Wajah Baru Stasiun Tawang Semarang, Ini yang Berubah Usai Revitalisasi

- Revitalisasi tahap pertama Stasiun Semarang Tawang diresmikan Presiden Prabowo Subianto setelah 330 hari pengerjaan, memperbarui fasilitas sambil mengembalikan fasad dan ornamen berdasarkan dokumentasi lama.
- Stasiun cagar budaya yang beroperasi sejak 1914 ini mencatat 3.862.127 aktivitas penumpang sepanjang 2025 dan 2.152.894 aktivitas pada semester pertama 2026, dengan rata-rata 34 perjalanan kereta per hari.
- Pemkot Semarang berencana mengintegrasikan Stasiun Tawang dengan Kota Lama, Pecinan, Kampung Melayu, UMKM, ekonomi kreatif, dan transportasi perkotaan, serta mendukung kesiapan MTQ Nasional XXXI 2026.
Semarang, IDN Times - Wajah Stasiun Semarang Tawang berubah setelah revitalisasi tahap pertama rampung. Meski fasilitasnya diperbarui, karakter bangunan berusia lebih dari satu abad itu dipertahankan dengan mengembalikan sejumlah elemen arsitektur berdasarkan dokumentasi lama.
Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Stasiun Semarang Tawang diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto, Kamis (30/7/2026). Pekerjaan selama 330 hari tersebut menyasar fasad, hall utama, sisi barat dan timur bangunan, ruang tunggu, ruang VIP, selasar, hingga sistem drainase.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menilai revitalisasi Stasiun Tawang tidak hanya berkaitan dengan fasilitas transportasi. Stasiun yang mulai beroperasi pada 1914 tersebut juga menjadi bagian penting dari identitas Kota Semarang.
1. Ornamen lama Stasiun Tawang dikembalikan

Stasiun Semarang Tawang dibangun Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1911 dan mulai beroperasi pada 1914. Berusia lebih dari 112 tahun, bangunan tersebut menjadi salah satu cagar budaya penting di Kota Semarang.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin mengatakan, revitalisasi dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai sejarah bangunan. Fasad, hall utama, sisi barat dan timur, hingga sejumlah ornamen dikembalikan dengan mengacu pada dokumentasi dan foto lama.
‘’Selain bagian arsitektur, revitalisasi tahap pertama mencakup ruang tunggu, ruang VIP, selasar, serta perbaikan sistem drainase,’’ ujarnya.
Sepakat dengan Bobby, Agustina juga menilai modernisasi fasilitas transportasi tidak harus menghilangkan jejak sejarah bangunan.
“Stasiun Tawang bukan sekadar simpul transportasi. Tempat ini adalah bagian dari identitas Kota Semarang. Selama lebih dari satu abad, bangunan ini menjadi saksi perjalanan perdagangan, mobilitas masyarakat, hingga perkembangan Semarang sebagai kota pelabuhan dan pusat ekonomi di Pulau Jawa,” katanya.
2. Lebih dari 2,1 juta aktivitas penumpang hanya dalam enam bulan

Dari balik statusnya sebagai bangunan bersejarah, Stasiun Tawang tetap menjadi salah satu simpul transportasi dengan mobilitas tinggi di Jawa Tengah. Sepanjang 2025, stasiun tersebut mencatat 3.862.127 aktivitas naik dan turun penumpang.
Sedangkan, hanya dalam enam bulan pertama 2026, jumlahnya sudah mencapai 2.152.894 aktivitas penumpang. Stasiun Tawang juga melayani rata-rata 34 perjalanan kereta api setiap hari.
Tingginya mobilitas tersebut menjadi salah satu alasan peningkatan fasilitas dibutuhkan tanpa menghilangkan karakter bangunan.
“Besarnya jumlah penumpang menunjukkan bahwa Stasiun Tawang bukan hanya aset sejarah, tetapi juga infrastruktur strategis yang menopang aktivitas ekonomi Kota Semarang,” ujar Agustina.
Menurutnya, peningkatan kenyamanan transportasi dapat memberikan efek lanjutan bagi perdagangan, jasa, perhotelan, kuliner, UMKM, hingga industri kreatif.
3. Stasiun Tawang akan diintegrasikan dengan kawasan heritage

Lokasi Stasiun Tawang yang berdekatan dengan Kota Lama juga menjadi modal untuk mengembangkan sektor pariwisata Semarang.
Pemkot berencana memperkuat integrasi Stasiun Tawang dengan Kota Lama, Pecinan, Kampung Melayu, pusat UMKM, kawasan ekonomi kreatif, hingga transportasi perkotaan.
Dengan skema tersebut, wisatawan yang tiba menggunakan kereta api diharapkan tidak hanya menjadikan stasiun sebagai tempat transit, tetapi juga terhubung langsung dengan destinasi dan pusat aktivitas ekonomi di sekitarnya.
“Bagi Kota Semarang, pesan Presiden tersebut memiliki makna yang sangat relevan. Kemajuan tidak boleh memutus hubungan dengan sejarah. Justru warisan budaya harus menjadi modal untuk membangun kota yang semakin maju, inklusif, dan berdaya saing,” kata Agustina.
Revitalisasi Stasiun Tawang juga diproyeksikan mendukung kesiapan Semarang menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXI 2026, ketika ribuan tamu dari berbagai daerah diperkirakan datang ke kota tersebut.

















