Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nanti Malam Rebo Wekasan! 5 Pantangan Tradisi Jawa Sering Bikin Parno, Tapi Masuk Akal
ilustrasi mata air gunung (pexels.com/Serg Alesenko)
  • Rebo Wekasan adalah malam Rabu terakhir bulan Safar dalam tradisi Jawa, diyakini sebagai waktu turunnya marabahaya sehingga memunculkan berbagai pantangan.
  • Larangan bepergian jauh, keluyuran malam, dan mendatangi perairan dinilai mengajarkan kewaspadaan terhadap kecelakaan, kejahatan, kelelahan, cuaca ekstrem, serta arus berbahaya.
  • Pantangan menggelar hajatan, memulai usaha, atau pindah rumah dikaitkan dengan fokus beribadah, bersedekah, introspeksi, serta pentingnya persiapan dan keputusan yang matang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di masa lalu

Masyarakat Jawa memfokuskan Rebo Wekasan untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan bersedekah melalui slametan.

Bulan Safar

Hajatan pernikahan diyakini sebaiknya dihindari, terutama pada Rebo Wekasan. Warga juga diimbau menjauhi perairan karena perubahan musim atau cuaca ekstrem dapat membuat arus sulit diprediksi.

hari Rebo Wekasan

Memulai usaha baru atau pindah rumah dianggap sebaiknya tidak dilakukan agar keputusan penting tidak diambil terburu-buru di tengah suasana introspeksi dan kewaspadaan.

malam Rebo Wekasan

Warga dianjurkan menghindari perjalanan jauh tanpa keperluan dan keluar rumah hingga larut malam. Pantangan ini dikaitkan dengan upaya mengurangi risiko kecelakaan, kelelahan, penyakit, dan kejahatan.

Nanti Malam

Rebo Wekasan diperingati sebagai tradisi tahunan Jawa yang jatuh pada malam Rabu terakhir di bulan Safar. Dalam kepercayaan lokal, momen ini diyakini sebagai waktu turunnya marabahaya ke bumi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Malam Rebo Wekasan, tradisi Jawa pada malam Rabu terakhir bulan Safar, disertai lima pantangan: bepergian jauh, hajatan besar, memulai usaha atau pindah rumah, keluar malam, serta aktivitas di perairan.
  • Who?
    Masyarakat Jawa menjalankan atau mengenal tradisi ini; anak-anak dan remaja disebut dalam larangan keluar rumah hingga larut malam.
  • Where?
    Tradisi ini dikenal di lingkungan masyarakat Jawa, termasuk Surakarta. Pantangan perairan mencakup sungai, danau, dan laut.
  • When?
    Rebo Wekasan berlangsung pada malam Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah, sebagai tradisi tahunan.
  • Why?
    Dalam kepercayaan lokal, waktu ini dikaitkan dengan turunnya marabahaya. Pantangan juga dikaitkan dengan kehati-hatian, ibadah, sedekah, keselamatan perjalanan, dan menghindari risiko di malam hari maupun perairan.
  • How?
    Warga dianjurkan mengurangi perjalanan tanpa keperluan mendesak, menunda hajatan atau keputusan besar, tidak keluyuran larut malam, serta menghindari aktivitas di wilayah perairan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Malam Rebo Wekasan adalah malam Rabu terakhir bulan Safar bagi orang Jawa. Ada yang percaya banyak bahaya turun. Orang diingatkan tidak pergi jauh, tidak pesta besar, tidak mulai usaha atau pindah rumah, tidak keluar malam, dan tidak berenang. Sekarang pantangan itu dipahami sebagai cara agar orang lebih hati-hati dan aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di balik nuansa mistis Rebo Wekasan, pantangan-pantangan Jawa dapat dibaca sebagai cara turun-temurun merawat kehati-hatian. Pembatasan perjalanan malam, keluyuran, dan aktivitas di perairan menempatkan keselamatan keluarga sebagai perhatian utama, sementara penundaan hajatan atau keputusan besar membuka ruang bagi ibadah, sedekah, persiapan matang, serta pengambilan keputusan yang lebih tenang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nanti Malam Rebo Wekasan! Ini 5 Pantangan Tradisi Jawa yang Sering Bikin Parno (Logikanya Masuk Akal!)

