Pekerja menyelesaikan pembangunan hunian tipe 30/60 di sebuah proyek perumahan subsidi Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026). Lewat dukungan pembiayaan yang konsisten dari Bank BTN, roda industri properti lokal terus berputar untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi buruh perempuan dan pekerja informal. (IDN Times/Dhana Kencana)
Rantai bisnis perumahan bernilai triliunan rupiah itu tentu tidak bisa berlari sendirian tanpa dukungan kebijakan pemerintah. Memahami hal itu, Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menegaskan bahwa penyediaan hunian adalah tanggung jawab bersama.
Sebagai langkah konkret, pada November 2025, Pemkab Kendal menggandeng Bank BTN meluncurkan Klinik Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
“Negara bertanggung jawab untuk menyediakan hunian yang layak. Namun hal tersebut bukanlah tugas satu pihak saja, melainkan upaya kolektif yang memerlukan sinergi kuat antara pemerintah, swasta, perbankan, dan seluruh pemangku kepentingan terkait. kolaborasi dengan PT BTN menjadi langkah strategis untuk mempercepat realisasi pembangunan hunian layak bagi masyarakat,” kata Dyah saat penandatanganan MoU dengan BTN di Hotel Sae Inn Kendal, Rabu (5/11/2025).
Layanan digital yang terhubung dengan basis data tunggal pemerintah itu dibentuk untuk memastikan KPR bersubsidi benar-benar tepat sasaran. Selain itu, platform itu juga untuk mempermudah urusan perizinan bagi pengembang. Tujuannya satu, yaitu menekan angka kekurangan rumah (backlog) di Kendal.
Sebab, tantangan untuk penyediaan rumah memang tidak main-main. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD REI Jateng di Semarang, Rabu (11/2/2026) membeberkan angka kebutuhan rumah di wilayahnya pada awal 2025 sempat menyentuh 1,33 juta unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 274.514 unit berhasil dibangun, sehingga menyisakan sekitar 1,058 juta unit pada awal tahun 2026.
Untuk mengejar ketertinggalan itu, peran perbankan menjadi krusial. Menjawab tantangan tersebut, BTN terus tancap gas.
Secara rekam jejak, bank pelat merah itu sudah menyalurkan kredit untuk 5,97 juta unit rumah senilai Rp555,11 triliun sejak tahun 1976. Khusus untuk KPR subsidi, BTN mendominasi dengan membiayai 4,4 juta unit rumah senilai Rp300,99 triliun.
Pencapaian positif itu terus berlanjut. Mengawali tahun 2026, data BP Tapera mencatat BTN kembali memimpin penyaluran KPR Sejahtera terbanyak secara nasional dengan 4.160 unit hanya pada bulan Januari. Posisi itu jauh meninggalkan bank-bank lain. Maka tidak heran, untuk tahun 2026, BTN dipercaya mengelola kuota 172 ribu unit dari total 350 ribu unit jatah nasional.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu menyatakan, komitmen panjang itu bukanlah sebuah kebetulan.
“Sejak KPR pertama disalurkan pada 1976, pembiayaan perumahan sudah menjadi jati diri (DNA) perusahaan kami,” katanya sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Selasa (17/2/2026).
Komitmen di tingkat pusat itu langsung diterjemahkan ke daerah. Di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), penyaluran KPR subsidi sepanjang tahun 2025 sukses menembus 10.239 unit, naik 2.400 unit dari tahun sebelumnya. Menariknya, serapan tertinggi justru terjadi di Kabupaten Kendal, yakni sebanyak 2.206 unit.
Memasuki tahun 2026, target penyaluran di wilayah itu pun dinaikkan menjadi 12.395 unit.
Kepala Kanwil BTN Jateng DIY, Fitri Novianti Ratna Kusuma mengatakan, pihaknya terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah dan asosiasi pengembang. Tujuannya untuk memastikan ketersediaan rumah sejalan dengan urusan perizinan yang sah dan bebas masalah hukum (clean and clear).
“BTN menggandeng instansi pemerintahan, industri, dan universitas untuk memperluas pasar KPR Subsidi. Kami tidak hanya menunggu permohonan, tetapi juga menjemput bola untuk menciptakan pasar baru. Kami juga memperluas akses KPR bagi pekerja informal sebagai bagian dari upaya pemerataan akses keuangan di sektor perumahan,” jelas Fitri kepada IDN Times, Senin (23/2/2026).
Inisiatif yang dilakukan BTN itu nyatanya gayung bersambut dengan ambisi pemerintah pusat. Kehadiran Program 3 Juta Rumah yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto--dengan dukungan anggaran Rp57,7 triliun pada 2026--menjadi pendorong utama yang makin memperkuat kerja sama tersebut.
Di tingkat eksekusi, ambisi besar itu diwujudkan melalui kolaborasi manis di Kabupaten Kendal: Pemkab setempat membebaskan pajak pembelian rumah atau Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) bagi masyarakat kecil, sementara BTN hadir sebagai penjamin ketersediaan dananya.
Seorang buruh bangunan menyelesaikan pengerjaan unit rumah bersubsidi di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026). Sinergi antara pengembang dan Bank BTN dalam ekosistem perumahan nasional bertujuan untuk mempercepat penyediaan hunian layak dan terjangkau bagi para pekerja di sekitar kawasan industri. (IDN Times/Dhana Kencana)
Kolaborasi solid antara pemerintah dan perbankan itulah yang membuat para pelaku industri properti bisa bernapas lega. Ketua Umum Apersi (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia), Junaidi Abdillah menilai peran Bank BTN sudah tidak tergantikan.
"Peran bank sangat vital. Bukan hanya sebagai penyedia kredit bagi pembeli, tetapi juga membantu pengembang menjaga perputaran modal agar usaha tetap berjalan. Mayoritas pembiayaan perumahan subsidi, baik untuk konsumen maupun pengembang, masih sangat mengandalkan BTN," paparnya.
Hal serupa disampaikan Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Joko Suranto. Ia menyebut BTN sebagai pilar utama penyediaan rumah rakyat.
“Dukungan pembiayaan yang konsisten ini membuat roda industri perumahan tetap berputar dan pada akhirnya menggerakkan roda perekonomian nasional,” pungkas Joko.