamina, lanjut Taufik, berharap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah segera mengambil langkah serupa agar stok bersubsidi aman.
"Pertamina secara rutin mengirimkan laporan realisasi pemakaian kepada Gubernur dan Sekretaris Daerah sebagai bahan pertimbangan dan pengawasan. Disparitas harga yang tinggi juga membuka celah tindak kriminal penyalahgunaan BBM. Pertamina terus bekerja sama dengan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah untuk menindak tegas para pelaku penimbunan," imbuh Taufik.