Bagi pelaku usaha Sakur sebut lebih terbuka peluang mengembalikan kondisi finansial terutama pelaku UMKM, Selasa (24/3/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat Banyumas mulai menerapkan berbagai strategi bertahan, seperti mengurangi pengeluaran non prioritas, mengandalkan tabungan darurat, menunda pembelian barang sekunder, mencari tambahan penghasilan
Pola ini menunjukkan adanya kesadaran baru dalam pengelolaan keuangan, meskipun belum merata di semua lapisan masyarakat. Ia menilai bahwa fase pasca Lebaran menjadi cermin nyata dari kesiapan finansial masyarakat.
"Euforia Lebaran itu hanya sesaat, tetapi dampaknya bisa panjang. Kunci ketenangan justru ada pada kemampuan mengelola keuangan setelahnya,"ujar Sakur.
Ia menegaskan bahwa kelompok pekerja atau karyawan perlu lebih bijak dalam mengelola tabungan. "Kalau bagi kelas bekerja atau karyawan, ya jangan semuanya tabungan itu dihabiskan,"tegasnya.
Sementara itu, menurutnya, kondisi berbeda dialami oleh pelaku usaha. "Kalau pelaku usaha kan dia sudah mengeluarkan banyak, ada bonus, THR, oleh oleh, dan lain lain. Itu mungkin masih punya harapan, tapi tergantung kembali ke permintaan pasar,” jelasnya.
Sakur juga menyoroti sektor pendidikan, khususnya lembaga swasta, yang dinilai memiliki perencanaan keuangan lebih terstruktur. "Kalau yang sistem pendidikan, khususnya swasta, biasanya sudah punya proyeksi income institusinya,"tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kelompok dengan ketahanan finansial paling stabil umumnya berasal dari sektor sektor strategis.
"Yang aman biasanya orang yang punya ketahanan finansial itu di sektor struktural, misalnya distribusi obat, distribusi makanan, pemangku kebijakan, termasuk program makanan seperti MBG, Mereka sudah punya kelolaan yang pasti,"paparnya.