Semarang, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengklaim tidak akan memberhentikan para guru honorer yang bekerja di kabupaten/kota.
Penegasan itu di tengah munculnya isu penataan tenaga honorer alias non-ASN yang mulai berlaku efektif pada 2027.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menuturkan pihaknya tetap menjaga keberlangsungan para guru honorer agar tetap bisa mengajar, sambil menunggu kebijakan resmi dari pemerintah pusat.
Menurutnya, pemerintah daerah masih menunggu regulasi lanjutan dari pemerintah pusat, khususnya terkait penataan guru honorer dan peluang pembukaan formasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Gus Yasin mengatakan, aspirasi terbesar para guru non ASN saat ini adalah adanya pengangkatan kembali melalui jalur PPPK. Namun, kewenangan pembukaan formasi tetap berada di pemerintah pusat, sementara daerah bertugas mengusulkan kebutuhan sesuai kondisi di lapangan.
"Kita hanya melaksanakan nanti bagaimana keputusan dari pemerintah pusat,” ujarnya usai paripurna di Gedung DPRD Jateng, Selasa (26/6/2026).
Saat ditanya apakah Pemprov Jateng akan kembali mengajukan formasi guru PPPK, ia menegaskan pihaknya siap mengusulkan apabila pemerintah pusat membuka rekrutmen baru.
“Kalau memang dibuka kita ajukan lagi,” tegasnya.
Sebagai informasi, mencuatnya isu ini seiring terbitnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 tentang Penugasan Guru non-ASN pada satuan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Dalam aturan tersebut disebutkan penugasan guru non-ASN berlaku hingga 31 Desember 2026 sebagai bagian dari implementasi Undang-Undang ASN 2023.
Meski demikian, pemerintah pusat menegaskan kebijakan tersebut bukan berarti penghentian massal guru honorer.
