Pendaftaran Ditutup, SD Negeri di Kota Semarang Masih Sepi Peminat

- Beberapa SD Negeri di Kota Semarang masih kekurangan pendaftar meski SPMB 2026 telah ditutup, bahkan ada sekolah yang hanya menerima kurang dari 10 siswa.
- Dinas Pendidikan menjelaskan penurunan jumlah murid disebabkan perpindahan keluarga muda ke pinggiran kota, sehingga anak usia sekolah di pusat kota semakin sedikit.
- Hingga kini Disdik belum memutuskan penutupan atau merger sekolah dan masih menunggu arahan kementerian terkait kemungkinan pembukaan penerimaan tambahan.
Semarang, IDN Times - Pendaftaran online Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 jenjang Sekolah Dasar Negeri (SDN) telah ditutup pada Jumat (12/6/2026). Kendati demikian, terpantau sejumlah SDN masih belum memenuhi kuota dari kursi yang disediakan atau sepi peminat.
1. Pendaftar tidak lebih dari 10 orang

Berdasarkan data laman resmi SPMB Kota Semarang per Sabtu (13/6/2026), sejumlah sekolah masih kekurangan siswa. Bahkan, ada SDN yang pendaftarnya tidak lebih dari 10 siswa.
Seperti SDN Wonodri yang baru menerima sembilan pendaftar. Selain itu, SDN Karangkidul juga baru memperoleh 10 siswa, lalu SDN Mangunharjo Tugu juga hanya mendapatkan 10 pendaftar.
Kemudian, sejumlah sekolah lain juga mengalami kondisi serupa di antaranya SD N Bugangan 2 dengan 18 pendaftar, SDN Tambakrejo 3 masih 19 pendaftar, SDN Sekayu ada 16 pendaftar, SDN Gabahan dengan 20 pendaftar, SDN Randugarut masih 19 pendaftar, SDN Petompon 3 ada 17 pendaftar, SDN Plalangan 2 dengan 11 pendaftar. Demikian juga, SDN Gisikdrono 3 yang membuka dua rombongan belajar (rombel) baru memperoleh 34 siswa.
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan mengatakan, fenomena sekolah kekurangan siswa sebenarnya sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada sekolah-sekolah yang berada di kawasan tengah kota.
2. Perubahan pola tempat tinggal keluarga

Menurutnya, perubahan pola tempat tinggal keluarga muda menjadi salah satu penyebab utama menurunnya jumlah calon siswa di wilayah tersebut.
“Keluarga muda ini lebih memilih tinggal di pinggir kota karena harganya lebih murah,” ungkapnya, Sabtu (13/6/2026).
Perpindahan penduduk ke wilayah pinggiran membuat jumlah anak usia sekolah di kawasan pusat kota ikut berkurang. Dampaknya, sejumlah SD negeri di area tersebut kesulitan memenuhi kuota peserta didik baru setiap tahun.
3. Disdik belum putuskan penutupan atau merger sekolah

Meski beberapa sekolah terancam kekurangan murid, Dinas Pendidikan Kota Semarang belum mengambil keputusan terkait penutupan maupun penggabungan (merger) sekolah hingga saat ini.
Aji menerangkan, pihaknya masih mempertimbangkan banyak aspek, terutama akses pendidikan bagi warga sekitar yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Kasihan warga yang ekonominya belum cukup kalau ditutup, nanti sekolahnya lebih jauh, ini yang kami pertimbangkan,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa wilayah yang hanya memiliki satu sekolah dasar negeri sehingga penutupan sekolah berpotensi menyulitkan masyarakat.
4. Masih tunggu arahan kementerian

Dinas Pendidikan Kota Semarang juga masih menunggu arahan dari Kementerian Pendidikan terkait kemungkinan pembukaan tambahan penerimaan siswa di luar jadwal resmi SPMB.
Langkah tersebut dipertimbangkan agar kursi yang masih kosong tidak terbuang sia-sia.
“Kalau memang diperbolehkan, nanti akan kita tempuh, karena sayang kalau ada kuotanya dibiarkan kosong,” tandas Aji.
















