Semarang, IDN Times - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi merespon lesunya aktivitas pelaku usaha UMKM karena terdampak semakin merosotnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika.
Ia mengklaim terus memperkuat pendampingan terhadap pelaku UMKM. Sebab, UMKM menjadi salah satu penopang utama ekonomi Jawa Tengah sehingga perlu terus dibina agar lebih tahan menghadapi dinamika ekonomi. Apalagi, jumlah UMKM di provinsi ini mencapai 4,2 juta.
“UMKM merupakan backbone-nya ekonomi Provinsi Jawa Tengah, yang menjadi andalan kita, sehingga selalu kita bina,” ujar Luthfi disela acara paripurna DPRD Jateng di Gedung Berlian Semarang Senin (8/7/2026).
Bersarnya jumlah itu, menurutnya menjadi kekuatan penting dalam menjaga ekonomi daerah. Karena itu, pemerintah tidak hanya mendorong pelaku usaha bertahan, tetapi juga naik kelas melalui akses permodalan, pendampingan, pengemasan produk, hingga pemasaran.
Selain modal, Pemprov Jateng juga mendorong penguatan kualitas produk agar UMKM lebih kompetitif.
Pendampingan tersebut mencakup pembenahan packaging, pemasaran, hingga peluang masuk ke rantai ekspor.
Soal dampak pelemahan rupiah terhadap bahan baku, Luthfi mengatakan, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri, butuh kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari
sektor jasa keuangan, perbankan, pelaku usaha, dan lainnya.
“Kita harus gandeng BI, kemudian OJK, kemudian bidang usaha, kemudian bank di tempat kita. Jadi bersama-sama untuk bisa menyelesaikan,” tuturnya.
