Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pemkot Semarang Gandeng Paralegal Muslimat NU Atasi Kasus Kekerasan

Pemkot Semarang Gandeng Paralegal Muslimat NU Atasi Kasus Kekerasan
Pemerintah Kota Semarang melibatkan Paralegal Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) untuk menekan kasus kekerasan anak dan perempuan. (dok. Pemkot Semarang)

Semarang, IDN Times - Pemerintah Kota Semarang terus berupaya menekan kasus kekerasan anak dan perempuan. Salah satunya dengan melibatkan Paralegal Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengatasi permasalahan tersebut.

1. Muslimat NU bentuk 90 relawan

Pemerintah Kota Semarang melibatkan Paralegal Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) untuk menekan kasus kekerasan anak dan perempuan. (dok. Pemkot Semarang)
Pemerintah Kota Semarang melibatkan Paralegal Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) untuk menekan kasus kekerasan anak dan perempuan. (dok. Pemkot Semarang)

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, pihaknya mengapresiasi langkah Muslimat NU yang telah membentuk 90 relawan paralegal terlatih dan siap terjun langsung memberikan pendampingan hukum dan edukasi kepada korban kekerasan perempuan dan anak.

“Kami senang ya, karena dapat tambahan energi dari Muslimat NU. Senang banget nih kita dan ternyata mereka sudah paralegal resmi. Jadi senang sekali,” ungkapnya usai menghadiri launching program Relawan Paralegal Muslimat NU di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Minggu (20/4/2025).

Pemkot Semarang siap menjalin komunikasi dan kolaborasi lebih intensif dengan jajaran Muslimat NU.

“Karena tidak hanya yang paralegal, tapi yang muslimatnya juga siap membantu. Luar biasa nih," imbuhnya.

2. Pemkot miliki inovasi program ramah anak dan perempuan

Stop kekerasan terhadap perempuan
Stop kekerasan terhadap perempuan

Sejauh ini Pemkot Semarang sendiri telah memiliki infrastruktur dan inovasi program ramah anak dan perempuan, namun pengelolaannya perlu ditingkatkan kembali. Beberapa program inovatif telah berjalan seperti Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) Kota Semarang, Forum Garpu Perak (Gerakan Pria Peduli Perempuan dan Anak), Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM), membentuk relawan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) serta hotline pengaduan kasus.

Meski demikian, Agustina menyoroti pentingnya menambah jumlah tenaga penggerak dalam upaya antisipasi dan pemulihan.

“Kalau di Kota Semarang ada advokasi terhadap korban, kita bekerja sama dengan beberapa Non Government Organization atau NGO. Tapi penggeraknya masih kurang banyak dibanding jumlah korban. Jadi penggeraknya harus lebih banyak lagi,” katanya.

Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menyatakan dukungan penuhnya terhadap Paralegal Muslimat NU dan mendorong inisiatif ini.

3. Para relawan disebar di berbagai daerah

Pemerintah Kota Semarang melibatkan Paralegal Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) untuk menekan kasus kekerasan anak dan perempuan. (dok. Pemkot Semarang)
Pemerintah Kota Semarang melibatkan Paralegal Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) untuk menekan kasus kekerasan anak dan perempuan. (dok. Pemkot Semarang)

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Partisipasi masyarakat seperti Muslimat NU sangat penting. Sebab berdasarkan survei nasional, satu dari empat perempuan dan 51 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan.

‘’Maka, kami mengapresiasi keberadaan paralegal Muslimat NU ini yang telah menginisiasi untuk melakukan pelatihan, training kepada relawan-relawan. Ini adalah inisiatif yang inovatif dan inspiratif yang diharapkan dapat menjadi best practice bagi ormas-ormas lainnya,” pungkasnya.

Program Paralegal Muslimat NU merupakan inisiatif dari Pimpinan Wilayah Muslimat NU Jawa Tengah, yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Para relawan disebar di berbagai daerah termasuk Kota Semarang untuk menjangkau kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, serta santri di pesantren.

Dengan kolaborasi lintas sektor dan penguatan komunitas, Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah berharap dapat menekan kasus kekerasan anak dan perempuan secara signifikan dan menyeluruh.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Udinus Didorong Bikin Ijazah Blockchain Billingual Biar Go Global

30 Apr 2026, 17:56 WIBNews