Surakarta, IDN Times — Malam Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan merupakan tradisi tahunan masyarakat Jawa yang jatuh pada malam Rabu terakhir di bulan Safar. Dalam kepercayaan lokal, momen ini diyakini sebagai hari diturunkannya ratusan ribu bahaya atau marabahaya ke bumi.

Tak heran jika turun-temurun beredar berbagai mitos dan pantangan mistis yang kerap membuat orang merasa khawatir alias parno. Namun, jika dibedah secara rasional, pantangan-pantangan leluhur ini sebenarnya mengandung pesan keselamatan dan kehati-hatian yang sangat masuk akal bagi kehidupan sehari-hari.

Berikut 5 pantangan Rebo Wekasan dalam tradisi Jawa lengkap dengan logika rasional di baliknya ala IDN Times. Yuk, simak biar gak paranoid lagi, Lur!

1. Dilarang Bepergian Jauh Jika Tidak Ada Urusan Mendesak

ilustrasi seseorang pergi jauh (pexels.com/Gustavo Fring)

Mitos Jawa menyebutkan bahwa bepergian jauh pada malam Rebo Wekasan berisiko tinggi mengalami nasib sial atau kecelakaan di perjalanan.

Logika Rasional: Mitos ini sejatinya mengajarkan kehati-hatian dan kewaspadaan. Mengurangi perjalanan yang tidak perlu pada malam hari adalah langkah antisipasi rasional untuk menghemat stamina, menghindari bahaya jalanan yang gelap, serta menekan risiko kecelakaan lalu lintas.

2. Hindari Menggelar Pesta Pernikahan atau Hajatan Besar

Ilustrasi pernikahan dalam Islam. (unsplash.com/Khadija Yousaf)

Hajatan pernikahan yang digelar pada bulan Safar, khususnya di hari Rebo Wekasan, sering kali diyakini bakal mendatangkan ketidakharmonisan atau kesialan bagi pasangan pengantin.

Logika Rasional: Di masa lalu, masyarakat Jawa memfokuskan hari Rebo Wekasan untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, serta bersedekah (slametan). Menunda hajatan besar saat hari spiritual adalah bentuk penghormatan agar fokus warga tidak terpecah dan biaya untuk pesta bisa dilihkan untuk bersedekah demi kepentingan sosial.

3. Pantangan Memulai Usaha Baru atau Pindah Rumah

ilustrasi pindah rumah (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Membuka bisnis baru atau berpindah hunian tepat pada hari Rebo Wekasan dianggap bisa membuat usaha sepi pembeli atau rumah baru terasa kurang membawa keberkahan.

Logika Rasional: Secara psikologis, memulai keputusan bisnis atau pindah rumah membutuhkan fokus penuh, persiapan matang, serta kondisi mental yang tenang. Melakukannya di tengah suasana hari yang sarat dengan introspeksi dan kewaspadaan hanya akan meningkatkan risiko pengambilan keputusan terburu-buru yang merugikan.

4. Dilarang Keluar Rumah Terlalu Malam (Keluyuran)

Ilustrasi Pemuda Keluyuran (Pixabay/Mylene2401)

Anak-anak maupun remaja sangat dilarang keluar rumah saat malam Rebo Wekasan karena dipercaya gampang "disapa" atau diganggu oleh makhluk halus dan energi negatif.

Logika Rasional: Larangan ini merupakan bentuk proteksi orang tua terhadap keselamatan keluarga. Keluyuran hingga larut malam rentan memicu kelelahan fisik, terpapar penyakit, hingga risiko menjadi korban kejahatan malam di jalanan.

5. Hindari Berenang atau Mengunjungi Wilayah Perairan

Ilustrasi berenang (pexels.com/Ansey Photography)

Mitos lokal mengimbau warga agar tidak beraktivitas di sungai, danau, atau laut saat Rebo Wekasan karena dipercaya air sedang "minta korban".

Logika Rasional: Bulan Safar kerap bertepatan dengan perubahan musim atau cuaca ekstrem. Menjauhi area perairan yang arusnya sulit diprediksi atau rawan banjir adalah imbauan keselamatan yang sangat logis demi mencegah musibah tenggelam.

Curated For You

Editorial Team

Related Article