Semarang, IDN Times - Ketua Asosiasi Petani Cabai Jawa Tengah, Sunan, memastikan ketersediaan komoditas cabai di Provinsi Jawa Tengah tetap aman dari ancaman kekeringan iklim dan gejolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ia memastikan, ketersediaan pasokan aman setidaknya hingga Lebaran 2027. Ketahanan pasokan itu berhasil dicapai melalui penyesuaian strategi pola tanam ke area dataran menengah serta optimalisasi fasilitas distribusi antardaerah.
Pasokan Cabai Jateng Diklaim Aman dari Cuaca Ekstrem dan Kenaikan BBM

1. Siasat Pindah Dataran Hadapi Kekeringan
Ancaman iklim dan kekeringan memang menjadi momok bagi sektor pertanian, namun kelompok petani cabai di Jawa Tengah meresponsnya dengan taktik kearifan lokal. Sunan menjelaskan bahwa pihaknya mulai mengurangi porsi tanam di dataran tinggi saat musim hujan, dan menggeser pusat produksi ke dataran menengah.
"Kalau untuk kekeringan saya jamin aman sampai nanti insyaallah di 2027 Lebaran," katanya di Semarang, Kamis (11/6/2026).
Lewat penyesuaian itu, para petani menargetkan total produksi sekitar 3.000 ton cabai pada rentang Oktober 2026 hingga Februari 2027 yang difokuskan untuk memenuhi kebutuhan di 15 kabupaten/kota.
Menurut Sunan, risiko terbesar yang justru lebih diwaspadai saat ini adalah bencana alam yang sulit diprediksi seperti erupsi Gunung Merapi atau Gunung Slamet.
2. Distribusi tidak goyah oleh isu BBM
Terkait kekhawatiran naiknya biaya logistik akibat fluktuasi harga BBM, Sunan menegaskan, jalur distribusi komoditas cabainya belum mengalami guncangan. Hal itu lantaran kendaraan angkut panen masih menggunakan BBM bersubsidi berbekal surat rekomendasi dari Dinas Pertanian setempat.
"Sementara belum berdampak banyak karena kami dapat fasilitas dari Bank Indonesia (BI) berupa tiga unit mobil. Jadi itu yang kita dorong untuk saling menguatkan antar kabupaten," tegasnya.
Untuk memaksimalkan efisiensi, asosiasi juga menetapkan aturan pengiriman antarkabupaten minimal harus mencapai 1 ton per keberangkatan. Kalaupun ke depan ada kenaikan BBM subsidi, Sunan memperkirakan harga cabai hanya akan terkerek tipis di kisaran Rp1.000 hingga Rp3.000 per kilogram.
3. Harga rawit setan meroket di Pasar
Untuk meminimalisasi risiko pembusukan barang, para petani mempraktikkan metode resi gudang di lapangan di mana cabai langsung dikelola di area tanam. Saat ini, lanjut Sunan, harga cabai merah keriting di tingkat petani tergolong stabil di angka Rp48.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Sebaliknya, cabai rawit merah alias rawit setan terus mencatatkan angka jual yang tinggi.
"Cabai rawit yang bagus (ori) di petani Rp57.000, tapi begitu masuk ke pasar di Semarang mungkin bisa Rp60.000 sampai Rp63.000," rincinya.
Untuk mempertahankan stabilitas harga dan ketersediaan pasokan, Asosiasi Petani Cabai Jawa Tengah akan terus memperketat pengawasan distribusi agar komoditas lokal tidak bocor secara masif ke luar provinsi. Ia berharap, sinergi dengan pemerintah daerah dan pemanfaatan armada logistik bantuan bisa terus dilanjutkan untuk menekan ongkos produksi sekaligus melindungi daya beli masyarakat.