Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perang WA Grup Jelang Rebo Wekasan, Cara Halus Respon Broadcast Parno
Ilustrasi memanfaatkan fitur broadcast (pexels.com/Vladislav Šmigelski)
  • Menjelang Rebo Wekasan, broadcast WhatsApp keluarga berisi kepanikan, klaim penolak bala, dan informasi tak jelas kerap memicu perdebatan antar-generasi.
  • Respons yang disarankan ialah memvalidasi niat baik pengirim sebelum memberi edukasi, lalu mengalihkan obrolan ke doa, sedekah, dan menjaga kesehatan.
  • Untuk mengoreksi informasi sensitif, sertakan rujukan lembaga tepercaya atau hubungi pengirim secara pribadi agar tidak mempermalukan mereka di grup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
bulan Safar

Menjelang tradisi Rebo Wekasan, grup WhatsApp keluarga kerap dibanjiri broadcast bernada panik dan klaim penolak bala. IDN Times menyarankan respons halus untuk mengoreksi pesan tanpa memicu konflik keluarga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pesan berantai menjelang Rebo Wekasan di bulan Safar berisi kepanikan, peringatan bahaya berlebihan, dan klaim penolak bala yang sumbernya tidak jelas beredar di grup WhatsApp keluarga.
  • Who?
    Anggota keluarga, terutama orang tua atau kerabat sepuh sebagai pengirim pesan, serta generasi muda yang ingin menanggapi atau mengoreksi informasi tersebut.
  • Where?
    Situasi terjadi dalam grup WhatsApp keluarga; pembahasan disampaikan dari Semarang.
  • When?
    Menjelang tradisi Rebo Wekasan yang berlangsung pada bulan Safar.
  • Why?
    Broadcast umumnya disebarkan karena rasa sayang dan kepedulian terhadap keselamatan keluarga, tetapi sebagian memuat informasi yang kurang tepat atau berpotensi menyesatkan.
  • How?
    Tanggapan dapat dilakukan dengan memvalidasi niat pengirim, mengarahkan pada doa, sedekah, dan kesehatan, membagikan rujukan resmi, atau menghubungi pengirim secara pribadi untuk pesan yang berisiko bahaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menjelang Rebo Wekasan, grup WhatsApp keluarga sering dapat pesan yang bikin takut. Pesan itu kadang tidak jelas benar atau tidak. Anak muda bisa jawab dengan lembut. Mereka bisa bilang terima kasih, lalu ajak berdoa, sedekah, dan jaga badan. Kalau pesannya bahaya, mereka bisa bicara pribadi dengan pengirimnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menjelang Rebo Wekasan, percakapan keluarga dapat menjadi ruang untuk memadukan kepedulian antargenerasi dengan sikap yang lebih tenang. Pengakuan atas niat baik pengirim pesan, disertai rujukan terpercaya dan ajakan pada doa, sedekah, serta menjaga kesehatan, membuka cara berkomunikasi yang menghormati perasaan tanpa membiarkan kecemasan berlebihan menguasai grup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times — Menjelang tradisi Rebo Wekasan di bulan Safar, suasana di grup WhatsApp keluarga biasanya mendadak memanas. Pesan berantai (broadcast) berisi narasi kepanikan (parno), peringatan marabahaya yang dilebih-lebihkan, hingga klaim penolak bala yang tidak jelas sumbernya kerap membanjiri obrolan.

Bagi generasi muda, membiarkan pesan hoaks atau panik berkeliaran rasanya gemas. Namun, merespons atau mengoreksinya secara frontal bisa dianggap tidak sopan, merusak suasana kekeluargaan, hingga bikin orang tua atau kerabat sepuh tersinggung.

Supaya kedamaian grup keluarga tetap terjaga, berikut 4 cara halus merespons broadcast parno Rebo Wekasan tanpa bikin orang tua sakit hati ala IDN Times. Yuk, simak biar gak ada musuhan di WA, Lur!

1. Gunakan Formula "Validasi Dulu, Edukasi Kemudian"

ilustrasi WhatsApp (Unsplash/Amanz)

Jangan langsung menghakimi atau menyalahkan isi pesan yang dikirim oleh orang tua.

Pahami bahwa orang tua menyebarkan broadcast tersebut umumnya karena rasa sayang dan kepedulian pada keselamatan keluarga.

"Matur nuun info dan pengingatnya nggih, Pak/Bu. Niatnya baik banget untuk saling menjaga. Tapi setelah dicek lagi, ternyata ada beberapa poin penjelasannya yang kurang tepat..."

2. Alihkan Isu ke Tindakan Positif yang Lebih Masuk Akal

ilustrasi aplikasi WhatsApp pada smartphone (pixabay.com/arivera)

Daripada berdebat soal mitos kesialan atau cerita mistis, arahkan fokus percakapan pada hal-hal positif dan bernilai ibadah.

Ajak keluarga untuk berfokus pada amalan umum yang dianjurkan, seperti bersedekah, berdoa memohon keselamatan, atau menjaga kesehatan.

"Daripada cemas mikirin mitosnya, mending hari ini kita perbanyak sedekah dan doa keselamatan bareng-bareng ya. Kebetulan cuaca lagi pancaroba, yuk tetap jaga fisik dan minum air putih yang cukup!"

3. Kirimkan Klasifikasi atau Artikel Resmi dari Sumber Terpercaya

ilustrasi aplikasi WhatsApp (pexels.com/Image Hunter)

Daripada memakai argumen pribadi yang berisiko memicu debat kusir, sertakan rujukan dari lembaga keagamaan atau medis resmi.

Kirimkan tangkapan layar atau tautan berita dari lembaga resmi (seperti fatwa/penjelasan MUI, NU, Muhammadiyah, atau rilis medis).

"Ini ada penjelasan adem dari para ulama/pihak kesehatan terkait Rebo Wekasan, izin berbagi nggih biar kita semua makin tenang dan mantap ibadahnya..."

4. Manfaatkan Jalur Pribadi (Japri) Jika Meneruskan Pesan Sensitif

ilustrasi logo aplikasi WhatsApp (pixabay.com/Webster2703)

Mengoreksi kesalahan orang tua di depan banyak anggota keluarga di grup umum bisa merusak harga diri (gengsi) mereka.

Jika isi broadcast sangat menyesatkan atau berpotensi bahaya (seperti ramuan obat liar), hubungi pengirim secara pribadi (japri).

Sampaikan alasanmu dengan sopan secara personal tanpa perlu memojokkan mereka di dalam grup keluarga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article