Pandangan masyarakat lokal dan wisatawan terhadap dark tourism beragam. Beberapa wisatawan tertarik pada cerita mistis atau mitos yang berkembang di lokasi dark tourism, sementara yang lain datang untuk mendalami sejarah dan memahami konteks tragedi yang terjadi.
Dark tourism kini diakui sebagai bentuk wisata yang unik dan menarik, terutama bagi generasi milenial Indonesia. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai mengenali dan menghargai sejarah kelam sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya. Banyak destinasi dark tourism di Indonesia berfungsi tidak hanya sebagai pengingat tragedi, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan informasi tentang bencana dan peristiwa penting di masa lalu.
Rahmattullah Harianja kembali menekankan pentingnya memadukan kedua sisi tersebut dalam pengembangan dark tourism agar destinasi tersebut dapat menarik berbagai jenis wisatawan. Sebab, tidak semua orang merasa nyaman dengan konsep dark tourism.
Beberapa merasa terganggu atau tidak nyaman ketika mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan kematian atau tragedi. Hal tersebut menunjukkan perlunya penanganan yang hati-hati dan penuh hormat dalam mempromosikan dan mengelola destinasi dark tourism.
Lawang Sewu (unsplash.com/MUHAMMAD FAJRI YOANDHIKA)
Lawang Sewu di Semarang merupakan contoh sukses dark tourism yang menarik. Sebagai bekas kantor jawatan perkeretaapian yang telah direstorasi pada tahun 2011, Lawang Sewu memiliki sejarah yang kuat, khususnya terkait penggunaan ruang bawah tanahnya sebagai penjara bagi tawanan perang.
Pihak pengelola sering mengadakan acara dan sosialisasi tentang heritage di Lawang Sewu, menjadikannya semakin menarik bagi wisatawan. Contohnya adalah night tour yang menjadi daya tarik baru, terutama bagi kalangan remaja saat musim liburan. Manajer Historical Museum Building and Museum KAI Wisata, Otnial Eko mengatakan, program night tour bertujuan untuk menarik minat wisatawan dengan menawarkan pengalaman yang berbeda.
“Kami mengonsep acara wisata malam untuk menghilangkan kesan angker di Lawang Sewu dan menonjolkan sisi sejarahnya,” katanya.
Meskipun program seperti night tour dapat membantu mengubah persepsi negatif tentang situs bersejarah itu, penting untuk diingat bahwa dark tourism harus diiringi dengan edukasi dan penghormatan terhadap sejarah serta korban.
Salah satu contoh bagaimana dark tourism dapat memberikan pengalaman edukatif sekaligus menyenangkan adalah kunjungan Branson Hee, seorang atlet muda bulu tangkis asal Malaysia, ke Lawang Sewu. Usai bertanding di ajang 8th Asian School Badminton Championship (ASBC) 2024, Branson bersama puluhan atlet lainnya diajak dalam sebuah program budaya oleh panitia yang memperkenalkan situs-situs wisata utama di Semarang, termasuk Lawang Sewu.
“Saya sangat senang bisa mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Semarang bersama teman-teman dari negara lain. Ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan,” ujarnya pada Minggu, (1/9/2024).
Kunjungan itu menunjukkan bagaimana dark tourism dapat menjadi sarana efektif untuk mengedukasi wisatawan internasional tentang sejarah lokal, sekaligus menciptakan kenangan yang berkesan.