Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Strategi Warga Krapyak Pekalongan Bertahan dari Banjir Rob

Strategi Warga Krapyak Pekalongan Bertahan dari Banjir Rob
Ilustrasi banjir rob yang masih menggenangi jalur Pantura. (IDN Times/Dhana Kencana)
Intinya Sih
  • Warga Krapyak Pekalongan menghadapi banjir rob harian dengan genangan 30–80 sentimeter yang merusak infrastruktur dan menurunkan kualitas hidup selama lebih dari satu dekade.
  • Mereka mengembangkan tiga strategi adaptasi mandiri: meninggikan rumah, membentuk sistem gotong royong 'siskamling rob', serta beralih ke usaha budidaya bandeng, tambak garam, dan produksi kue basah.
  • Kendala utama berupa keterbatasan ekonomi dan dukungan pemerintah yang belum konsisten mendorong rekomendasi pembentukan Forum Siaga Rob serta skema dana bergulir untuk memperkuat adaptasi komunitas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Pekalongan, IDN Times - Warga pesisir di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, tidak menyerah begitu saja pada genangan air laut. Mengingat banjir rob melanda wilayah itu lebih dari 10 tahun, masyarakat setempat berinisiatif membangun ketahanan wilayah secara mandiri.

Banjir Rob Rendam Sejumlah Wilayah di Pesisir Utara Jawa Tengah
Banjir Rob Rendam Sejumlah Wilayah di Pesisir Utara Jawa Tengah

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan pada 2024, sekitar 90 persen wilayah Kelurahan Krapyak tergenang saat air laut pasang tinggi. Kedalaman genangan mencapai 30 hingga 80 sentimeter dan terjadi hampir setiap hari. Kondisi itu merusak infrastruktur, menurunkan nilai properti, serta mengganggu kesehatan masyarakat.

Peneliti dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Santi Inderawati menjelaskan, proses adaptasi masyarakat terhadap bencana berjalan dinamis. Melalui riset lapangan pada Agustus hingga September 2025, Santi memaparkan cara warga bertahan.

"Masyarakat Krapyak mengembangkan tiga strategi adaptasi secara mandiri," ungkap Santi merujuk pada temuan risetnya, Selasa (2/6/2026).

Tiga Bentuk Adaptasi Warga Krapyak

IMG_2630.jpeg
Ilustrasi sejumlah kendaraan menerjang banjir rob yang menerjang Pantura. (IDN Times/Dhana Kencana)

Warga setempat menerapkan tiga langkah nyata untuk menghadapi tantangan alam ini, meliputi:

1. Adaptasi Fisik

Sebanyak 78 persen responden merogoh kocek mandiri sekitar Rp8 juta hingga Rp15 juta untuk meninggikan lantai rumah 50 sampai 120 sentimeter menggunakan bata dan cor beton. Beberapa rumah bahkan membangun jalan setapak beton di dalam area hunian agar penghuni tetap bisa beraktivitas saat air masuk.

2. Adaptasi Sosial

Ikatan kebersamaan melahirkan sistem gotong royong bernama "siskamling rob". Warga bergantian memantau pasang air laut, membersihkan saluran air, dan saling bantu saat proses evakuasi barang.

3. Adaptasi Ekonomi

Para nelayan menyiasati kondisi dengan beralih mengelola budidaya bandeng dan tambak garam pada musim rob. Di sisi lain, kelompok ibu rumah tangga memproduksi kue basah untuk dijual ketika jalanan tergenang. Langkah ini mengurangi ketergantungan warga pada pendapatan melaut yang tidak menentu.

Tantangan dan Solusi ke Depan

Aktivitas warga terdampak banjir rob (ANTARA FOTO/Aji Styawan)
Aktivitas warga terdampak banjir rob (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Kekuatan modal sosial yang turun-temurun, peran aktif tokoh masyarakat bersama karang taruna, serta pemahaman warga terhadap pola pasang surut menjadi penyokong utama keberhasilan adaptasi tersebut.

Meski begitu, warga masih menghadapi kendala besar. Keterbatasan ekonomi menjadi hambatan utama karena 65 persen warga berpenghasilan di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Dukungan kebijakan pemerintah yang belum konsisten dan minimnya pendampingan teknis untuk adaptasi ramah lingkungan juga menjadi catatan tersendiri.

Melihat kondisi tersebut, solusi satu arah dari pemerintah (top-down) dinilai tidak cukup menuntaskan masalah. Santi menyarankan beberapa rekomendasi kebijakan yang lebih inklusif.

"Penguatan adaptasi berbasis komunitas memerlukan kelembagaan formal," jelasnya di hasil riset itu.

Ia ikut merekomendasikan pembentukan Forum Siaga Rob tingkat kelurahan dengan Surat Keputusan Wali Kota, penyediaan skema dana bergulir mikro untuk renovasi elevasi rumah, dan integrasi pengetahuan lokal ke dalam program pelatihan BPBD.

Share Article
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana

Latest News Jawa Tengah

See More