Pemakaman Raja Keraton Surakarta, Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII, di Komplek Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Kabupaten Bantul, Rabu (5/11/2025). (IDN Times/Daruwaskita)
Selain persoalan suksesi, Gusti Moeng turut menyinggung sikap keponakannya, G.K.R.P. Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, yang berada di kubu Purboyo. Ia mengaku heran dengan perubahan sikap tersebut.
“Saya juga heran dengan keponakan saya anaknya Sinuhun kangmas yang paling tua itu. Dia itu kok musuhin saya, musuhin LDA itu, terus tujuannya itu apa ? Coba panjenengan rasakan, karepe kui opo (maunya apa) ? Kok bisa dia memusuhi saya, aneh banget kan ya,” tandasnya.
Ia menambahkan bahwa sejak kecil keponakannya tersebut berada dalam bimbingannya.
“Sejak kecil itu tak bimbing kok. Nggak tahu diiming imingin apa sama si genduk itu. Itu yang sangat apa ya. Pada titik akhir kok dia kepleset. Kepleset dia itu,” keluhnya.
Polemik “raja kembar” di Keraton Surakarta sendiri mencuat setelah wafatnya PB XIII pada awal November 2025. Menjelang prosesi pemakaman, kubu GKR Pakubuwono XIII Hangabehi melantik KGPH Purboyo sebagai PB XIV.
Namun, langkah tersebut mendapat penolakan dari LDA dan sebagian keluarga besar keraton. Pada 13 November 2025, kubu LDA kemudian menobatkan KGPH Hangabehi sebagai PB XIV versi mereka, sehingga memunculkan dualisme kepemimpinan di lingkungan keraton hingga kini.