Boyolali, IDN Times - Senyum lega akhirnya merekah di wajah Maliyah. Lansia berusia 75 tahun asal Margasari, Kabupaten Tegal itu duduk tenang di atas kursi rodanya di Embarkasi Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Hari itu, Selasa (21/4/2026), penantian panjangnya selama 14 tahun terbayar lunas. Ia tergabung dalam kloter keberangkatan menuju Tanah Suci.
Di balik rasa syukur itu, tersembunyi cerita tentang ketahanan batin yang menguji kesabarannya. Maliyah sebenarnya mendaftar haji belasan tahun lalu bersama sang suami. Namun realitas berkata lain. Suaminya berpulang sebelum panggilan keberangkatan tiba. Kini, ia menunaikan ibadah haji didampingi menantunya, mewujudkan niat suci yang telah lama mereka tanam berdua.
"Hari Senin kemarin sempat opname. Tapi alhamdulillah sudah sembuh, dicek kesehatan tadi sudah bagus," tuturnya pelan namun penuh syukur.
Kisah Maliyah di Embarkasi Donohudan merupakan potret mikro dari makro-realitas penyelenggaraan haji di Indonesia. Antrean yang memakan waktu belasan hingga tiga puluh tahun tidak semata menjadi ujian kesabaran dan fisik jemaah, melainkan ujian finansial berskala luas bagi negara.
Ketika Maliyah menyetor dana porsi awal sebesar Rp25 juta pada 14 tahun lalu, nilai tukar mata uang, harga avtur penerbangan, hingga ongkos sewa pemondokan di Makkah masih berada di angka yang jauh lebih rendah dibandingkan saat ini.
Di titik itulah pertanyaan soal dana haji menjadi penting: bagaimana memastikan nilai setoran jemaah yang mengendap puluhan tahun tidak hancur daya belinya saat hari pelunasan tiba?
