Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kedelai Makin Mahal, Penjual Tahu Pong Semarang Pertahankan Harga Lama

Kedelai Makin Mahal, Penjual Tahu Pong Semarang Pertahankan Harga Lama
Watik tampak menunggu dagangan tahu pong di Pasar Peterongan Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Intinya Sih
  • Pedagang tahu pong di Pasar Peterongan Semarang tetap mempertahankan harga lama meski harga kedelai naik akibat dampak perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
  • Watik dan kakaknya, penerus usaha tahu pong Eco, membagi tugas antara produksi di Kampung Tandang Mrican dan penjualan di pasar untuk menjaga kelangsungan bisnis keluarga.
  • Harga kedelai di Pasar Peterongan naik dari Rp16 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram dalam tiga hari terakhir, namun pedagang tahu dan tempe belum menaikkan harga jual.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Semarang, IDN Times - Harga tahu pong khas Semarang tidak mengalami kenaikan meski terhimpit lonjakan harga kedelai. Di Pasar Peterongan terpantau sejumlah pedagang tahu pong masih menjual dagangannya dengan patokan harga yang lama. 

Setiawati, seorang pedagang tahu pong di kios Pasar Peterongan Semarang mengaku memilih mempertahankan kepercayaan pelanggannya dengan tidak menaikan harga tahu. 

Harga tahu pong per bungkus isi 10 dibanderol Rp4.500, tahu kotak cokelat ia jual seharga Rp9.000, sebungkus tahu putih ukuran besar seharga Rp7.500 dan sebungkus tahu putih ukuran kecil seharga Rp6.000.

"Kita masih bertahan untuk pakai harga yang lama, Mas. Soalnya kasihan pelanggan kalau dinaikan (harganya). Kan sekarang semua bahan pokok sudah mahal," kata Watik, sapaan akrabnya kepada IDN Times, Sabtu pagi (4/4/2026). 

Perang antara Iran versus Amerika Serikat dan Israel memang telah berdampak terhadap penyediaan kedelai sebagai bahan baku utama tahu pong Semarang. 

Watik bilang bahwa efek perang di Timur Tengah itu sangat mempengaruhi harga kedelai karena mayoritas masih impor dari Amerika Serikat. 

"Pengaruhnya besar sekali. Apalagi kan kedelai jadi bahan baku terutama. Ya Bismillah semoga (perang Iran) cepat mereda. Walaupun kebetulan saya punya pabrik sendiri, usaha sendiri sama kakak, tapi harus diakui omzetnya jadi menipis, malah cenderung menurun," ungkapnya. 

Watik merupakan salah satu pewaris bisnis tahu pong Semarang yang masih eksis sampai sekarang. Watik meneruskan bisnis tahu pong merek Eco bersama kakak tercintanya, Joko Wiyatno meneruskan produksi tahu pong sepeninggal ayahnya. 

Tak cuma diwarisi sebuah bisnis, Watik dan kakaknya juga mendapat warisan ilmu keuletan, ketekunan dan ketabahan menghadapi fluktuasi harga kedelai yang selalu naik turun. 

Biar usahanya langgeng, keduanya membagi tugas. Joko Wiyatno kebagian menjalankan produksi tahu pong Eco di Kampung Tandang Mrican. Sedangkan Watik kebagian jatah jualan di kios Pasar Peterongan. 

"Di dalam pabrik Tandang Mrican 15 pekerja. Kami tetap berusaha bertahan bagaimanapun kondisinya. Misalnya dengan kondisi sekarang omzet tadinya Rp10 ribu jadi Rp6.000 tetap kami syukuri," akunya. 

Sementara, sejumlah pedagang tempe di Peterongan juga masih menjual dagangan dengan harga lama. Mereka tidak berani menaikan harga. "Tempe (bungkus) godong Rp6000 per enam bungkus. Kondisinya kayak gini tapi kita gak bisa berbuat apa-apa," kata Lastri. 

Harga kedelai naik tiga hari terakhir

Pemilik toko sembako di Pasar Peterongan, Mulyadi mengatakan dalam kondisi normal, kedelai di kiosnya dijual seharga Rp16 ribu per kilogram. 

Tapi sejak tiga hari terakhir harga kedelai sudah merangkak naik hingga seharga Rp18 ribu per kilogram. 

"Pasokannya normal, saya rutin ambil 10 kilo kedelai dari Pasar Pedamaran Johar. Tapi sudah tiga hari ini harganya naik jadi Rp18 ribu. Kalau saya perkirakan, kedelai ini mahal harganya karena dampak impor," terangnya. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Bandot Arywono
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More