Semarang, IDN Times — Menyandang gelar "Haji" atau "Hajjah" sepulang dari Tanah Suci tentu menjadi kebanggaan sekaligus amanah spiritual yang besar bagi seorang Muslim. Namun, di tengah masyarakat, tidak jarang kita menemui fenomena batin yang kontradiktif. Ada oknum yang sudah menunaikan rukun Islam kelima, tetapi sepulang ke tanah air perilakunya tidak berubah; masih sering menyakiti perasaan tetangga, pamer, atau bahkan memelihara penyakit hati seperti iri dan dengki (hasad).
Lantas, bagaimana pandangan hukum Islam terhadap ibadah haji seseorang yang masih sengaja menyakiti sesama dan memelihara sifat iri? Serta apa saja karakteristik haji yang diterima (mabrur) sesuai petunjuk dalil?
Yuk, simak ulasan mendalam mengenai hukum haji bagi orang yang masih suka menyakiti sesama serta ciri-ciri haji mabrur menurut hadis dan ulama berikut ini, Lur!
